Terjadi eskalasi di Selat Hormuz. Dikabarkan, kapal tanker Uni Emirat Arab (UEA) diserang. Ada rumor menyebut itu adalah perbuatan Iran. Namun, Teheran membantah dan bahkan menuding Amerika Serikat (AS) justru yang berada di balik insiden itu.
Semarak co – Kapal tanker minyak milik negara teluk, UEA itu menjadi sasaran di area Selat Hormuz, sebelah utara pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab seperti dilansir Arrahmah.id dari media Arab, Al Jazeera pada hari Selasa 5 Mei 2026.
Ketegangan keamanan di kawasan Teluk kian meningkat tajam pada hari Senin (4/5/2026), setelah sebuah kapal tanker minyak milik negara Timur Tengah, UEA bernama ADNOC, dilaporkan diserang oleh dua pesawat nirawak (drone) saat melintasi Selat Hormuz.
Atas serangan terhadap kapal tersebut, tentu saja memercikkan reaksi keras dari pihak UEA, dimana otoritas UEA mengecam tindakan tersebut sebagai aksi pembajakan yang mengancam stabilitas regional dan keamanan energi global.
Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Nomor 2817 mengenai kebebasan navigasi laut.
Selain insiden kapal minyak tanker tersebut, Kementerian Pertahanan UEA melaporkan bahwa mereka telah mencegat 15 rudal dan 4 pesawat nirawak yang diluncurkan dari arah Iran, yang mengakibatkan tiga orang terluka.
Sebelumnya, badan operasi perdagangan maritim Inggris (UKMTO) telah melaporkan soal ini, bahwa sebuah kapal tanker minyak telah terkena proyektil tidak dikenal di perairan 145 kilometer di wilayah utara pelabuhan Fujairah.
Bantahan Iran Terhadap Insiden
Di sisi lain, seorang pejabat militer Iran yang dikutip oleh televisi pemerintah Iran membantah keras tuduhan itu. Teheran menegaskan tidak memiliki rencana untuk menargetkan UEA atau fasilitas di pelabuhan Fujairah. Pihak Iran justru menuding AS berada di balik insiden ini.
Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ibrahim Azizi, melalui akun media sosialnya menuliskan frasa “FALSE FLAG” (operasi palsu), yang mengisyaratkan bahwa serangan tersebut adalah rekayasa untuk menyudutkan Iran.
Sebelumnya, kantor berita Iran Tasnim melaporkan adanya peringatan dari sumber militer bahwa “ketidakamanan bagi UEA adalah racun yang mematikan,” dan mengancam, kepentingan UEA tidak akan aman jika negara tersebut mengambil tindakan yang dianggap irasional.
Sejumlah negara Arab, termasuk Qatar, Mesir, Yordania dan Suriah, secara resmi mengutuk serangan terhadap kapal tanker tersebut. Mereka menekankan pentingnya menjaga jalur navigasi laut internasional dari ancaman tindakan militer atau gangguan apa pun.
Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab secara resmi atas serangan itu. Situasi di kawasan ini tetap berada dalam status siaga tinggi di tengah saling tuduh antara pihak yang bertikai mengenai tanggung jawab atas terganggunya keamanan maritim di jalur distribusi energi paling vital di dunia ini. (net/aid/alz/tn/kim/smr)





