Hasil investigasi resmi militer Israel menyimpulkan bahwa kegagalan keamanan menjelang operasi Hamas pada 7 Oktober 2023 bukan disebabkan oleh kurangnya pengumpulan data intelijen, melainkan akibat kesalahan interpretasi informasi.
Semarak.co – Akibat kesalahan interpretasi informasi selama bertahun-tahun serta keyakinan yang keliru bahwa Hamas telah berhasil diredam. Temuan awal ini dipaparkan oleh Mayjen (Purn) Roni Numa, kepala tim investigasi militer Israel terkait dokumen intelijen yang dikenal sebagai Jericho Wall.
Roni Numa mengatakan itu melalui siaran stasiun penyiaran publik Israel, KAN. Menurutnya, investigasi ini tidak hanya merekonstruksi peristiwa 7 Oktober, tetapi secara spesifik mengkaji mengapa institusi militer dan intelijen Israel gagal memahami niat Hamas meski telah mengumpulkan peringatan selama bertahun-tahun.
“Kami gagal menyadari bahwa kami tidak memahami Hamas,” ujar Numa dilansir Arrahmah.id (6/7/2026). Investigasi tersebut mengungkapkan, intelijen Israel sebenarnya telah mengumpulkan informasi mengenai rencana Hamas untuk menembus sistem pertahanan sekitar Jalur Gaza sejak 2016.
Penilaian tersebut diperbarui pada 2019 dan 2022, namun temuan tersebut tidak pernah ditindaklanjuti dengan persiapan operasional yang memadai. Dokumen Jericho Wall diketahui telah sampai ke tangan pejabat senior militer, termasuk komandan Komando Selatan dan Intelijen Militer.
Namun, alih-alih menganggapnya sebagai bagian dari strategi operasional berkembang, dokumen itu justru diperlakukan penilaian intelijen yang terisolasi. Hal ini memerkuat keyakinan di lingkungan keamanan, Hamas tidak memiliki kemampuan maupun niat untuk meluncurkan serangan skala besar.
Numa mengkritik ketergantungan institusi yang berlebihan pada teknologi dengan mengorbankan keahlian manusia. Beberapa unit intelijen sempat meyakini bahwa spesialis bahasa Arab dapat digantikan oleh sistem penerjemahan otomatis.
Menurut Numa, pendekatan ini adalah kesalahan analitis mendasar yang melemahkan kemampuan Zionis Israel dalam memahami pola pikir, niat dan perencanaan operasional Hamas. Kesimpulan paling signifikan dari investigasi ini adalah, kegagalan Israel merupakan kegagalan konseptual dalam analisis intelijen.
Asumsi bahwa Hamas telah berhasil diredam berakar kuat di seluruh jajaran keamanan Zionis Israel, bahkan bertahan di bawah kepemimpinan tiga kepala staf militer berturut-turut dan berbagai komandan intelijen senior.
Laporan menyimpulkan, para pemimpin militer Israel menjadi “tawanan” dari konsep strategis yang sudah mapan, yang menghalangi mereka untuk mengenali besarnya ancaman, meskipun mereka sebenarnya memiliki intelijen.
Intelijen yang, jika dilihat kembali, menunjukkan persiapan kelompok pejuang Hamas di Palestina untuk operasi 7 Oktober. Temuan ini menambah daftar panjang penyelidikan militer resmi Israel yang mengaitkan peristiwa 7 Oktober.
Yakni menambah daftar panjang penyelidikan militer resmi Zionis yang mengaitkan dengan kegagalan sistemik dalam analisis, perencanaan, dan pengambilan keputusan, bukan sekadar kelalaian intelijen tunggal negara yahudi Israel. (net/aid/kan/kim/smr)





