Menteri Austria Sebut Satu Teroris Islamis di Balik Serangan Wina, Tujuh Korban Kondisinya Kritis

Polisi berjaga di depan kantor Kementerian Dalam Negeri Austria saat konferensi pers berlangsung pascapenembakan di Wina, Austria, Selasa (3/11/2020). Foto: internet

Tujuh dari 17 korban akibat serangan di Wina dalam kondisi kritis dan mengancam nyawa. Semua korban luka dirawat di sejumlah rumah sakit, terutama akibat luka tembak dan sayatan. Menurut juru bicara Asosiasi Kesehatan Austria, 10 pasien dengan luka ringan masih dalam keadaan shok.

semarak.co-Juru bicara tersebut seperti dikutip Kantor Berita APA Austria pada Selasa (3/11/2020) yang mengutip juru bicara Asosiasi Kesehatan melansir bahwa korban keempat meninggal pada Selasa pagi.

Sementara itu, ORF TV melaporkan bahwa orang keempat yang meninggal dalam serangan tersebut adalah perempuan, sehingga jumlahnya menjadi dua perempuan dan dua pria warga sipil, selain penyerang yang ditembak mati oleh petugas.

Dua orang terbunuh setelah sejumlah orang bersenjata melepaskan tembakan di Wina pusat pada Senin (2/11/2020) dan sedikitnya satu penyerang melarikan diri setelah apa yang digambarkan Kanselir Sebastian Kurz sebagai satu serangan teroris yang menjijikkan.

Menteri Dalam Negeri Karl Nehammer memperingatkan masyarakat untuk menjauh dari pusat kota, seraya menambahkan pemeriksaan perbatasan sedang diperketat dan anak-anak tak perlu masuk sekolah pada Selasa (3/11/2020).

Nehammer mengatakan pada awal konferensi pers bahwa beberapa orang terbunuh. Seorang pejabat kemudian mengklarifikasi bahwa dua orang tewas, seorang warga sipil dan tersangka penyerang.

“Kami mengerahkan bersama-sama beberapa satuan pasukan khusus yang sedang mencari para tersangka teroris. Oleh karena itu saya tak membatasinya pada kawasan Wina, sebab ini merupakan pelaku-pelaku yang bergerak cepat,” Nehammer mengatakan sebelumnya kepada penyiar ORF.

Kurz mengatakan pasukan bersenjata akan melindungi tempat-tempat di ibu kota sehingga polisi dapat memusatkan diri pada operasi anti teror. Berbicara kepada ORF, dia mengatakan para penyerang dipersenjatai sangat lengkap dengan senjata-senjata otomatis dan dipersiapkan secara profesional.

Polisi mengatakan di Twitter bahwa sedikitnya satu orang terbunuh dan bahwa yang terluka termasuk seorang petugas polisi. Wali kota Wina Michael Ludwig mengatakan kepada ORF bahwa 15 orang sedang dirawat di beberapa rumah sakit Wina, dan tujuh di antaranya dalam kondisi parah.

Polisi juga mengatakan telah menembak mati salah satu penyerang. Nehammer mengatakan semua enam lokasi dalam serangan itu dekat jalan tempat sinagog pusat itu berdiri.

Rabbi Schlomo Hofmeister mengatakan kepada radio LBC London dia tinggal di kompleks sinagog. “Saat dengar tembakan-tembakan, kami melongok dari jendela dan melihat orang-orang bersenjata menembak ke arah para tamu berbagai bar dan pub,” katanya.

Dalam konferensi pers yang disiarkan televisi pada Selasa, Nehammer mengulangi seruan agar masyarakat tetap di rumah, dengan mengatakan bahwa satu penyerang, yang mengenakan sabuk bahan peledak yang ternyata palsu, adalah simpatisan ISIS.

Penyerang itu ditembak mati oleh polisi, yang masih memburu penyerang lainnya. “Kami mengalami serangan kemarin malam dari setidaknya satu teroris Islamis,” kata Nehammer, yang menambahkan bahwa serangan itu merupakan upaya untuk melemahkan atau memecah belah masyarakat demokratis Austria.

