Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menyoroti betapa pentingnya peran media dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang zakat dan filantropi Islam. Hal ini dilakukan sebagai upaya mendukung program pemerintah dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia.
Semarak.co – Hal itu seperti terungkap dalam talkshow bertajuk Menguatkan Indonesia: Mengelola Potensi Zakat dan untuk Kesejahteraan Umat Melalui Media Massa yang diselenggarakan Baznas dan Forum Matraman di gedung Baznas Pusat kawasan Matraman, Jakarta Timur, Senin sore (16/3/2026).
Ketua Baznas Sodik Mudjahid mengatakan, zakat memainkan peran strategis dalam membantu pemerintah mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penyaluran zakat harus berlandaskan prinsip syariah, terutama terkait delapan golongan penerima zakat (asnaf).
Seperti fakir, miskin, gharimin, dan riqab. Pemahaman ini menjadi perhatian Presiden dalam mendorong peran zakat di Indonesia. Dukungan pemerintah terhadap penguatan zakat selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang sangat memperhatikan kesejahteraan masyarakat kecil.
“Saya kenal Presiden Prabowo sudah lebih dari 20 tahun. Jadi saya melihat langsung bagaimana komitmen Presiden terhadap rakyat kecil dan menjaga aset negara untuk kepentingan rakyat. Dalam konteks itulah Baznas ditugaskan membantu pemerintah, terutama dalam dan peningkatan kesejahteraan,” kata Sodik.
Untuk itu, Sodik kemudian mengapresiasi peran media dalam memperluas pemahaman masyarakat mengenai zakat. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tapi juga mengedukasi tentang pentingnya membantu mustahik dan mendorong partisipasi muzaki.
“Teman-teman media itu beramal dalam dua hal. Pertama, mengkomunikasikan kondisi mustahik yang membutuhkan bantuan. Kedua, mengedukasi dan memotivasi para muzaki agar semakin banyak yang menunaikan zakat,” ujar dia.
Literasi zakat yang baik dapat memperbesar potensi penghimpunan dana umat sehingga semakin banyak masyarakat yang terbantu. “Dengan Baznas makin besar, maka semakin banyak mustahik yang bisa kita layani,” tutur Sodik dalam sambutan membuka talkshow sekaligus perkenal diri sebagai ketua Baznas yang baru 2026-2031.
Kemudian tampil sebagai pembicara Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin. “Masalah utama dalam ekonomi global bukanlah kekurangan dana, melainkan ketimpangan distribusi kekayaan. sebagian kecil masyarakat menguasai sebagian besar kekayaan,” terang dia.
Sehingga berbagai instrumen ekonomi modern terus dicari untuk mengatasi masalah ini. Amir berpendapat bahwa konsep zakat yang telah ada dalam Islam selama lebih dari 1.400 tahun menawarkan mekanisme redistribusi yang relevan untuk menjaga keseimbangan sosial.
“Zakat bukan hanya kewajiban individual, tapi juga bentuk kesalehan sosial yang menjaga solidaritas antara kelompok kaya dan miskin. Zakat berperan sebagai penyeimbang sosial yang mengurangi kesenjangan dan mencegah konflik akibat ketimpangan ekonomi,” tuturnya.
Amir juga menyoroti potensi zakat yang diperkirakan mencapai Rp327 triliun per tahun, tetapi realisasi penghimpunannya masih sekitar Rp41 triliun. “Artinya ruang pertumbuhannya masih sangat besar. Kita perlu meningkatkan partisipasi masyarakat agar potensi tersebut dapat dimaksimalkan,” ujarnya.
Peningkatan partisipasi zakat dapat didorong melalui pendekatan ekonomi perilaku atau nudge, seperti pesan sosial yang mengingatkan bahwa sebagian besar masyarakat telah menunaikan zakat. Kemudahan kanal pembayaran digital juga dinilai penting untuk memfasilitasi masyarakat dalam menunaikan zakat.
Sedangkan Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyidin menekankan perlunya memperluas narasi di media, tidak hanya pada zakat tetapi juga instrumen lain seperti wakaf, infak, dan sedekah. Potensi filantropi Islam di Indonesia bisa jauh lebih besar jika seluruh instrumen tersebut dioptimalkan.
