Sejumlah petenis elite dunia melancarkan protes terhadap jadwal tenis Olimpiade Los Angeles 2028 karena turnamen tersebut dijadwalkan dimulai hanya tiga hari setelah final tunggal putra Wimbledon berakhir pada pertengahan Juli 2028 mendatang.
Semarak.co – Petenis Elena Rybakina menjadi salah satu yang bersuara paling keras. Petenis Kazakhstan itu menilai jarak waktu sangat sempit, terutama karena pemain harus berpindah benua sekaligus menyesuaikan permukaan lapangan keras di Olimpiade nanti.
Aryna Sabalenka juga meminta perubahan jadwal. Petenis Belarus tersebut menyebut jeda tiga hari tidak masuk akal dan berharap tersedia setidaknya satu pekan untuk pemulihan sebelum pertandingan Olimpiade dimulai secara resmi.
Keluhan serupa disampaikan Daniil Medvedev dan Iga Swiatek. Keduanya menilai kalender padat dapat meningkatkan tekanan fisik, terutama bagi pemain yang mencapai pertandingan final Wimbledon dan harus bertanding kembali di Olimpiade.
Masalah semakin kompleks karena Wimbledon dimainkan di lapangan rumput, sedangkan Olimpiade Los Angeles menggunakan lapangan keras. Perubahan permukaan dalam waktu singkat berpotensi menyulitkan persiapan atlet secara optimal sepanjang turnamen.
Pada Olimpiade Paris 2024, dilansir The Guardian dan Press Wire/Shutterstock (17/8/2026), terdapat jeda sekitar 13 hari setelah Wimbledon. Para pemain berharap penyelenggara memertimbangkan kembali kalender 2028 demi kesehatan, kesiapan serta kualitas pertandingan tenis internasional pada 2028.
Swiatek menegaskan persoalan penjadwalan bukan masalah baru. Menurutnya, kesejahteraan pemain sering kurang menjadi prioritas ketika kalender turnamen disusun oleh berbagai pihak penyelenggara tenis global dalam kalender padat sepanjang tahun kompetisi.
Protes para pemain kini membuka kembali perdebatan mengenai kalender tenis global. Mereka berharap perubahan dapat dilakukan sebelum Olimpiade 2028 berlangsung, sehingga atlet memiliki waktu perjalanan, pemulihan, serta adaptasi memadai nantinya. (net/tg/pw/s/kim/smr)





