Kementrans Gandeng 10 PTN Siapkan Beasiswa Transmigrasi Patriot bagi 1.000 Sarjana Terbaik

Mentrans M Iftitah Sulaiman Suryanagara.

Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menggandeng 10 perguruan tinggi negeri (PTN) dalam program Transmigrasi Patriot, untuk memperkuat pembangunan kawasan transmigrasi melalui penciptaan sumber daya manusia (SDM) sangat unggul.

Semarak.co – Kementrans menyiapkan beasiswa Transmigrasi Patriot bagi 1.000 sarjana terbaik dari berbagai disiplin ilmu, dan juga menurunkan kembali 1.000 akademisi sebagai Tim Ekspedisi Patriot ke 154 Kawasan Transmigrasi di seluruh Indonesia.

Bacaan Lainnya

“Kami konsolidasi keberlanjutan program Transmigrasi Patriot yang insya Allah tahun ini akan dikembangkan dalam bentuk dua program besar. Kita ingin mencetak SDM yang sangat unggul, bukan lagi SDM unggul,” kata Mentrans M Iftitah Sulaiman Suryanagara, dirilis humas usai acara melalui WAGroup ForWaTrans, Selasa (20/1/2026).

Sepuluh kampus tersebut yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, dan Universitas Hasanuddin.

Iftitah menjelaskan Program Transmigrasi Patriot tahun ini dikembangkan dalam dua program utama, yaitu Ekspedisi Patriot dan Beasiswa Patriot. Sebagai kelanjutan program tahun lalu, Ekspedisi Patriot 2026 difokuskan pada pengabdian masyarakat yang lebih konkret.

“Misalkan ada infrastruktur dasar yang belum terpenuhi, maka nanti kita akan terjunkan para patriot dari kampus-kampus unggulan tadi untuk membantu masyarakat dalam bidang infrastruktur dasar,” jelasnya.

“Kemudian dalam bidang misalkan yang lebih teknis, pembibitan, hama, terkait dengan pertanian, atau misalkan potensi pariwisata, atau juga misalkan pertambangan sesuai dengan potensi ekonomi masing-masing daerah di 154 kawasan transmigrasi,” papar Mentrans.

Selain pengabdian masyarakat, Ekspedisi Patriot juga diarahkan untuk mendorong investasi transmigrasi. Sejumlah kawasan dengan potensi besar akan dikembangkan dalam skala luas, seperti Rempang dan Galang di Batam untuk kawasan industri, perikanan, dan kelautan; Kaluku di Mamuju untuk pengembangan logam tanah jarang.

Program kedua yakni Beasiswa Patriot yang akan melahirkan SDM sangat unggul melalui pendirian Kampus Patriot di tiga kawasan transmigrasi strategis yakni Barelang (Batam, Rempang dan Galang di Batam), Kaluku (Mamuju di Sulawesi Barat) dan Salor (Merauke di Papua Selatan).

Program ini dirancang untuk menjembatani kebutuhan masyarakat di lapangan dengan dunia pendidikan tinggi. “Kita ingin masyarakat lokal mendapatkan manfaat langsung dari pembangunan dan investasi, sehingga tidak terasing di negerinya sendiri,” katanya.

Program Beasiswa Patriot akan diseleksi secara ketat, termasuk melalui tes pusat dan penilaian psikologis. Dalam program ini Kementerian Transmigrasi membuka ruang kolaborasi dengan kampus-kampus luar negeri.

Sejumlah universitas luar negeri seperti Universitas Teknik München (Jerman), Universitas Nasional Tsing Hua(NTHU, Tiongkok), dan Universitas Stanford (California, AS) menyatakan ketertarikan untuk berkolaborasi, dengan pembahasan regulasi yang saat ini sedang dilakukan.

“Jadi ke depan, pasti akan ada universitas (dari luar negeri) yang bergabung. Seperti apa bentuknya, ini nanti tergantung kecepatan kita menyesuaikan dengan masalah regulasi ini,” kata Iftitah.

Beasiswa Patriot akan Diluncurkan Resmi pada Februari 2026

Kementrans menyiapkan sumber daya manusia unggul yang mampu memimpin, mengambil keputusan, menggerakkan masyarakat di lapangan, dan menciptakan lapangan kerja nyata, peran yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.

Inilah arah besar Program Beasiswa Patriot yang digagas Kementrans. Program ini dirancang untuk melahirkan transmigran patriot, yakni talenta terdidik yang ditugaskan langsung ke kawasan transmigrasi untuk membuka lapangan kerja dan membangun pusat-pusat ekonomi baru.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, di tengah kemajuan teknologi, kekuatan utama Indonesia tetap berada pada manusia yang memiliki kepemimpinan, empati, dan keberanian untuk hadir bersama masyarakat.

“Teknologi penting, tapi masa depan Indonesia ditentukan oleh manusia yang mau turun ke lapangan, memimpin, dan menggerakkan masyarakat. Itulah yang kami siapkan melalui Beasiswa Patriot,” ujar Iftitah.

Rapat tersebut diikuti oleh 10 Perguruan Tinggi Negeri dari berbagai daerah yang menjadi mitra program tersebut. Melalui Beasiswa Patriot, peserta tidak hanya menempuh pendidikan, tetapi juga diberi mandat untuk mengelola potensi wilayah dan mengubahnya menjadi kegiatan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.

Menurut Iftitah, kepemimpinan tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada sistem atau teknologi. Di banyak wilayah, terutama kawasan transmigrasi, kehadiran pemimpin lapangan masih menjadi kunci utama pembangunan.

“Kita butuh orang-orang yang bisa membangun kepercayaan, menyatukan masyarakat, dan mengambil keputusan di situasi nyata. Di ruang-ruang seperti inilah peran manusia tidak tergantikan,” tegasnya.

Setelah menyelesaikan studi, penerima Beasiswa Patriot akan menjalani penugasan selama satu tahun di kawasan transmigrasi. Mereka akan fokus mengembangkan sektor-sektor potensial seperti industri lokal, perikanan, kesehatan, dan teknologi terapan sesuai kebutuhan dan karakter wilayah.

Program ini juga membuka ruang bagi kalangan profesional, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN) serta anggota TNI dan Polri, yang dinilai memiliki pengalaman lapangan dan kapasitas kepemimpinan untuk memperkuat dampak program.

Kepala Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro (Undip) Wiwandari Handayani, menilai pendekatan ini relevan dengan tantangan pembangunan ke depan.

“Kepemimpinan lapangan dan pendampingan langsung sangat dibutuhkan, terutama di wilayah yang sedang tumbuh. Hal ini bisa dikoordinasikan lebih lanjut dengan Pemerintah Daerah setempat,” ujarnya.

Iftitah memastikan Beasiswa Patriot akan diluncurkan secara resmi pada Februari 2026 sebagai bagian dari transformasi transmigrasi berbasis pembangunan manusia. “Ini investasi jangka panjang. Indonesia membangun manusia unggul agar mampu memimpin di situasi yang tidak bisa dijawab oleh teknologi,” pungkasnya. (AAF/RDP/SMR)

Pos terkait