Andi menyoroti tingginya solidaritas masyarakat Indonesia terhadap isu kemanusiaan global, termasuk bantuan untuk warga Palestina. “Saya pernah melihat langsung peran relawan Indonesia di Yordania yang membantu menyalurkan bantuan bagi pengungsi Palestina. Saya bertemu mahasiswa Indonesia di Yordania yang membantu distribusi bantuan,” ujarnya.
Dilanjutkan Andi, “Banyak dari mereka adalah generasi muda yang sangat peduli pada aksi kemanusiaan. Jadi stigma yang menyebut masyarakat Indonesia tidak peduli terhadap isu sosial perlu dikoreksi. Banyak anak muda justru aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, termasuk membantu penyaluran bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.”
Pimpinan Baznas yang baru H. Idy Muzayyad menilai komunikasi tentang zakat perlu disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk generasi muda. Utamanya menyesuaikan tempat atau daerah di mana tingkat literasi yang masih rendah.
Ia mengusulkan pendekatan komunikasi yang lebih sederhana, seperti penggunaan tagline yang mudah diingat. “Zakat itu mudah, zakat itu indah, dan zakat itu berkah. Pesan seperti ini lebih mudah dipahami masyarakat. Saya menilai sinergi antara Baznas dan media penting agar berbagai program zakat dan kisah inspiratif penerima manfaat dapat diketahui publik secara luas.
Pimpinan Baznas incumbent Rizaludin menjelaskan, strategi penghimpunan zakat juga dilakukan dengan memperkuat basis donatur dari generasi muda. Ia menyebut sekitar 70% jumlah donatur Baznas berasal dari generasi Z dan milenial.
“Namun kontribusi terbesar masih berasal dari kelompok usia di atas 40 tahun. Karena itu, strategi kami adalah memperkuat basis donatur muda agar nantinya berkembang menjadi donatur yang loyal,” kata Rizaludin yang menjabat pimpinan Baznas bidang Pengumpulan di periode sebelumnya.
Selain itu, Baznas juga memperkuat sejumlah strategi lain. Mulai dari peningkatan layanan kepada donatur, pengembangan fintech, digitalisasi pengelolaan dana umat, hingga peningkatan kompetensi sumber daya manusia pengelola zakat.
Kepercayaan public, cetus Rizaludin, menjadi faktor utama yang mendorong masyarakat menunaikan zakat melalui lembaga resmi. “Banyak muzakki memilih menyalurkan zakat melalui Baznas karena faktor kepercayaan terhadap lembaga,” ujar Rizaludin yang mantan wartawan.
Melalui kolaborasi dengan media serta penguatan komunikasi publik, Baznas berharap literasi zakat dan filantropi Islam di Indonesia dapat terus meningkat sehingga semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam gerakan sosial tersebut.
Sementara Pelaksana Tugas (Plt) Deputi IV Badan Komunikasi Pemerintah Adita Irawati menilai kolaborasi antara pemerintah, Baznas, dan media menjadi kunci dalam memperkuat komunikasi publik terkait program filantropi Islam.
Baznas merupakan lembaga strategis dalam menggerakkan ekonomi umat sekaligus mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah akan membantu mengorkestrasi narasi agar masyarakat tidak hanya melihat Baznas sebagai lembaga pengumpul dana.
“Melainkan sebagai institusi yang amanah, transparan, dan profesional dalam memberdayakan umat. Peran kami adalah memastikan pesan-pesan baik dan program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dapat tersampaikan kepada publik dengan narasi yang tepat, positif, dan transparan,” kata Adita.
Adita menyoroti potensi zakat dari kalangan milenial dan Gen Z. Pendekatan komunikasi terhadap kelompok tersebut perlu lebih adaptif dengan memanfaatkan media digital dan storytelling yang menonjolkan dampak nyata program zakat. Potensi muzaki dari kalangan milenial dan Gen Z sangat besar.

