Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemeneekraf) mengapresiasi pendekatan kreatif yang relevan bagi lintas generasi dalam pertunjukan Aniwayang Live Desa Timun: Ayo Ke Museum tampil di panggung teater Museum Nasional Indonesia.
Semarak.co – Wamenekraf Irene Umar menyatakan, wayang bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga alat diplomasi budaya yang bisa terus dibawa ke mana saja dan sebenarnya memiliki nilai ekonomi luar biasa.
“Apa yang dilakukan Aniwayang menunjukkan karya kreatif berbasis tradisi bisa menembus panggung internasional, bahkan telah diapresiasi di Jepang, Korea, dan akan berangkat ke Jerman,” ucapnya, dirilis humas melalui WAGroup Kemenekraf Siaran Pers, Minggu (26/4/2026).
Pertunjukan Aniwayang itu berhasil memadukan seni tradisi dengan storytelling relevan, karakter animatif, dan pengalaman interaktif bagi anak-anak dan keluarga. Wamenekraf menilai talenta Aniwayang tertata apik dan menjadi contoh konkret bagaimana budaya tradisional dapat dikemas ulang menjadi produk serta karya kreatif bernilai ekonomi tinggi.
Selain itu, Wamenekraf menegaskan urgensi ruang-ruang publik seperti museum yang mampu mendukung ekosistem ekonomi kreatif untuk terus hidup. Menurutnya, Museum Nasional kini tidak hanya menjadi tempat edukasi, tetapi juga ruang ekspresi kreatif yang membanggakan.
“Kita patut bangga karena kini museum di Indonesia semakin berkembang menjadi ruang kreatif yang menarik. Ini membuka peluang besar bagi pejuang ekraf untuk berkolaborasi dan berkarya, sekaligus memberikan pengalaman budaya yang lebih dekat dan menyenangkan bagi masyarakat,” tambahnya.
Pergelaran Aniwayang Live Desa Timun: Ayo Ke Museum merupakan rangkaian ulang tahun ke-248 Museum Nasional Indonesia. Kegiatan ini juga sebagai ajakan bagi keluarga untuk menjadikan museum sebagai ruang belajar yang menyenangkan demi membangun generasi yang berbudaya.
“Pertunjukan ini dibuat khusus untuk Museum Nasional, dengan lagu-lagu istimewa dan cerita baru yang belum pernah ditayangkan di manapun. Kami juga membuat karakter khusus wayang untuk Wamenekraf yang didatangkan langsung dari Jogja,” jelas Founder dan Direktur Aniwayang Studio Daud Nugraha.
Dalam rangkaian acaranya, Aniwayang Studio mengangkat beberapa aktivitas seperti nonton bareng animasi wayang petualangan ke Museum Nasional, sesi interaktif pengenalan 5 dalang dan 5 voice actor profesional yang terlibat di balik layar, Dalang Experience, hingga menyanyi bersama.
Para pengunjung juga bisa membeli merchandise dari IP (Intellectual Property) Aniwayang Studio berupa produk-produk kreatif seperti sticker sheet, electronic money card, t-shirt, batik, enamel pin, foldable grocery bag, comic book, art print, wayang kulit, dan produk anak lainnya.
Kolaborasi antara pemerintah, pejuang ekraf seperti Aniwayang, dan ruang budaya di Museum juga menjadi tindak lanjut audiensi tanggal 17 Desember 2025 terkait keinginan Kementerian Ekraf yang ingin ekspansi Aniwayang makin meluas sehingga IP lokal terus dikenal.
Kolaborasi lintas sektor sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan kekayaan budaya yang beraneka dan mampu diolah menjadi mesin kekuatan ekonomi baru nasional. (hms/smr)





