Praktik child grooming menjadi ancaman serius bagi keselamatan serta kesehatan mental anak dan remaja. Modus ini sering berlangsung tersembunyi melalui pendekatan emosional dan pembentukan relasi semu, sehingga kerap sulit dikenali sejak dini.
Semarak.co – Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menegaskan bahwa child grooming merupakan bentuk manipulasi yang menyasar kerentanan anak dan remaja.
“Child grooming dapat dipahami sebagai proses manipulasi pelaku terhadap anak dan remaja dengan tujuan mengeksploitasi korban” ujar Wamen Isyana, pada acara Kelas Orang Tua Bersahaja Angkatan 3 yang diadakan secara daring, dirilis humas melalui WAGroup Jurnalis Kemendukbangga/BKKBN, Jumat (30/1/2026).
Kerentanan praktik child grooming menguat ketika komunikasi dalam keluarga tidak terbangun optimal. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2022, jumlah pemuda di Indonesia diperkirakan mencapai 65,82 juta jiwa atau hampir seperempat dari total penduduk (24,00%).
Kelompok usia ini berada pada fase krusial pembentukan karakter, identitas diri, serta kesehatan mental, sehingga membutuhkan dukungan dan pendampingan yang konsisten dari lingkungan terdekat, khususnya keluarga.
Dalam konteks tersebut, minimnya dialog terbuka, dukungan emosional, dan keterlibatan orang tua berpotensi melemahkan peran keluarga sebagai ruang aman utama bagi remaja. Kondisi ini membuka celah bagi pihak-pihak yang memanfaatkan kebutuhan dasar anak akan perhatian, penerimaan, dan rasa aman.
“Isu ini bukan sekadar persoalan individual, melainkan persoalan sosial yang menyentuh langsung jantung ketahanan keluarga serta masa depan anak-anak dan remaja kita.” ujar Wamen Isyana.
Di tengah tingginya penetrasi internet, remaja Indonesia semakin intens berinteraksi di ruang daring yang sering kali luput dari pengawasan langsung. Child grooming tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan gawai, melainkan bekerja pada ranah emosi dan kepercayaan anak.
Psikolog Ferlita Sari menekankan bahwa dampak child grooming bersifat jangka panjang dan meninggalkan luka psikologis mendalam bagi korban. “Dampak grooming bukan hanya pada saat itu terjadi, tapi setelah itu misalnya selesai, dampaknya masih ada karena sangat traumatik” ujar Ferlita. (hms/smr)





