Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) dan Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) sepakat memperkuat sinergi lintas sektor dalam pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan secara holistik dan berkelanjutan.
Semarak.co – Menteri Ekraf (Menekraf) Teuku Riefky mengatakan Memorandum of Understanding (MoU) ini sebagai langkah penting karena budaya diibaratkan sebagai hulu, sementara ekonomi kreatif menjadi hilir yang memberi nilai tambah ekonomi dan menjangkau pasar yang lebih luas.
“Kekayaan budaya menjadi sumber inspirasi utama produk kreatif seperti film, musik, fashion, hingga konten digital. Kementerian Ekraf menjadikan budaya fondasi lahirnya karya kreatif yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki identitas Indonesia,” ujarnya, dirilis humas Kemenekraf melalui WAGroup Kemenekraf Siaran Pers, Selasa malam (10/3/2026).
Riefky berharap ekosistem yang menghubungkan budaya sebagai sumber inspirasi dan industri kreatif sebagai penggerak ekonomi dapat semakin kuat. Lebih lanjut, ia mengatakan kekayaan budaya Indonesia semakin lestari dan juga semakin memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Ruang lingkup kolaborasi tersebut mulai dari sinkronisasi dan dukungan kebijakan serta program pengembangan ekonomi kreatif dan pemajuan kebudayaan, pelaksanaan diplomasi budaya dan ekonomi kreatif, peningkatan pelindungan dan fasilitasi kekayaan intelektual ekonomi kreatif dan pemajuan kebudayaan.
Pelaksanaan kajian bersama dalam rangka pengembangan ekonomi kreatif dan pemajuan kebudayaan, peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia di bidang ekonomi kreatif dan kebudayaan, pertukaran dan pemanfaatan data dan/atau Informasi, serta kerja sama atau kegiatan lain sesuai dengan tugas dan fungsi para pihak.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan sinergi ini perlu dilakukan agar kekayaan budaya Indonesia yang mega diversity dengan 1.340 etnis, 708 bahasa, serta 2.727 warisan budaya tak benda Indonesia yang tercatat di Kemenbud dengan potensi sampai puluhan ribu dari seluruh wilayah Indonesia.
Di UNESCO baru dienkripsi ada sekitar 16 kebudayaan, mulai dari intangible cultural heritage seperti wayang, keris, angklung, pinisi, gamelan, pencak silat, tari Bali, tari Aceh, pantun, jamu, Reog Ponorogo, kolintang, kebaya.
“Tahun ini kita memajukan dua yang akan diumumkan di akhir tahun yaitu tempe sebagai ekspresi budaya dan satu lagi adalah Makyong. Untuk itu, kami juga melihat aset-aset budaya ini nanti diturunkan di IP,” ujar Fadli Zon. (hms/smr)





