Kelompok pejuang Islam pembela Palestina, Hamas resmi memilih Khalil Al Hayya sebagai pemimpin baru organisasi ini. Ia menggantikan posisi yang kosong sejak Yahya Sinwar tewas dalam operasi militer Israel pada Oktober 2024.
Semarak.co – Pergantian kepemimpinan Hamas tersebut dinilai menjadi momen penting yang dapat memengaruhi dinamika konflik Gaza, hubungan dengan Iran, hingga peluang perundingan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Pemilihan Khalil Al Hayya dilakukan melalui mekanisme internal Hamas yang berlangsung ketat. Dalam proses pemungutan suara tersebut, Al Hayya mengungguli mantan kepala biro politik Hamas, Khaled Meshaal, hanya dengan selisih satu suara.
Kemenangan tipis itu menunjukkan adanya perbedaan pandangan di tubuh Hamas mengenai arah organisasi ke depan. Namun, hasil akhir mencerminkan bahwa mayoritas pimpinan tetap menginginkan kesinambungan kepemimpinan yang telah dibangun sejak era Yahya Sinwar.
Al Hayya bukan sosok baru di lingkaran elite Hamas. Usai Sinwar terbunuh Oktober 2024, seperti dilansir CnnIndonesia.com dari Al Jazeera, Reuters dan European Council on Foreign Relations (ECFR) pada 22/7/2026, ia jadi salah satu dari 5 anggota dewan kepemimpinan yang menjalankan organisasi hingga pemimpin baru resmi ditetapkan.
Selama masa transisi tersebut, Al Hayya berperan besar dalam berbagai keputusan strategis Hamas, termasuk negosiasi gencatan senjata, pertukaran tahanan, serta koordinasi politik dengan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah analis menilai terpilihnya Al Hayya dapat membawa perubahan penting terhadap hubungan Hamas dengan AS. Meski dikenal memiliki kedekatan dengan Iran, ia juga dianggap sebagai tokoh yang terbuka terhadap jalur diplomasi.
Dalam beberapa kesempatan, Al Hayya dilaporkan terlibat dalam komunikasi tidak langsung maupun pembahasan terkait masa depan Gaza bersama Utusan Khusus Presiden AS Steve Witkoff dan pihak-pihak yang dekat dengan pemerintahan Donald Trump.
Peneliti Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri (ECFR), Muhammad Shehada, menyebut Al Hayya figur yang mampu menyeimbangkan kepentingan politik dan militer. Menurutnya, ia tetap menjadi bagian dari Poros Perlawanan didukung Iran, namun tak menutup peluang penyelesaian melalui meja perundingan.
Shehada menilai karakter tersebut membuat Al Hayya menjadi salah satu tokoh Hamas yang paling mungkin diajak berdialog oleh mediator internasional. Hal itu dinilai penting mengingat konflik Gaza masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Hubungan Al Hayya dengan Steve Witkoff juga disebut memiliki sisi emosional. Keduanya sama-sama pernah kehilangan anak laki-laki, sehingga muncul rasa empati yang sempat diungkapkan dalam salah satu pertemuan terkait pembahasan konflik Gaza.
Menurut laporan sejumlah media internasional, Witkoff pernah menyampaikan belasungkawa kepada Al Hayya atas kematian putranya akibat serangan Israel. Momen itu disebut menjadi salah satu faktor yang membuka komunikasi lebih terbuka dalam proses negosiasi.
Al Hayya lahir dan dibesarkan di Jalur Gaza sehingga dianggap memahami langsung kondisi masyarakat setempat. Pengalaman tersebut dinilai memperkuat posisinya sebagai pemimpin yang tetap menjadikan Gaza sebagai pusat perhatian utama Hamas.
Selain memimpin organisasi, Al Hayya selama ini juga menjadi negosiator utama Hamas dalam pembahasan gencatan senjata dan pertukaran sandera. Perannya semakin menonjol setelah tewasnya Ismail Haniyeh di Teheran pada 2024 dan Yahya Sinwar beberapa bulan kemudian.
Peningkatan pengaruh Al Hayya membuat namanya masuk dalam daftar target utama operasi militer Zionis Israel. Ia bahkan dilaporkan menjadi sasaran serangan ketika berada di Doha, Qatar, meski berhasil selamat dari percobaan pembunuhan itu.
Peneliti senior ECFR, Hugh Lovatt, menilai kepemimpinan Al Hayya tidak akan mengubah struktur dasar Hamas secara drastis. Menurutnya, Al Hayya merupakan figur yang mewakili kesinambungan karena telah lama menjadi bagian dari kepemimpinan senior organisasi.
Lovatt juga menilai label “garis keras” yang sering disematkan kepada Al Hayya tidak sepenuhnya tepat. Dalam praktiknya, ia beberapa kali menunjukkan pendekatan yang lebih realistis selama proses negosiasi dengan Israel.
Menurut Lovatt, Hamas di bawah Al Hayya kemungkinan akan tetap mempertahankan keseimbangan hubungan dengan Iran dan negara-negara Arab. Karena itu, belum ada indikasi bahwa organisasi tersebut akan sepenuhnya berada di bawah pengaruh Teheran.
Di tengah operasi militer Israel yang terus berlangsung, Hamas masih mempertahankan sebagian fungsi administratif di Jalur Gaza. Organisasi itu tetap mengawasi layanan kesehatan, distribusi bantuan, serta berbagai layanan sipil dasar bagi warga.
Profesor Universitas Northwestern Qatar, Khaled Al Hroub, menilai terpilihnya Al Hayya mengirimkan pesan bahwa struktur organisasi Hamas masih mampu berjalan meski banyak pemimpin politik dan militernya telah tewas dalam serangan Israel.
Menurut Al Hroub, kepemimpinan baru ini juga menunjukkan, Gaza tetap menjadi pusat pengambilan keputusan Hamas. Fokus diperkirakan akan membuat organisasi lebih memprioritaskan kondisi masyarakat Gaza sekaligus memertahankan jalur diplomasi tanpa meninggalkan sikap politiknya. (net/cic/alz/rts/ecfr/kim/smr)





