Mendikdasmen Mu’ti: Pendidikan di Papua Barat Daya Tidak Boleh Tertinggal

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, meresmikan Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) di Manokwari, Papua Barat, bertepatan dengan momen perayaan Iduladha, Kamis (28/5).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan langkah pemerintah untuk memastikan seluruh anak Indonesia tetap memperoleh akses pendidikan yang layak, termasuk di wilayah terpencil seperti Pulau Arar, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Semarak.co – Mendikdasmen menegaskan, tidak boleh ada anak Indonesia yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan karena memiliki kesulitan ekonomi, kemampuan intelektual, keterbatasan fisik, atau berada di daerah yang terpencil seperti di Pulau Arar ini.

Bacaan Lainnya

“Ini adalah amanat yang sungguh-sungguh kami tunaikan semaksimal mungkin,” ujar Mendikdasmen, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Kamis malam (29/5/2026).

Untuk itu, Kemendikdasmen menjadikan sekolah terdampak bencana, sekolah di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), serta sekolah dengan kerusakan fisik berat sebagai prioritas program Revitalisasi Satuan Pendidikan tahun 2026.  Selain pembangunan fisik, pemerintah juga memperluas akses pendidikan di daerah terpencil.

“Kita merasakan semangat yang sama untuk memajukan pendidikan di tanah air. Mari bersama-sama kita bangkitkan semangat agar anak-anak kita dapat tumbuh menjadi generasi emas Indonesia 2045,” lanjutnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya, Adolof Kambuaya, menyampaikan bahwa kunjungan Mendikdasmen ke Pulau Arar menjadi momen penting bagi masyarakat sekitar. “Ini pertama kali menteri bisa sampai di Pulau Arar,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Papua Barat Daya memiliki sekitar 160 ribu peserta didik, lebih dari 1.200 sekolah, dan sekitar 10 ribu guru yang tersebar di lebih dari 900 kampung. Karena itu, tantangan pemerataan layanan pendidikan di wilayah tersebut membutuhkan dukungan dan komitmen bersama dari pemerintah pusat maupun daerah.

Dampak program pendidikan pemerintah dirasakan murid di Pulau Arar. Meske Salomina Sosir, murid SMA Unimuda Pulau Arar, mengaku selama bertahun-tahun belajar di bangunan sekolah rusak. Namun melalui program revitalisasi, kondisi sekolah kini berubah total dengan ruang belajar yang telah direnovasi dan dibangun kembali.

Meske mengatakan, sebelumnya banyak murid yang enggan datang ke sekolah karena kondisi bangunan yang tidak nyaman. Kini, setelah ruang kelas diperbaiki, murid mulai kembali aktif mengikuti pembelajaran.

“Pembangunan sudah selesai satu bulan lalu. Kelasnya sudah dimanfaatkan, sudah bisa belajar. Perasaannya sangat gembira. Setiap hari kalau pagi belum ada guru, pasti kita murid pertama datang,” ungkapnya.

Dalam kunjungan tersebut, Mendikdasmen disambut antusias oleh guru dan murid sekolah sebelum meninjau langsung fasilitas yang telah dibangun dan siap dimanfaatkan.

Mendikdasmen kemudian meresmikan hasil revitalisasi tersebut sebagai bagian dari upaya menghadirkan fasilitas pendidikan yang lebih layak dan mendukung proses belajar mengajar di wilayah terpencil Papua.

Afirmasi Wilayah Timur, SMA Berbasis Kearifan Lokal di Manokwari Direvitalisasi

Kemendikdasmen menjadikan wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) sebagai jantung dari upaya pemerataan. Komitmen ini diwujudkan Mendikdasmen Abdul Mu’ti, melalui peresmian Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) di Manokwari, Papua Barat.

Dalam kunjungannya, Menteri Mu’ti menegaskan, Indonesia Timur prioritas dalam agenda pembangunan manusia. “Kami berkomitmen untuk bagaimana kesenjangan pendidikan itu dapat kami atasi secara bertahap dengan prioritas pada daerah-daerah 3T,” jelasnya.

Langkah afirmatif di wilayah 3T ini merupakan bagian tak terpisahkan dari visi besar pemerintahan saat ini. Mu’ti menjabarkan bahwa upaya tersebut adalah implementasi Asta Cita keempat Presiden yang bertekad memperbaiki seluruh sekolah di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun pertama.

“Pak Presiden memberikan arahan untuk ditambah 60.000. Kalau tambah 60.000 ini dapat kita realisasi, maka 2026 kami akan melakukan revitalisasi termasuk pendirian unit sekolah baru untuk 71.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Pemenuhan infrastruktur tersebut juga mematahkan anggapan bahwa perhatian pemerintah pada sektor pendidikan akan terbagi. Menteri Mu’ti dengan lugas memastikan program-program prioritas berjalan beriringan tanpa mengorbankan satu sama lain.

“Jadi kalau ada yang bilang komitmen pendidikan itu dikurangi dengan MBG, itu bukan kenyataan yang kita lihat di lapangan. Justru komitmen Bapak Presiden tetap kuat untuk bagaimana pendidikan ini maju, MBG jalan terus, revitalisasi jalan terus, dan digitalisasi juga jalan terus,” tegasnya.

SekdaPapua Barat Ali Baham Temongmere, menyampaikan penghargaan atas kesediaan Mendikdasmen berkunjung di tengah suasana perayaan Hari Raya Iduladha. Hal tersebut dinilai mencerminkan keseriusan dan pengorbanan nyata pemerintah pusat dalam memajukan pendidikan di wilayah timur Indonesia.

“Pemerintah Provinsi Papua Barat memiliki komitmen yang kuat untuk terus meningkatkan akses dan kualitas pendidikan di seluruh pelosok wilayah,” jelas Ali, seraya meyakini bahwa pendidikan adalah fondasi utama untuk mencetak sumber daya manusia yang cerdas dan berkarakter.

Di balik fasilitasnya, berdirinya SMAMCO menyimpan kisah gotong royong yang sangat menginspirasi. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Papua Barat, Mulyadi Djaya, menceritakan bahwa kompleks berisi 13 bangunan di atas perbukitan karang keras itu sukses diselesaikan hanya dalam waktu tiga bulan dari target 10 bulan.

Keberhasilan ini semakin bermakna dengan inklusivitas murid, di mana 60 hingga 70 persennya merupakan anak-anak asli Papua dan non-muslim. “Muhammadiyah di Papua tidak sedang menanam sekat perbedaan, melainkan sedang menenun sajadah kemanusiaan yang universal melalui jalur pendidikan,” tutur Mulyadi.  (hms/smr)

Pos terkait