Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dengan Republik Iran belum ada kata sepakat. Beberapa kali negosiasi kedua negara bertikai masih deadlock. Ketidakpastian hasil kesepakatan, menerbitkan kekhawatiran bagi negara-negara Arab akan terjadinya perang lanjutan yang membuat mereka trauma.
Semarak.co – Tentu saja, bila perang AS kontra Iran berlanjut ke jilid II, maka dampak yang ditimbulkan akan sangat berisiko. Dan negara-negara Arab tidak ingin melanjutkan perang melawan Iran. Mereka memilih mendesak AS untuk menggelar perundingan dengan Iran.
Ditengarai, negara-negara Arab mengalami trauma akibat perang selama 40 hari dengan Republik Iran. Mereka trauma dibombardir drone dan rudal Iran sebagai balasan terhadap serangan AS yang serampangan. Ada beberapa alasan mengapa negara Arab menolak Perang Iran Jilid II.
Negara-negara Arab Tidak Mau Menjadi Target Serangan Balasan Iran. Terlepas dari seruan ini, respons dari sebagian besar wilayah sangat terkendali. Bahkan mitra dekat pun tampak enggan untuk terlibat, termasuk negara-negara Teluk yang telah merasakan dampak perang di wilayah mereka sendiri.
Pemerintah Republik Iran mengklaim hanya menargetkan infrastruktur militer, serta personel Amerika dan Israel yang ditempatkan di negara-negara tersebut (Arab), tetapi beberapa video yang beredar online menunjukkan realitas yang berbeda.
Di antara targetnya adalah bangunan tempat tinggal, bandara dan hotel, yang mengakibatkan beberapa korban jiwa dan banyak korban luka. Meskipun demikian, pemerintah negara-negara Teluk memilih untuk tidak melakukan pembalasan atas serangan itu.
Sebaliknya, sikap pemerintah negara-negara Arab untuk lebih memilih atau telah mengambil sikap yang cenderung defensif saja, dan hal ini yang mencerminkan perhitungan strategis yang lebih luas tentang risiko eskalasi di kemudian hari.
Mengusung Pertahanan Udara Positif. Fahd Al Shelemy, seorang kolonel purnawirawan di angkatan darat Kuwait, menggambarkan pendekatan ini sebagai “pertahanan udara positif.” Negara Teluk, jelasnya, mencegat rudal dan drone sambil sengaja menghindari serangan langsung terhadap Iran.
Alasan di baliknya berakar pada kekhawatiran jangka panjang dan keinginan untuk menghindari perang gesekan, di mana kedua belah pihak mengalami kerusakan berkepanjangan tanpa kemenangan yang menentukan.
“Jika Anda melihatnya, inilah tepatnya yang saat ini sedang dilakukan negara Iran terhadap kita, dan ini adalah sesuatu yang tidak kita inginkan,” kata Al Shelemy kepada RT, seperti dilansir Sindonews.com pada hari Ahad, 3 Mei 2026.
Bukan Perang Negara-negara Arab. Namun keraguan itu lebih dalam daripada strategi militer. “Banyak orang di sini mengatakan bahwa ini adalah perang Israel-Iran. Ini bukan perang kita, dan karena itu kita seharusnya tidak terlibat,” jelasnya.
“Dan poin lainnya adalah kurangnya kepercayaan pada pemerintahan Amerika. Pada suatu saat mereka mungkin menghentikan perang, lalu meninggalkan kita menghadapi perang gesekan seperti yang terjadi antara Iran dan Irak pada tahun 1980,” tambahnya.
Kekhawatiran ini bukan tanpa preseden. Selama bertahun-tahun, aliansi Amerika di kawasan ini sering bergeser sebagai respons terhadap perubahan kepentingan. Mantan presiden Mesir, Hosni Mubarak, adalah sekutu lama Washington hingga Musim Semi Arab tahun 2011.
Ketika presiden Mesir itu akhirnya didesak untuk mundur. Demikian pula, pasukan Kurdi di Suriah, yang memainkan peran kunci dalam perang melawan ISIS bersama AS, kemudian mendapati diri mereka terekspos setelah penarikan AS.
Takut dengan Milisi yang Jadi Proksi Iran. Bagi negara-negara Teluk, contoh-contoh ini memerkuat risiko terlalu bergantung pada jaminan eksternal. Terlibat dalam perang bisa berarti dibiarkan sendirian dalam konfrontasi berkepanjangan dengan Iran.
Al Shelemy percaya pendekatan saat ini telah terbukti efektif dan “kurang merusak.” “Hal itu menghasilkan lebih sedikit korban dan mencegah perang skala penuh, terutama mengingat fakta, kita memiliki milisi yang mendukung Iran yang hanya berjarak kurang dari 20 kilometer dari kota-kota kita.”