“Tapi pendekatannya harus lebih digital dan menunjukkan dampak nyata bagi masyarakat. Saya berharap literasi zakat di Indonesia dapat semakin meningkat sekaligus memperkuat akuntabilitas pengelolaan dana umat melalui kolaborasi dengan media. Kami siap memfasilitasi komunikasi ini agar lebih intensif ke depannya,” tutup Adita.
Sebelumnya Ketua Baznas Sodik sempat mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo telah mengingatkan kepadanya kalau zakat tidak boleh digunakan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sodik mengaku, dia mendapatkan mandat khusus dari Presiden tak lama setelah ditetapkan menjadi Ketua Baznas RI.
“Sodik, kamu bantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan, bantu pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan. Tapi aku tahu, bahwa zakat itu ada asnaf-asnafnya (orang yang berhak menerimanya),” kutip Sodik menirukan perkataan Presiden Prabowo.
Sodik melanjutkan, Prabowo menginginkan Baznas dapat hadir dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai programnya, namun tidak untuk MBG karena terdapat pihak yang tidak termasuk ke dalam asnaf penerima zakat. Prabowo juga memiliki komitmen yang kuat dalam menyejahterakan masyarakat.
Termasuk salah satunya melalui instrumen zakat, infak, dan sedekah (ZIS). “Saya bukan hanya melihat dan mendengarkan, tapi merasakan sekali bagaimana komitmennya terhadap rakyat-rakyat kecil itu dan bagaimana komitmennya Pak Prabowo terhadap menjaga aset negara betul-betul untuk rakyat kita,” katanya.
Tsamar juga Soroti soal Publikasi Baznas
Di bagian Baznas menarget penghimpunan zakat selama Ramadhan sebesar Rp 515 miliar. Dengan penghimpunan zakat fitrah sekitar Rp13 miliar. “Di bulan Ramadhan ini, Baznas menargetkan Rp515 miliar ya? Perolehan sampai saat ini sudah di angka 77 persen ya, Insya Allah masih cukup positif,” Rizaludin.
Biasanya ada penambahan yang cukup signifikan dana zakat yang dihimpun menjelang Idul Fitri. Dalam sehari bisa terjadi puluhan ribu transaksi pembayaran zakat di hari-hari menjelang Idul Fitri. Terkait target zakat fitrah Rp13 miliar pada Ramadhan tahun ini, Baznas mengeluarkan keputusan tentang zakat fitrah Rp50 ribu per orang jika membayar zakat melalui uang.
Dari dana Rp 50 ribu tersebut, Baznas akan membeli beras premium sebanyak 2,5 kilogram untuk disalurkan kepada mereka yang berhak menerima zakat fitrah. “Nah, berasnya ini adalah beras premium yang dibeli oleh Baznas, jadi Rp 50 ribu itu adalah untuk beras premium, Baznas akan memberikan para fakir miskin dengan beras premium seharga Rp 50 ribu,” ujar Rizaludin.
Di tempat sama, Pimpinan Baznas Idy Muzayyad mengajak masyarakat untuk segera menunaikan zakat fitrah melalui Baznas dan LAZ resmi. Zakat fitrah tersebut nantinya oleh Baznas akan disalurkan dalam bentuk beras premium sebanyak 2,5 kilogram.
“Masyarakat diimbau menunaikan zakat fitrah melalui Baznas dan LAZ resmi agar disalurkan ke penerima zakat fitrah yang tepat dan berhak. Menunaikan zakat melalui Baznas dan LAZ resmi dinilai menjadi salah satu cara paling efektif untuk memastikan dana zakat tersalurkan secara tepat sasaran.
Baznas dan LAZ resmi memiliki sistem pengelolaan yang transparan, terukur dan diawasi oleh negara, sehingga penyaluran zakat dapat menjangkau mustahik secara lebih luas dan terorganisasi. Menurut dia, ketika zakat dihimpun melalui lembaga resmi
Seperti Baznas maupun LAZ yang telah mendapat izin pemerintah, dana tersebut tidak hanya disalurkan untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga dikelola dalam berbagai program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Dengan demikian, zakat tidak hanya membantu meringankan beban sesaat, tetapi juga berkontribusi dalam upaya pengentasan kemiskinan secara berkelanjutan,” ujar Idy yang terpilih dari unsur tokoh masyarakat.
