Seorang wanita menjalani tes penyakit coronavirus (COVID-19) di sebuah klinik darurat di Seoul, Korea Selatan, Rabu (26/8/2020). Foto: internet

Lima warga Korea Selatan tewas usai mendapat suntikan flu dalam seminggu terakhir. Ini otomatis meningkatkan kekhawatiran atas keamanan vaksin tepat ketika program inokulasi musiman diperluas untuk mencegah potensi komplikasi COVID-19.

semarak.co-Pihak berwenang setempat mengatakan tidak ada alasan untuk percaya bahwa kematian itu terkait dengan vaksin, tapi penyelidikan, termasuk pemeriksaan mayat sedang dilakukan.

“Ini membuat kami sulit untuk mengeluarkan pernyataan yang pasti,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Kim Gang-lip dalam pengarahan media tentang kematian, termasuk seorang anak laki-laki berusia 17 tahun dan seorang pria berusia 70-an tahun, Rabu (21/10/2020).

Terjadi hanya beberapa minggu setelah peluncuran program vaksin nasional ditangguhkan karena kekhawatiran akan keamanan, kematian warga telah mendominasi berita utama di Korea Selatan.

Bulan lalu September 2020, para pejabat mengumumkan rencana untuk mendapatkan 20% lebih banyak vaksin flu untuk musim dingin daripada tahun sebelumnya untuk menyuntik 30 juta orang dalam upaya untuk mencegah sistem kesehatan kelebihan beban oleh pasien yang terkena flu dan terpapar COVID-19.

BACA JUGA :  Kecewa Didiskriminasi, Pengungsi Korea Utara Luncurkan Parpol di Korea Selatan

Namun, dimulainya program suntikan gratis untuk sekitar 19 juta orang yang memenuhi syarat ditangguhkan selama tiga minggu setelah ditemukan bahwa sekitar 5 juta dosis vaksin, yang perlu didinginkan, telah terpapar suhu kamar saat diangkut ke fasilitas medis.

Meningkatkan kepercayaan publik terhadap vaksin telah menjadi tantangan global utama tahun ini, karena beberapa negara terburu-buru menyetujui vaksin COVID-19 eksperimental sebelum studi keamanan dan kemanjuran lengkap telah diselesaikan.

Vaksin flu Korea Selatan dipasok beberapa pembuat obat yang berbeda, termasuk LG Chem Ltd dan Boryung Biopharma Co. Ltd., sebuah unit dari Boryung Pharm Co. Ltd.

Seorang pejabat Boryung mengatakan kepada Reuters, Selasa (20/10/2020) bahwa perusahaan mengetahui kematian yang dilaporkan, tetapi tidak segera berkomentar. LG Chem mengatakan perusahaan akan mengikuti saran pemerintah.

Seorang anak laki-laki berusia 17 tahun yang meninggal pada Jumat (16/10) adalah kematian pertama yang dicatat oleh petugas setelah menerima vaksin. Bocah itu meninggal dua hari setelah menerima suntikan flu di Incheon, dekat Ibu Kota Seoul.

BACA JUGA :  Tingkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah, BNI Syariah Gelar Public Lecture di Aceh

Seorang pria berusia 70-an, yang menderita penyakit Parkinson dan aritmia adalah kasus terbaru. Dia tewas di Daegu pada Rabu (14/10/2020), sehari setelah menerima vaksin flu. Pejabat Daegu mengatakan pria itu telah menerima vaksin sejak 2015 tanpa reaksi merugikan sebelumnya.

Para pejabat mengatakan sebanyak 8,3 juta orang telah diinokulasi dengan vaksin flu gratis sejak dilanjutkan 13 Oktober dengan sekitar 350 kasus reaksi merugikan dilaporkan. Jumlah kematian tertinggi terkait dengan vaksinasi flu musiman adalah enam pada 2005, menurut kantor berita Yonhap.

Bahkan sebelum pandemi virus corona, kepercayaan pada vaksin merupakan tantangan yang semakin besar bagi badan kesehatan masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia menyebut keragu-raguan vaksin sebagai salah satu dari 10 ancaman kesehatan global teratas tahun lalu.

Di Korea Selatan, jajak pendapat awal bulan ini menemukan bahwa 62% dari 2.548 responden di Provinsi Gyeonggi dekat Seoul tidak akan divaksinasi COVID-19 bahkan jika vaksin disetujui, sampai semua pertanyaan tentang isu keamanan terjawab sepenuhnya. (net/smr)

LEAVE A REPLY