Oposisi Iran Minta Dunia Bantu Gulingkan Rezim Teheran, dan Janji akan Akui Israel

Reza Pahlavi, tokoh oposisi dan putra mahkota terakhir Iran yang hidup di pengasingan, kembali menyerukan dukungan internasional untuk membantu demonstran menggulingkan rezim Ayatollah Ali Khamenei.

Semarak.co – Dia memeringatkan, Iran “mendekati keruntuhan” di tengah protes besar mematikan. Di konferensi pers di Washington, dilansir arrahmah.id dari The New Arab (16/1/2026), Pahlavi meminta komunitas internasional dan negara-negara Barat untuk mengambil langkah konkret.

Langkah konkret itu termasuk menekan militer Iran, menargetkan struktur komando dan kepemimpinan Garda Revolusi Iran (IRGC), serta memberlakukan tekanan ekonomi dan diplomatik terhadap pemerintah Teheran.

“Rakyat Iran mengambil tindakan tegas di lapangan. Kini saatnya masyarakat internasional berdiri sepenuhnya bersama mereka,” kata Pahlavi, seraya menegaskan bahwa revolusi di dalam negeri akan lebih efektif jika dunia bersatu membantu.

Pahlavi mengusulkan sejumlah langkah, termasuk: Menargetkan aset global dan kepemimpinan IRGC, memperlemah kemampuan rezim menekan oposisi;
Mempersulit aktivitas diplomatik Teheran dengan pengusiran diplomat dan pembekuan aset.

Yakni menyediakan akses internet aman melalui layanan seperti Starlink untuk mengatasi blokade komunikasi rezim; Mendesak pembebasan tahanan politik.
Walaupun menegaskan, intervensi militer asing tidak diperlukan dan rakyat Iranlah yang “secara nyata berada di garis depan perjuangan.

Pahlavi menilai kemenangan besar akan bisa diraih dan akan lebih cepat dengan risiko korban yang lebih sedikit bila negara-negara besar mengambil tindakan bersama (menggulingkan) pemerintahan Republik Iran yang sah saat ini.

Bahkan dia menyatakan keyakinannya bahwa Republik Iran hampir runtuh, menyebut rezim sebagai “kekuatan yang tidak mewakili rakyat Iran” dan “berperang melawan rakyatnya sendiri,” sambil menuduh otoritas Iran melakukan kekerasan besar-besaran terhadap demonstran sipil.

Pahlevi juga berjanji akan mengakui keberadaan Israel dan akan membantu mendirikan Temple yang dinantikan warga; Israel di Yerusalem. Klaim ini muncul di tengah protes nasional yang telah berlangsung sejak 28 Desember 2025.

Klaim yang dipicu oleh krisis ekonomi Iran dan kemudian meluas menjadi tuntutan penghapusan rezim Teheran secara keseluruhan. Lembaga hak asasi luar negeri melaporkan ribuan tewas dalam dua pekan terakhir akibat kekerasan aparat.

Meskipun angka pastinya tidak dapat diverifikasi karena penutupan internet dan kontrol informasi yang ketat. Namun reaksi internasional terhadap seruan Pahlavi terpecah: beberapa negara mendukung tekanan diplomatik dan ekonomi terhadap Iran.

Sementara kekhawatiran tentang potensi eskalasi konflik di Timur Tengah membuat beberapa pemerintah negara-negara lebih berhati-hati dalam menanggapi ajakan langsung untuk campur tangan dalam urusan dalam negeri Iran.

Hingga kini, otoritas Iran belum menanggapi secara resmi permintaan Pahlavi, namun pemerintah Teheran secara konsisten menyebut demonstran sebagai agen asing dan menolak klaim luar, mereka menghadapi penindasan besar-besaran yang memerlukan intervensi internasional. (net/aid/tna/rts/kim/smr)

Pos terkait