Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemimpin yang berbohong kepada rakyat merupakan pemimpin yang berdosa dan mengkhianati kepentingan negara. Walaupun ini bentruk respon Presiden Prabowo terhadap orang-orang yang menuduh pemerintahannya telah berbohong kepada rakyat.
Semarak.co – Pernyataan itu disampaikan Presiden Prabowo saat meluncurkan Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7). Hal itu disampaikannya ketika menyinggung capaian pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan.
Ketua Umum Partai Gerindra ini awalnya menyampaikan bahwa pemerintahnya telah mencapai swasembada pangan dalam satu tahun. Prabowo berkata banyak orang yang meremehkan pencapaian tersebut.
“Berdosalah pemerintah yang berbohong kepada rakyatnya. Berdosalah pemimpin yang berbohong kepada rakyatnya. Berkhianatlah pemimpin yang tidak setia kepada kepentingan negara di atas segala kepentingan,” ujar Prabowo seperti dilansir cnnindonesia.com, Kamis, 09 Jul 2026 19:18 WIB.
Menurut Prabowo, masih ada pihak yang meremehkan pentingnya swasembada pangan dan menuduh pemerintah tidak menyampaikan kondisi yang sebenarnya kepada masyarakat. Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) era Presiden Jokowi ini lalu menepis tuduhan tersebut.
“Bahkan banyak orang yang mengangkat dirinya sebagai orang pintar, mengejek, menyekat, dan menuduh bahwa kita pemerintah berbohong kepada rakyat, bahwa kita belum swasembada pangan. Pemerintah tidak boleh menyampaikan kebohongan kepada rakyat,” tuturnya.
Termasuk mengenai capaian swasembada pangan yang menurutnya telah berhasil diwujudkan. “Alhamdulillah, kita sudah buktikan bahwa kita mampu mengamankan dan menghasilkan pangan untuk rakyat kita. Alhamdulillah, kita sudah swasembada pangan,” ucap Presiden Prabowo.
“Dari target empat tahun, kita telah berhasil dalam satu tahun. Banyak pihak yang meremehkan pentingnya swasembada pangan. Sejak sebelum dilantik jadi presiden, dia telah menekankan kepada tim inti dan para penasihatnya pentingnya mewujudkan swasembada pangan dan swasembada energy.”
Termasuk mengurangi ketergantungan terhadap impor pangan dan bahan bakar minyak. Selain pangan dan energi, Prabowo menyebut ketersediaan air menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kelangsungan hidup suatu bangsa.
Menurut Prabowo, TNI hingga kini terus melaksanakan program pengeboran air di daerah yang mengalami kesulitan air. Sepanjang tahun ini, sekitar 30 ribu titik pengeboran telah dilakukan. “Sampai sekarang TNI terus mencari air, TNI terus membor air di tempat-tempat yang susah,” imbuhnya.
“Panglima TNI sudah tahun ini saja sudah berapa lubang air yang kita ‘drill’? Sudah 30 ribu, dan terus ada masalah kita atasi,” demikian Presiden Prabowo dalam sambutan peluncuran program Biodiesel B50 seperti dilansir tempo.co, 9 Juli 2026 | 21.43 WIB.
Skema B50 mewajibkan pencampuran biodiesel kelapa sawit sebesar 50% ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan kebijakan ini akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar.
Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita. Rata-rata konsumsi solar di Indonesia adalah 38-40 juta kiloliter per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Indonesia selama ini masih melakukan impor solar sekitar 3-4 juta kiloliter per tahun.
Bahlil menyebut pencampuran 50% biodiesel kelapa sawit ke dalam BBM akan menurunkan kebutuhan solar murni di Indonesia. Melalui perluasan program B50, ia menyampaikan, volume produksi dalam negeri dinilai sudah sanggup memenuhi seluruh kebutuhan pasar domestik secara mandiri.
Ketua Umum Partai Golkar ini berujar, pemerintah telah melakukan uji coba Biodiesel B50 selama enam bulan sebelum meluncurkannya ke masyarakat. Pemerintah menguji pada enam sektor pengguna mesin diesel, yaitu otomotif, alat dan mesin pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, pembangkit listrik, dan kereta api. (net/cnn/tpc/gle/smr)





