Upaya diplomatik Amerika Serikat (AS) untuk menghidupkan kembali rencana perdamaian Gaza memasuki tahap penting. Utusan khusus Presiden Donald Trump, Jared Kushner, bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem, Senin, 17 Agustus 2026.
Semarak.co – Dikutip Kantor Berita Reuters dan Associated Press (AP), serta Al Jazeera (17/8/2026), pertemuan berlangsung sehari setelah Kushner melakukan pembicaraan langka dengan pemimpin Hamas Khalil al-Hayya di Kairo, Mesir.
Langkah ini menunjukkan Washington kembali berusaha menjembatani perbedaan Israel dan Hamas. Demikian dilansir AP News. Rencana yang didukung AS itu mengusulkan penghentian konflik secara bertahap.
Penghentian konflik secara bertahap yang dimaksud tersebut adalah termasuk pelucutan senjata para pejuang Islam Hamas, penarikan pasukan Zionis Israel dari Gaza, serta pembentukan kekuatan stabilisasi internasional.
Laporan Reuters, Hamas disebut telah menyatakan komitmen bersyarat terhadap peta jalan tersebut. Kelompok itu menginginkan penghentian serangan Israel dan penarikan pasukan sebagai bagian penting dari proses menuju pelucutan senjata.
Sementara Axios melaporkan, Netanyahu masih menolak mekanisme penarikan bertahap. Perdana Menteri Israel tersebut menegaskan pasukannya tidak akan meninggalkan Gaza sebelum Hamas dan kelompok bersenjata lainnya benar-benar dilucuti.
Perbedaan tersebut menjadi hambatan utama. AS menginginkan proses paralel antara pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel, sedangkan pemerintah Netanyahu menginginkan pelucutan senjata dilakukan terlebih dahulu.
Situasi politik domestik Israel turut mempersulit negosiasi. Pemilu nasional Israel dijadwalkan berlangsung pada Oktober, sehingga Netanyahu menghadapi tekanan politik dari berbagai kelompok dalam koalisi pemerintahnya.
Sejumlah negara Arab juga mengecam penolakan Israel terhadap rencana tersebut. Mereka mendesak Amerika Serikat menggunakan pengaruhnya untuk memastikan seluruh pihak mematuhi kesepakatan yang dapat membuka jalan bagi penghentian konflik.
AP News melaporkan, bagi Washington, pertemuan Kushner dengan Hamas dan Netanyahu menjadi peluang untuk menguji apakah kompromi masih memungkinkan. Namun, perbedaan mengenai urutan pelucutan senjata dan penarikan Israel tetap menjadi persoalan paling sulit.
Jika kesepakatan dapat dicapai, rencana tersebut berpotensi membuka jalan menuju penghentian kekerasan, pembentukan pemerintahan sipil Palestina, masuknya bantuan kemanusiaan, serta rekonstruksi Gaza yang lebih terkoordinasi. (net/rts/ap/alz/apn/kim/smr)





