Trump Ancam Serangan Baru ke Iran, Karena Gagal Berunding

Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan pilihan untuk melancarkan serangan dahsyat terhadap Iran setelah pembicaraan terkait program nuklir Teheran gagal atau menemui jalan buntu (deadlock).

Semarak.co – Menurut laporan CNN, mengutip beberapa sumber termasuk surat kabar New York Times sebelumnya yang melaporkan, perundingan untuk mengurangi ketegangan di Iran pekan lalu tidak membuahkan hasil karena Teheran terus menolak untuk menyerah pada tuntutan Trump.

Pada Rabu, Donald Trump memosting di social media bernama Truth Social. Dalam unggahannya, Trump menuntut agar Iran datang ke meja perundingan untuk menegosiasikan “kesepakatan yang adil dan merata – TANPA SENJATA NUKLIR.”

Dia memeringatkan bahwa serangan Amerika Serikat berikutnya terhadap negara itu “akan jauh lebih buruk” daripada serangan yang dilakukan musim panas lalu, ketika militer AS menyerang tiga situs nuklir Iran.

Laporan pada Rabu itu menyebutkan bahwa opsi yang saat ini sedang dipertimbangkan Trump termasuk serangan udara terhadap para pemimpin dan pejabat keamanan Iran, serta serangan terhadap fasilitas nuklir dan lembaga pemerintah.

Namun, Trump belum membuat keputusan akhir dan percaya bahwa dengan kedatangan kelompok penyerang Amerika yang sebelumnya dikirim ke wilayah tersebut, pilihan militernya akan meluas, tambah laporan itu.

Ini merupakan perubahan fokus yang cepat terhadap tujuan yang secara terbuka dirumuskan pemerintahan AS untuk Iran. Hal itu terjadi beberapa pekan setelah Trump secara serius memertimbangkan tindakan militer yang ia gambarkan sebagai potensi bantuan untuk protes nasional di Iran.

Para pengunjuk rasa diklaim oleh Paman Sam menghadapi penindakan keras oleh pasukan keamanan Iran yang menyebabkan ratusan orang tewas dalam demonstrasi berdarah yang diduga didalangi AS dan Israel.

Sementara Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln, telah memasuki Samudra Hindia pada Senin dan terus bergerak mendekati Iran di mana mereka dapat mendukung operasi potensial apa pun terhadap negara tersebut. Dilansir Tempo.co dari The New York Times pada 29/1/2026.

Baik dalam hal membantu serangan maupun melindungi sekutu regional dari potensi pembalasan Iran. AS dan Iran telah bertukar pesan — termasuk melalui diplomat Oman dan antara utusan luar negeri Trump, Steve Witkoff, serta menteri luar negeri Iran, Abbas Araghchi, untuk menghentikan perang.

Ada diskusi singkat tentang pertemuan tatap muka, tetapi itu tidak pernah terwujud, kata satu sumber. Belum ada negosiasi langsung yang serius antara AS dan Iran karena Trump telah meningkatkan ancaman militernya dalam beberapa hari terakhir, menurut orang lain yang mengetahui masalah.

Nuklir Iran

Tidak jelas mengapa Trump kemudian mengalihkan fokusnya kembali ke program nuklir Iran, yang menurutnya musim panas lalu telah “dihancurkan” oleh serangan AS. Namun, Iran diklaim berupaya membangun kembali situs nuklirnya lebih dalam di bawah tanah.

Menurut seseorang yang mengetahui intelijen Amerika Serikat baru-baru ini tentang masalah ini, dan telah lama menolak tekanan pemerintah negeri Paman Sam untuk menghentikan kepada pengayaan uraniumnya.

Rezim tersebut juga telah melarang badan pengawas nuklir PBB (IAEA) untuk memeriksa situs nuklirnya. Di tengah ancaman aksi militer, AS juga menuntut prasyarat untuk pertemuan dengan pejabat Iran, kata sumber tersebut.

Ini termasuk penghentian permanen pengayaan uranium yang merupakan inti dari program nuklir Iran, pembatasan baru pada program rudal balistik Iran, dan penghentian semua dukungan untuk proksi Iran di kawasan tersebut.

Poin penting yang menjadi kendala, kata sumber itu, tuntutan AS agar Iran setuju membatasi jangkauan rudal balistiknya — sebuah kekhawatiran besar bagi Israel, yang telah menghabiskan mayoritas persediaan pencegat rudalnya untuk menembak jatuh rudal balistik Iran selama perang 12 hari Juni lalu.

Iran menolak hal itu dan mengatakan kepada Amerika Serikat mereka hanya akan membahas program nuklirnya. AS belum memberikan tanggapan, sehingga kedua belah pihak menemui jalan buntu (deadlock), kata sumber tersebut.

Respon Tegas Iran

Seorang penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada Rabu memeringatkan bahwa negara Timur Tengah itu akan menganggap setiap langkah militer yang diambil Amerika Serikat (AS) terhadapnya sebagai tindakan perang.

Ali Shamkhani, yang juga merupakan perwakilan pemimpin tertinggi tersebut di Dewan Pertahanan Iran, menyampaikan pernyataan itu dalam unggahan di platform media sosial X seiring tetap tingginya ketegangan antara Iran dan AS di tengah peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah.

Dia mengatakan, “serangan terbatas” AS terhadap Iran hanya sebuah “kiasan.” Setiap tindakan militer oleh AS dari sumber mana pun dan pada level mana pun dianggap sebagai awal perang, dan responsnya cepat, habis-habisan, dan belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Shamkhani dikutip Antara.

Dia menekankan bahwa respons Iran akan menyasar pihak agresor, jantung Tel Aviv, dan semua pendukung pihak agresor. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Trump pada Rabu, bahwa armada besar (Kapal Induk Abraham Lincoln) dan lebih besar dari yang dikirim ke Venezuela.

Kapal raksasa itu sedang menuju Iran, dan memeringatkan Teheran, waktu hampir habis untuk mencapai kesepakatan dengan AS. Sebelumnya pada Senin, Iran memeringatkan soal respons yang komprehensif dan akan menimbulkan penyesalan terhadap setiap agresi.

Menanggapi ancaman Trump dalam unggahan di X pada Rabu, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan, angkatan bersenjata Iran yang gagah berani siap, dengan posisi yang sudah siaga, untuk dengan segera dan tangguh merespons setiap agresi.

Namun, Araghchi juga mengatakan “pada saat sama Iran selalu menyambut baik kesepakatan nuklir saling menguntungkan, adil, dan setara, dengan kesetaraan, dan bebas dari paksaan, ancaman, maupun intimidasi, yang menjamin hak Iran atas teknologi nuklir damai dan menjamin tidak adanya senjata nuklir. (net/tc/cnn/x/kim/smr)

Pos terkait