Direktur Jenderal Pembinaan, Pelatihan, dan Produktivitas Kemnaker Bambang Satrio Lelono. Foto: internet

Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) mengalokasikan dana sebesar Rp5,2 triliun untuk pelatihan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) seluruh Indonesia termasuk di BLK Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara.

semarak.co -Direktur Jenderal Pembinaan, Pelatihan, dan Produktivitas Kemenaker Bambang Satrio Lelono mengungkapkan, 76 persen alokasi dana tersebut untuk pelatihan dan pendidikan vokasi atau pengembangan SDM termasuk untuk pembangunan fasilitas, peremajaan alat di setiap BLK se-Indonesia.

Hal itu, kata Bambang, merupakan wujud keseriusan Kementerian Ketenagakerjaan dalam rangka untuk merespon program prioritas pembangunan nasional, yaitu pembangunan kualitas SDM.

“Anggaran tersebut adalah untuk mengimplementasikan program-program peningkatan kompetensi tenaga kerja dan produktivitas yang akan dilatih pada tahun 2020 ini sebanyak kurang lebih 500 ribu orang dan juga akan mensertifikasi 381.065 orang,” kata Bambang di Kendari, Jumat (21/2/2020).

Menurut Bambang, pelatihan menjadi salah satu solusi bagi setiap tenaga kerja dalam rangka untuk meningkatkan keterampilannya dan untuk mendapatkan pekerjaan. Sehingga ia meminta kepada peserta di BLK Kendari agar tidak hanya meningkatkan skill (technival skill, soft skill), tetapi juga harus melek teknologi.

Dengan alokasi dana yang lumayan besar, kata dia, diharapkan peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pelatihan berbasis kompetensi dapat mencapai sasaran, tidak hanya terhadap aspek kuantitas dan kualitas, tetapi juga pada aspek penerapan tenaga kerja di Indonesia juga termasuk peningkatan produktivitasnya.

“Artinya anggaran yang telah dialokasikan oleh pemerintah dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan juga dunia industri sehingga dapat menyerap tenaga kerja, dapat meningkatkan kesejahteraan dan mampu meningkatkan produktivitas perusahaan dan mendorong ekonomi nasional,” ujarnya.

Sementara itu, para peserta yang mengikuti pelatihan berbasis kompetensi (PBK) di BLK Kendari, Sultra) dituntut untuk tidak hanya memiliki skil dan kompetensi, tetapi dituntut melek teknologi.

“Pelatihan tidak hanya tentang technical skill, soft skill, tetapi perlu juga ditambah digital skill agar siapa pun yang pelatihan di BLK Kendari juga melek digital karena ke depan adalah zaman era digital,” kata Bambang.

Di era digital seperti saat ini, lanjut dia, orang bekerja harus juga mampu memanfaatkan teknologi yang semakin berkembang. Ia mengungkapkan jika seseorang tidak paham bagaimana menggunakan teknologi maka akan ketinggalan.

Karena itu, lanjutnya, seseorang harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. “Saya mendorong seluruh peserta pelatihan BLK Kendari dapat terlibat aktif dalam menyosialisasikan manfaat pelatihan yang dilaksanakan di BLK Kendari dengan menggunakan multimedia,” terangnya.

Termasuk media sosial, lanjut dia, sehingga seluruh masyarakat tahu manfaat untuk maju dalam pengembangan sumber daya manusia. Ia juga menyampaikan kepada para peserta BLK tidak salah dalam memilih jurusan kepelatihan.

Ia menyarankan agar memprogram pelatihan yang sesuai dengan potensi diri, sesuai dengan bakat dan diselaraskan dengan potensi atau peluang kerja yang ada. “Sehingga nantinya setelah selesai pelatihan dari BLK Kendari langsung bisa bekerja,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga meminta kepada peserta di BLK Kendari membangun koneksi dengan siapa saja, baik dengan lingkungan BLK dengan lingkungan industri. Karena, kata dia, jejaring inilah yang menentukan atau membuka akses informasi, membuka akses peluang untuk meningkatkan keterampilannya, meningkatkan keahliannya. (net/lin)

LEAVE A REPLY