Selat Hormuz Makin Genting, Harga Minyak Dunia Tembus 95 Dolar AS

Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran mengguncang pasar energi dunia pada Rabu, 2 September 2026, setelah serangan terbaru meningkatkan kekhawatiran gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, serta mengerek volatilitas komoditas energi.

Semarak.co – Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga 97,04 dolar AS per barel sebelum turun sekitar 94,08 dolar AS karena pasar menimbang risiko pasokan, setelah harga sebelumnya melonjak lebih dari empat dolar.

Bacaan Lainnya

Kontrak West Texas Intermediate atau WTI juga bergerak tajam, sempat mencapai 92,29 dolar AS sebelum melemah menuju 89,50 dolar AS per barel, mencerminkan ketidakpastian geopolitik global di tengah ketegangan kawasan yang meningkat.

Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena jalur sempit tersebut merupakan koridor energi utama dunia, dengan jutaan barel minyak melewatinya setiap hari menuju pasar internasional, sehingga gangguan berpotensi memengaruhi perekonomian banyak negara.

Dilansir Reuters, Associated Press (AP), Arab News dan The National (2/9/2026), lalu lintas kapal melalui kawasan itu semakin terganggu setelah AS dan Iran melancarkan serangan, sementara ancaman ranjau laut menambah risiko kapal komersial, serta meningkatkan risiko keselamatan pelayaran.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan dua kapal tanker minyak mengalami gangguan setelah terkena ranjau laut, meskipun klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak lain hingga kini.

AS menyebut pasukannya melakukan serangan terhadap sasaran Iran di sekitar kawasan itu, sementara Iran memeringatkan eskalasi militer dapat semakin membatasi pelayaran komersial selama jalur tersebut belum aman sepenuhnya.

Data perdagangan menunjukkan volume pengiriman berubah. Menteri Energi AS menyebut 17 juta barel minyak melintasi Hormuz pada Senin, tertinggi sejak gangguan perang dimulai, menurut data yang disampaikan pejabat Amerika.

Jika gangguan berlangsung lebih lama, dampaknya dapat merembet ke harga bahan bakar, biaya transportasi, industri, dan inflasi berbagai negara karena pasokan energi menghadapi tekanan, serta premi risiko pengiriman yang meningkat.

Pelaku pasar kini mencermati kemungkinan harga Brent menembus 100 dolar AS per barel apabila konflik berlanjut dan arus kapal melalui Selat Hormuz semakin terbatas dalam beberapa hari ke depan kembali.

Selat Hormuz sebelumnya menjadi jalur bagi sekitar seperlima minyak dunia. Karena itu, pembatasan pelayaran berkepanjangan dapat meningkatkan biaya energi, memperbesar tekanan inflasi dan memengaruhi keputusan bank sentral.

Pasar kini menunggu perkembangan militer berikutnya sekaligus memantau apakah kapal komersial masih dapat melintas dengan aman. Setiap gangguan tambahan berpotensi kembali mendorong harga minyak lebih tinggi. (net/rts/ap/an/tn/kim/smr)

Pos terkait