Kesenjangan komunikasi antara masyarakat dengar dan komunitas Tuli masih menjadi persoalan nyata di Indonesia. Di banyak ruang publik, beban untuk menyesuaikan diri kerap jatuh pada individu Tuli. Padahal di tengah meningkatnya jumlah penyandang gangguan pendengaran secara global, cara pandang ini sudah saatnya diubah.
Semarak.co – Inisiatif menarik datang dari Universitas Mercu Buana (UMB) dan Universiti Sains Islam Malaysia di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 47 Jakarta melalui program pelatihan komunikasi inklusif yang dipimpin Leila Mona Ganiem bersama tim.
Program ini tidak sekadar mengajarkan empati pada teman tuli dan kurang dengar, tapi juga menanamkan konsep Personal Social Responsibility (PSR)—bahwa komunikasi adalah tanggung jawab bersama, bukan beban satu pihak.
Melalui simulasi, diskusi, dan praktik langsung, siswa dilatih menghadapi situasi nyata: bagaimana berinteraksi dengan pelanggan Tuli, mengatasi miskomunikasi, hingga menciptakan lingkungan layanan yang lebih ramah secara visual. Hasilnya? Terjadi perubahan signifikan.
Siswa tidak hanya lebih percaya diri, tetapi juga mulai aktif mengambil peran dalam menciptakan komunikasi yang inklusif. Ini menunjukkan bahwa kepedulian bukan sekadar wacana, melainkan praktik sosial yang bisa tumbuh dari kesadaran generasi muda.
Langkah kecil dari ruang kelas ini memberi pesan besar: inklusivitas bukan tentang belas kasihan, tetapi tentang keadilan dan tanggung jawab sosial. Jika sejak bangku sekolah kita sudah belajar berbagi peran dalam komunikasi, maka masa depan layanan publik yang lebih setara bukan lagi sekadar harapan—melainkan keniscayaan.
Sekilas Informasi Kegiatan
- 1. What (Apa)
Program pelatihan komunikasi inklusif bagi siswa vokasi yang mencakup pengenalan budaya Tuli, dasar bahasa isyarat (BISINDO), strategi communication repair, dan penerapan konsep Personal Social Responsibility (PSR) dalam interaksi sehari-hari.
- Who (Siapa)
Dipimpin oleh Leila Mona Ganiem bersama tim dari Universitas Mercu Buana dan Universiti Sains Islam Malaysia (Dr. Muhammad Raqib), dengan peserta siswa dan guru di SMK Negeri 47 Jakarta.
- Where (Di mana)
Dilaksanakan di SMK Negeri 47 Jakarta sebagai lokasi utama kegiatan.
- When (Kapan)
Kegiatan dilaksanakan pada 5 Mei 2026, sebagai bagian dari program International Joint Community Service (KLN).
- Why (Mengapa)
Leila Mona Ganiem memaparkan bahwa karena masih adanya kesenjangan komunikasi dan fenomena majority apathy yang membuat individu Tuli menanggung beban komunikasi sendiri sehingga diperlukan edukasi untuk membangun komunikasi yang lebih inklusif dan adil.
- How (Bagaimana)
Dilakukan melalui pendekatan partisipatif berbasis praktik, terang Leila Mona, seperti simulasi interaksi, role-play, diskusi reflektif, serta latihan langsung penggunaan strategi komunikasi inklusif dan bahasa isyarat, dengan tujuan membangun kesadaran sekaligus keterampilan nyata.
- Kesenjangan komunikasi antara masyarakat dengar dan komunitas Tuli masih bersifat struktural dan sosial, bukan sekadar masalah teknis komunikasi.
- Secara global, lebih dari 1,5 miliar orang mengalami gangguan pendengaran dan jumlah ini diproyeksikan terus meningkat, menjadikan isu ini sebagai tantangan inklusi global.
- Selama ini terjadi fenomena “communication burden” (beban komunikasi), di mana individu Tuli dipaksa terus-menerus menyesuaikan diri, yang dapat menyebabkan kelelahan mental dan isolasi sosial.
- Program di SMK 47 Jakarta memperkenalkan konsep Personal Social Responsibility (PSR), yaitu bahwa komunikasi inklusif adalah tanggung jawab aktif masyarakat mayoritas (dengar), bukan hanya individu Tuli.
- Pendekatan yang digunakan adalah Shared Labor (berbagi peran), yang mendistribusikan tanggung jawab komunikasi secara adil antara pihak dengar dan Tuli.
- Pelatihan mencakup budaya Tuli, dasar BISINDO, strategi Communication Repair, dan prinsip Total Communication, sehingga peserta tidak hanya paham teori tetapi juga praktik nyata.
- Salah satu kunci komunikasi efektif adalah penggunaan isyarat visual, seperti kontak mata, ekspresi wajah, pencahayaan yang baik, dan gestur tubuh yang mendukung pemahaman.
- Prinsip penting dalam interaksi: jangan memaksakan metode komunikasi, tetapi tanyakan preferensi individu Tuli (isyarat, tulisan, atau teknologi).
- Hasil program menunjukkan peningkatan signifikan dalam kepercayaan diri, pemahaman, dan kesiapan siswa dalam berinteraksi dengan komunitas Tuli serta mengelola miskomunikasi.
- Dampak berkelanjutan terlihat dari inisiatif siswa diharapkan seperti pembentukan “Deaf-Friendly Buddy” dan rencana layanan inklusif, yang menandakan pergeseran dari kesadaran ke aksi nyata.
- Gangguan pendengaran adalah isu global yang besar
“Lebih dari 1,5 miliar orang di dunia mengalami kehilangan pendengaran, dan jumlah ini akan terus meningkat—menjadikan komunikasi inklusif sebagai kebutuhan mendesak, bukan pilihan,” tutur Leila Mona dirilis yang diterima redaksi semarak.co usai acara melalui email pesan elektronik, Kamis (7/5/2026).
- Ada “beban komunikasi” yang tidak adil
Selama ini, kembali Leila Mona menerangkan, individu Tuli sering dipaksa menyesuaikan diri sendiri dalam komunikasi, yang memicu kelelahan mental (communication fatigue) dan keterasingan sosial.
- Komunikasi harus menjadi tanggung jawab dua arah (PSR)
“Konsep Personal Social Responsibility menekankan bahwa masyarakat dengar harus aktif beradaptasi, bukan hanya menunggu individu Tuli memahami,” tutur Leila Mona dirilis.
- Kunci komunikasi efektif adalah visual dan empati
Kontak mata, ekspresi wajah, pencahayaan yang baik, gestur, serta kesabaran dalam mengulang pesan menjadi elemen penting dalam interaksi dengan individu Tuli.
- Hormati preferensi komunikasi individu Tuli
“Tidak semua orang Tuli sama-komunikasi bisa melalui bahasa isyarat, tulisan, lip-reading, atau teknologi. Prinsip utama: tanyakan cara terbaik berkomunikasi, jangan memaksakan,” tutupnya. (hms/smr)





