Sulit untuk Diselamatkan, Utang Jumbo Perusahaan Udang Milik Kaesang Jadi Kredit Macet di Beberapa Bank

Putra bungsu Presiden Joko Widodo (Jokowi), yaitu Kaesang Pangarep dan istrinya bernama Erina Gudono. Foto: Instagram @erinagudono di internet

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai utang jumbo yang mendera PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) milik Kaesang Pangarep, anak dari mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak serta-merta menunjukkan perbankan tidak pruden atau kecolongan dalam menyalurkan kredit.

Semarak.co – Menurut Nafan Aji, fenomena ini bukan semata-mata bukti bahwa perbankan yang menggelontorkan kredit kepada perusahaan udang olahan milik Kaesang, putra bungsu eks Presiden Jokowi itu, melalaikan prinsip kehati-hatian.

Bacaan Lainnya

“Kasus ini lebih mencerminkan realisasi risiko kredit atau credit risk materialization akibat memburuknya kondisi fundamental perusahaan atau PMMP dan industrinya,” terang Nafan kepada Inilah.com di Jakarta, Senin (6/7/2026).

Namun demikian, kasus ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi industri perbankan untuk terus memperkuat pemantauan pasca-kredit (post-disbursement monitoring), sistem peringatan dini (early warning system), serta pengujian sensitivitas terhadap sektor-sektor yang memiliki volatilitas tinggi.

Dalam praktiknya, kata Nafan, setiap pemberian kredit telah melalui proses due diligence, analisis kelayakan usaha, penilaian agunan, hingga stress test terhadap kemampuan pembayaran debitur berdasarkan informasi yang tersedia saat kredit diberikan.

“Yang perlu dipahami, kualitas suatu kredit dapat berubah seiring perubahan fundamental perusahaan maupun kondisi industry,” kata Nafan dilansir inilah.com, Selasa, 7 Juli 2026 – 04:09 WIB di WAGroup Rakyat Bersatu NKRI Jaya, Selasa (7/7/2026/rakyatbersatulahjayalah).

Beberapa tahun terakhir, kata dia, sektor perikanan dan budidaya udang, tengah menghadapi tekanan yang cukup berat. Mulai dari penurunan harga udang global, melemahnya permintaan ekspor, kenaikan biaya operasional, hingga tantangan produksi.

Faktor-faktor tersebut tentu dapat memperburuk arus kas perusahaan meskipun pada awalnya prospek bisnis dinilai layak. Menurutnya, apabila beberapa bank menjadi kreditur perusahaan yang sama, hal tersebut juga bukan sesuatu yang tidak lazim.

Terutama untuk perusahaan berskala besar yang membutuhkan pembiayaan sindikasi atau pembiayaan dari beberapa bank sekaligus guna diversifikasi sumber pendanaan. Yang lebih penting saat ini adalah bagaimana masing-masing bank mengelola risiko lanjutan.

“Antara lain melalui restrukturisasi apabila masih layak, peningkatan pencadangan, optimalisasi pemulihan aset, serta memastikan eksposur terhadap debitur tersebut tetap berada dalam batas yang dapat ditoleransi sehingga tidak mengganggu kualitas aset maupun permodalan bank,” pungkasnya.

Sebagai informasi, perusahaan udang olahan PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) milik Kaesang Pangarep, putra bungsu eks Presiden Jokowi dilanda kesulitan keuangan yang sangat serius. Rasanya sulit diselamatkan karena utang super jumbo di beberapa bank.

Kini, nilai asetnya lebih rendah ketimbang utang perusahaan. Berdasarkan keterbukaan informasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Senin (6/7/2027), PT Bank Permata Tbk yang berkode saham BNLI, adalah bank yang mengguyur kredit terbesar ke PMMP.

Di mana outstanding kredit PMMP di Bank Permata menembus US$53,12 juta ditambah fasilitas dalam rupiah sebesar Rp5,49 miliar. Jika menggunakan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS, total eksposur Bank Permata mencapai Rp929,6 miliar, ditambah Rp5,49 miliar. Atau hampir Rp1 triliun.

Itu baru dari satu bank, belum bank-bank lainnya. Utang PMMP di PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencapai US$40,29 juta. Atau setara Rp705 miliar. Terbesar kedua setelah Bank Permata. Ada pula utang PMMP di Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), mencapai US$30,71 juta, atau sekitar Rp537,4 miliar.

Ternyata masih ada sangkutan utang perusahaan udang ekspor milik suami Erina Sofia Gudono di beberapa bank lain. Yakni utang di PT Bank SMBC Indonesia Tbk yang sahamnya dikuasai Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC), sebesar US$22,80 juta, setara Rp400 miliar.

Utang di PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS) yang sahamnya dikuasai Kasikornbank (Thailand) sebesar US$7,21 juta atau setara Rp125,2 miliar. Dan utang di PT Bank Resona Perdania, sebesar US$5,99 juta yang setara Rp105 miliar.

Sehingga total utang PMMP ke beberapa bank dan LPEI itu, mencapai Rp2,8 triliun. Itu belum termasuk bunga kredit yang harus ditanggung PMMP. Sementara untuk operasional PMMP, mengalami tekanan berat. Saat ini, hanya unit pabrik udang di Situbondo yang beroperasi.

Selain harus menanggung utang super jumbo, PMMP perlu tambahan modal agar tetap bisa beroperasi normal. Minimal perlu suntikan modal kerja US$15 juta setara Rp262,5 miliar. (net/ilc/wag/smr)

Pos terkait