Pembicara lainnya lagi, Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga Bidang Humas Tsamara Amany yang mendorong Baznas didorong untuk memperluas keterlibatan generasi muda dalam gerakan zakat dan aksi sosial di Indonesia.
Tsamara berpendapat, mayoritas penduduk Indonesia saat ini berada pada usia produktif dan memiliki ketertarikan yang besar pada kegiatan yang memberikan dampak sosial. Potensi ini perlu difasilitasi dengan ruang dan jalur yang jelas agar semangat kontribusi dapat tersalurkan secara positif.
“Banyak anak muda Indonesia yang sebenarnya ingin berkontribusi untuk dampak sosial. Jika ada ruang dan jalurnya, saya percaya mereka akan terlibat aktif. Berbagai survei global menunjukkan bahwa sekitar 60–70% generasi Z memiliki minat besar pada aktivitas yang memberikan dampak sosial bagi masyarakat,” ujarnya.
Namun, Tsamara juga menyoroti meningkatnya penggunaan layanan pinjaman online di kalangan anak muda. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2025 menunjukkan nilai pinjaman online mencapai sekitar Rp96 triliun dan didominasi oleh kelompok usia 19 hingga 34 tahun.
Kondisi ini menjadi perhatian karena menunjukkan banyak anak muda yang terpapar aktivitas finansial berisiko. Karena itu, Tsamara menilai perlunya alternatif ruang kegiatan yang lebih produktif, termasuk melalui gerakan sosial dan filantropi.
“Ini menjadi concern kami juga. Kita perlu mencarikan ruang lain agar energi dan ketertarikan anak muda bisa tersalurkan pada aktivitas yang lebih positif. Jadi perannya Baznas dalam memberikan dampak sosial bagi masyarakat,” bebernya.
Baznas dinilai memiliki rekam jejak yang kuat dalam pengentasan kemiskinan dan bantuan kemanusiaan. Data Baznas menunjukkan bahwa pada 2023, lembaga tersebut berhasil membantu sekitar 54.000 orang keluar dari garis kemiskinan.
Ini capaian yang luar biasa, karena Baznas bekerja tidak hanya sebagai lembaga pengumpul dana, tetapi juga menjalankan fungsi sosial yang nyata untuk membantu masyarakat. Kontribusi Baznas dalam penyaluran bantuan kemanusiaan untuk Palestina adalah bentuk solidaritas masyarakat Indonesia terhadap isu kemanusiaan global.
Meski demikian, Tsamara menilai peran besar Baznas masih perlu diperkuat dari sisi publikasi dan komunikasi kepada masyarakat. Banyak program dan dampak sosial Baznas yang belum diketahui secara luas oleh publik. “Kalau memakai istilah anak muda sekarang, Baznas ini masih underrated. Perlu kita tingkatkan lagi publikasi dan sorotannya di media sosial maupun media massa,” katanya.
Pendekatan komunikasi berbasis cerita atau storytelling mengenai dampak program dinilai penting untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Dengan narasi yang kuat mengenai keberhasilan program zakat, publik akan lebih terdorong untuk berkontribusi melalui lembaga resmi seperti Baznas.
Selain sebagai donatur, Tsamara juga mendorong generasi muda terlibat sebagai relawan maupun penggerak kampanye sosial. Anak muda dapat berperan dalam menyebarkan informasi, menggerakkan aksi solidaritas, serta memperluas jangkauan kampanye filantropi.
Anak muda bisa berkontribusi bukan hanya melalui dana, tetapi juga sebagai relawan, penyebar informasi, dan penggerak aksi sosial. Potensi zakat di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp300 triliun per tahun, namun realisasinya saat ini masih jauh di bawah angka tersebut.
Tsamara berharap penguatan komunikasi publik serta keterlibatan generasi muda dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menunaikan zakat melalui lembaga resmi. “Jika narasi dampaknya kuat dan masyarakat tahu saluran yang kredibel, saya yakin partisipasi publik akan semakin besar,” tutup Tsamara. (net/smr)