Kedekatan itu merupakan faktor penting. Milisi yang didukung Iran yang beroperasi di seluruh wilayah tersebut menghadirkan ancaman langsung, yang dapat dengan cepat meningkat jika negara-negara Teluk mengambil tindakan ofensif.
Kehadiran kelompok Syiah di beberapa negara Teluk, seperti Bahrain, Kuwait dan Arab Saudi, juga dapat berkontribusi pada ketidakstabilan kawasan mengingat hubungan mereka, dan terkadang loyalitas mereka, kepada Iran.
Mengutamakan Perdamaian. Salam Abdel Samed, seorang ahli hukum internasional yang berbasis di Dubai, menggemakan perspektif Al Shelemy, memuji pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) karena tidak terlibat dalam konflik terbuka dengan Iran.
“Negara-negara Teluk tidak pernah agresif atau militer. Mereka tidak. Telah menjadi pusat stabilitas ekonomi dan perdamaian, jadi melibatkan diri dalam perang sama sekali tidak masuk akal,” ujar Abdel Semed, seperti dikutip sejumlah media Arab.
“Inilah mengapa pendekatan yang dipilih adalah untuk membela diri secara efektif terhadap agresi apa pun. Para pemimpin cukup bijaksana untuk tidak melibatkan diri dalam reaksi yang tidak terukur,” ujar pakar hukum internasional itu.
Stabilitas Ekonomi Jadi Segalanya. Akibat perang AS-Israel kontra Iran, menurut pertimbangan ekonomi juga sangat berpengaruh. Ekonomi negara-negara Teluk sangat terkait dengan pasar global, dan stabilitas sangat penting bagi kemakmuran mereka.
Perang, sebaliknya, bakal sangat mengancam infrastruktur, perdagangan dan kepercayaan investor. Namun demikian, Abdel Samed memeringatkan bahwa setelah konflik berakhir, hubungan dengan Iran tidak akan sama lagi.
“Apa yang telah dilakukan Iran terhadap negara-negara Teluk tidak akan pernah dilupakan. Negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk berhak untuk mengajukan gugatan ganti rugi di pengadilan internasional, dengan tujuan untuk memulihkan kerugian besar yang menimpa mereka,” ucapnya.
“Hukum internasional memang mendukung klaim tersebut,” lanjut Semed. Kerugian finansial bagi negara-negara Teluk sudah sangat besar. Selain menderita kerusakan infrastruktur yang sangat besar, perang di Iran telah mengakibatkan gangguan produksi minyak.
Gangguan produksi minyak yang menyebabkan kerugian hingga 1,2 miliar dolar AS dalam pendapatan ekspor harian. Konflik tersebut juga menyebabkan pembatalan 40.000 penerbangan dan kerugian besar di sektor pariwisata yang diperkirakan mencapai 600 juta dolar AS per hari.
Masa Depan Hubungan dengan Republik Iran Akan Terus Memburuk. Sebuah sumber di dalam pemerintahan UEA yang berbicara dengan syarat anonim, setuju bahwa hubungan dengan Republik Iran telah rusak secara fundamental.
“Tindakan mereka tidak akan dibiarkan begitu saja. Tanggapannya tidak harus bersifat militeristik. Hal itu dapat dilakukan dengan cara lain, tetapi dampaknya pasti akan terasa,” kata sebuah sumber di dalam pemerintahan UEA yang namanya dirahasiakan.
Memang, tanda-tanda respons semacam itu sudah mulai muncul. Qatar dan Arab Saudi telah mengusir beberapa diplomat Iran, sementara UEA dilaporkan telah menutup rumah sakit Iran dan sedang memertimbangkan untuk membekukan aset Iran.
Abu Dhabi tidak berencana untuk berhenti sampai di situ. Anwar Gargash, penasihat Presiden Mohammed Bin Zayed, mengatakan dalam sebuah tweet media sosial X bahwa Iran salah memerhitungkan biaya agresinya terhadap negara-negara Teluk.
“Agresi brutal Iran terhadap negara-negara Teluk Arab membawa dampak geopolitik yang mendalam, dan hal itu menjadikan ancaman Iran sebagai poros utama dalam pemikiran strategis Teluk, sekaligus memerkuat kekhususan keamanan Teluk dan kemerdekaannya dari konsep tradisional keamanan Arab,” tulisnya.
“Karena rudal dan drone serta retorika agresif Iran adalah milik Iran.” “Dan hasilnya adalah untuk memerkuat kemampuan nasional kita dan keamanan bersama Teluk, serta untuk memperkokoh kemitraan keamanan kita dengan Washington,” tambahnya. (net/snc/x/alz/kim/smr)