Orang-orang bersenjata menyerang enam lokasi di Wina tengah pada Senin malam (2/11/2020), dimulai di luar bangunan ibadah Yahudi sinagoga. Para saksi menggambarkan orang-orang itu menembaki kerumunan di bar dengan senapan otomatis, karena banyak orang memanfaatkan malam terakhir sebelum jam malam nasional diberlakukan akibat wabah COVID-19.

Polisi mengkonfirmasi pada Selasa bahwa tiga warga sipil—dua pria dan satu wanita— tewas dalam serangan itu, dan 15 orang lainnya terluka, termasuk seorang petugas polisi.

Polisi menutup sebagian besar pusat bersejarah Wina dalam semalam dan mendesak masyarakat untuk berlindung. Banyak yang mengungsi di bar dan hotel, sementara transportasi umum di seluruh kota tua ditutup dan polisi menjelajahi kota.

Ibu kota Austria sejauh ini terhindar dari jenis serangan militan mematikan yang melanda Paris, London, Berlin, dan Brussel dalam beberapa tahun terakhir.

Oskar Deutsch, kepala komunitas Yahudi Wina, yang memiliki kantor yang berdampingan dengan tempat ibadah di jalan berbatu sempit yang dihiasi dengan bar, mengatakan melalui Twitter bahwa tidak jelas apakah kuil atau kantor menjadi sasaran.

Video beredar di media sosial tentang seorang pria bersenjata yang berlari di jalan berbatu dan berteriak. Salah satunya menunjukkan seorang pria menembaki seseorang di luar tempat yang tampak seperti sebuah bar di jalan di mana terdapat sinagoga.

Belasungkawa mengalir dari seluruh dunia, dengan pejabat tinggi dari Uni Eropa, Prancis, Norwegia, Yunani, dan Amerika Serikat menyatakan keterkejutan mereka atas serangan tersebut.

Polisi mengatakan di Twitter bahwa sedikitnya satu orang terbunuh dan beberapa terluka, termasuk seorang petugas polisi. ORF melaporkan bahwa 15 orang sedang dirawat di beberapa rumah sakit Wina, dan tujuh berada dalam kondisi parah.

Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang negaranya mengalami dua serangan pisau mematikan di Paris dan Nice dalam beberapa pekan ini, mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan rasa terkejut dan duka. “Ini Eropa kita,” katanya, “Musuh-musuh kita harus tahu dengan siapa mereka sedang berhadapan. Kami tak akan mundur.”

Para pejabat Prancis meningkatkan keamanan setelah serangan-serangan di Paris dan Nice, yang dicurigai mengandung motif-motif Islamis. Macron mengerahkan ribuan tentara untuk melindungi berbagai tempat, seperti rumah-rumah ibadah dan sekolah-sekolah. Sementara itu, para menteri memperingatkan bahwa serangan-serangan kalangan garis keras dapat terjadi.

Pemimpin komunitas Yahudi Oskar Deutsch mengatakan di Twitter bahwa tak jelas apakah sinagoge, tempat ibadah kaum Yahudi, di Wina itu atau kantor-kantor yang berdampingan yang menjadi sasaran serangan Wina. Ia mengatakan bahwa, pada saat kejadian, tempat-tempat itu tutup.

Video-video beredar di media sosial tentang pria bersenjata sedang berlari di jalanan berbatu seraya menembak dan berteriak. Reuters belum dapat membuktikan kebenaran video-video itu.

Pada 1981, dua orang terbunuh dan 18 luka-luka selama serangan oleh dua orang Palestina di sinagoge yang sama. Pada 1985, satu kelompok ekstremis Palestina menyerang bandara Wina dengan granat tangan dan senapan serbu, menewaskan tiga warga sipil.

Pada tahun-tahun belakangan, Austria terhindar dari jenis serangan skala besar yang terjadi di Paris, Berlin, dan London. Pada Agustus, pihak berwenang menangkap seorang pengungsi Suriah berusia 31 tahun, yang diduga berusaha menyerang seorang pemimpin komunitas Yahudi di Gratz, kota kedua negara itu. Pemimpin itu tak terluka. (net/smr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *