Oleh Asp Andy Syam *)
Semarak.co – Ketua Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) Eggi Sudjana (ES) semula dikenal sebagai seorang yang memiliki typelogi tokoh spiritual mujahid, pejuang dan pembela kebenaran yang siap menjadi martir demi tegaknya kebenaran.
Layaknya dan pada umumnya, Seorang tokoh spiritual berpengaruh besar kalau ucapan dan perbuatannya menjadi magnik kebenaran bak mutiara yang bersinar yang senantiasa bisa jadi keteladanan ummatnya.
Akhirnya menjadi polemik yang hebat, perilaku ES yang mendatangi Jokowi di Solo. Alasan spiritual ES mendatangi Jokowi, yaitu setelah membaca dan merenungkan QS. Taha : 45-46. Jokowi di ibaratkan sebagai sosok Firaun. Sedangkan ES dan Damai Lubis (DL) dalam sepak terjangnya ibarat Musa dan Harun.
Boleh saja membuat perumpamaan, tetapi dimanakah letak kebenarannya? Kalau Musa dan Harun adalah sosok manusia pilihan Allah untuk menyampaikan dan membela kebenaran Allah sebagai penguasa semesta alam.
Allah mengutus mereka datang menemui Fir’aun dengan misi tauhid menentang otoritas Ketuhanan Fir’aun dengan argumentasi rasional dan lembut bersama buktinya mukjizat kekuasaan Tuhan yang sesungguhnya agar Fir’aun sadar akan kebenaran dan kebesaran Tuhan Musa dan Harun.
Sekaligus menunjukkan bahwa Musa dan Harun menolak Ketuhanan Fir’aun. Tantangan itu membuat Fir’aun murka merupakan awal dimulainya perseteruan antara Musa dan Fir’aun. Fir’aun menyangka Musa dengan mukjizat (tongkat) sebagai tukang sihir, tapi kemudian para tukang sihir Fir’aun ikut Musa.
Sedangkan misi dan niat ES dan DL menemui Jokowi bukan dalam misi tauhid, tapi dalam konteks kasus Ijazah palsu untuk menunjukkan kalau mereka sadar bersalah setelah ditetapkan jadi tersangka oleh Kepolisian, memfitnah dan mencemarkan nama baik Jokowi.
Karena itu mereka ingin mendapatkan ampunan, hal itu di peroleh dengan sangat cepat beberapa hari saja sesudah pertemuan dengan Jokowi, Kepolisian mengeluarkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) kepada ES dan DL.
Diduga ada tersirat dengan sepak terjangnya ES dan DL menemui Jokowi, mengambil posisi sebagai Tim sukses Jokowi yang bisa diikuti dan diteladani oleh rekan yang lain, yaitu Roy Suryo,Rismon, Tifa dll. Tetapi kenyataan sebaliknya mereka meneruskan perjuangannya tanpa kenal lelah.
Hingga titik penegakan hukum terakhir, yaitu adanya Putusan Hakim yang berkekuatan tetap (inkracht). Sesungguhnya bagaimana mereka meneladani seseorang yang dianggapnya menyerah dan menghianati di tengah jalan. Itu logika sehat atau normal.
Disinilah awal ES kehilangan keteladanan kepemimpinan sebagai sosok pembela kebenaran. Keteladanan adalah puncak kekuatan pengaruh dan sukses kepemimpinan sebagaimana selalu ditunjukkan Rasulullah Muhammad SAW dalam setiap peristiwa selalu menunjukkan keteguhan hati dan keimanan.
Apa yang diperjuangkan oleh ES sebagai aktivis sejak mahasiswa dengan semangat tinggi, pengorbanan waktu dan tenaga untuk membangun pengaruh dan nama baik, membela kebenaran selama puluhan tahun sejak mahasiswa, runtuh seketika seperti panas setahun di hapus oleh hujan sehari.
Dalam hal ini sekaligus Jokowi jadi pemenang dengan gaya akomodatif tanpa konfrontasi berhasil seketika menghancurkan ketokohan seorang pemimpin. Disini terlihat tangan dingin Jokowi menimbulkan korban,tanpa disadari yang bersangkutan.
Anda boleh punya strategi dan siasat, tetapi Allah lebih tahu isi hati mu.
Ketika hati mu kosong dari rasa takut Pengawasan Allah, engkau melupakan dirimu untuk berbuat sesukanya, Allah pun melupakanmu dan mencampakkanmu. Ampunan Allah selalu terbuka untukmu, tapi hati manusia belum tentu memaafkanmu. Memegang dunia seperti menggenggam bara api bisa membakar diri sendiri
Hikmahjalan
Kearifan/Pencerah Kepemimpinan 18/01/26
Sumber: WAGroup KAHMI Nasional (postMinggu18/1/2026/aspandysyam)





