PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat Stasiun Ketapang Banyuwangi melayani 25.605 pelanggan naik atau tumbuh 11 % serta 28.041 pelanggan turun atau meningkat 10% dibandingkan periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun sebelumnya.
Semarak.co – Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan, capaian ini mencerminkan konsistensi peran Stasiun Ketapang sebagai simpul pergerakan masyarakat dan wisatawan di wilayah Banyuwangi.
“Arus penumpang yang terjaga selama periode libur menunjukkan tingginya pemanfaatan kereta api sebagai moda transportasi yang terjadwal dan nyaman,” ujarnya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Pewarta KAI Pusat, Kamis sore (8/1/2026).
Selama Nataru, volume naik dan turun penumpang Stasiun Ketapang tercatat tertinggi ketiga di Daerah Operasi 9 Jember. Stasiun Jember melayani 67.743 pelanggan naik dan 63.765 pelanggan turun, disusul Stasiun Banyuwangi dengan 31.029 pelanggan naik dan 31.715 pelanggan turun.
Secara keseluruhan, Daop 9 Jember melayani 207.980 pelanggan naik atau meningkat 11 persen dibandingkan Nataru tahun sebelumnya yang mencapai 187.888 pelanggan. Untuk pelanggan turun, tercatat 208.965 orang, meningkat dibandingkan periode sebelumnya sebanyak 187.837 pelanggan.
Kinerja wilayah ini sejalan dengan tren nasional, di mana KAI melayani 4.179.095 pelanggan selama Nataru 2025/2026, tumbuh 12,02 persen dibandingkan Nataru 2024/2025 yang mencatat 3.730.584 pelanggan.
Dari sisi layanan, Stasiun Ketapang dilayani sejumlah kereta api jarak jauh. Pada relasi Malang–Jember–Ketapang, KA Ijen Ekspres melayani 1.629 pelanggan kelas eksekutif serta 4.956 pelanggan kelas ekonomi. KA Tawang Alun pada relasi yang sama melayani 10.004 pelanggan kelas ekonomi dengan tingkat okupansi 105 persen.
Pada relasi Surabaya–Jember–Ketapang, KA Mutiara Timur dari Surabaya Pasarturi melayani 3.630 pelanggan kelas eksekutif dan 5.220 pelanggan kelas ekonomi dengan okupansi masing-masing 101%.
KA Probowangi dari Surabaya Gubeng melayani 11.954 pelanggan kelas ekonomi dengan okupansi 104%. Sementara itu, KA Mutiara Timur keberangkatan malam dari Surabaya Gubeng melayani 4.280 pelanggan, mencerminkan variasi waktu perjalanan yang dimanfaatkan masyarakat selama periode libur.
Selain layanan jarak jauh, Stasiun Ketapang juga melayani kereta api lokal KA Pandanwangi relasi Jember–Ketapang pulang-pergi yang mendukung mobilitas harian masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya.
Untuk perjalanan lintas provinsi, KA Sri Tanjung relasi Lempuyangan–Ketapang menghubungkan Yogyakarta dan Banyuwangi juga menjadi pilihan perjalanan jarak jauh yang diminati pelanggan.
Anne menambahkan bahwa pergerakan penumpang di Stasiun Ketapang turut dipengaruhi oleh daya tarik Banyuwangi sebagai destinasi wisata. Dari stasiun ini, wisatawan melanjutkan perjalanan menuju kawasan pesisir dan bahari seperti Pantai Watu Dodol, Pantai Boom, dan Bangsring Underwater, serta kawasan perkotaan yang dikenal dengan ragam kuliner khas Banyuwangi.
“Konektivitas kereta api hingga Stasiun Ketapang mendukung kelancaran mobilitas serta pergerakan wisata dan ekonomi daerah. Perjalanan liburan berlangsung lebih nyaman dan terintegrasi,” tutup Anne.
Kereta Panoramic Jadi Favorit Wisata Nataru
Selama masa Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), layanan Kereta Panoramic PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat antusiasme tinggi dengan melayani 11.819 pelanggan dan tingkat okupansi mencapai 120% dari total 9.576 tempat duduk yang disediakan.
Capaian ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam mendorong pariwisata berbasis pengalaman, penguatan destinasi daerah, serta peningkatan konektivitas antardaerah sebagaimana tertuang dalam program pengembangan pariwisata nasional dan penguatan ekonomi kreatif.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa Kereta Panoramic menjadi representasi transformasi layanan kereta api dari sekadar moda transportasi menjadi bagian dari ekosistem pariwisata.
“Kereta Panoramic menjawab tren perjalanan masa kini, di mana masyarakat tidak hanya ingin sampai tujuan, tetapi juga menikmati proses perjalanannya. Ini sejalan dengan program pemerintah yang mendorong pariwisata berkualitas dan pergerakan ekonomi daerah melalui konektivitas yang nyaman dan berkelanjutan,” ujar Anne.
Layanan Kereta Panoramic saat ini hadir pada rangkaian KA Argo Wilis relasi Bandung–Surabaya Gubeng (PP), KA Turangga relasi Bandung–Surabaya Gubeng (PP), KA Pangandaran relasi Gambir–Banjar (PP), KA Papandayan relasi Gambir–Garut (PP), serta KA Parahyangan relasi Gambir–Bandung (PP).
Relasi-relasi ini menghubungkan kota besar dengan daerah tujuan wisata, sekaligus mendukung program pemerintah dalam pemerataan pembangunan dan penguatan destinasi di luar pusat-pusat metropolitan.
Menurut Anne, tingginya minat pelanggan tidak lepas dari daya tarik jalur selatan Pulau Jawa yang dilalui sebagian besar layanan tersebut. Jalur ini dikenal memiliki lanskap alam yang beragam dan menjadi salah satu koridor penting dalam pengembangan pariwisata berbasis alam dan budaya.
“Sepanjang perjalanan, pelanggan dapat menikmati bentang perbukitan, hamparan persawahan, aliran sungai, jembatan-jembatan ikonik, terowongan bersejarah, hingga panorama alam terbuka melalui kaca lebar Kereta Panoramic. Pengalaman visual ini menjadikan perjalanan sebagai bagian dari destinasi itu sendiri,” jelas Anne.
Kehadiran Kereta Panoramic juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi daerah yang dilalui. Meningkatnya minat perjalanan mendorong kunjungan wisatawan ke kota dan kabupaten tujuan, menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, UMKM, serta industri kreatif lokal.
“Kami melihat Kereta Panoramic sebagai pengungkit baru bagi pariwisata daerah. Ketika akses semakin nyaman dan menarik, minat kunjungan meningkat, dan ekonomi lokal ikut bergerak. Inilah bentuk sinergi antara transportasi publik dan agenda pembangunan nasional,” tambah Anne.
Dari sisi keberlanjutan, penggunaan kereta api sebagai moda wisata juga mendukung program pemerintah dalam pengurangan emisi dan pengembangan transportasi rendah karbon, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perjalanan yang lebih ramah lingkungan. (hms/smr)





