Pasukan militer Zionis Israel kembali menggelar operasi militer di wilayah Tepi Barat dengan menyasar sejumlah kamp pengungsi dan kawasan permukiman. Sekitar 20 warga Palestina ditangkap dalam penggerebekan yang berlangsung sejak dini hari.
Semarak.co – Operasi itu melibatkan pasukan darat, kendaraan lapis baja, serta unit intelijen. Tentara melakukan pemeriksaan identitas, penggeledahan rumah, dan penyitaan barang yang diklaim berkaitan dengan aktivitas kelompok bersenjata di wilayah itu.
Militer Israel menyatakan operasi itu merupakan bagian dari langkah pencegahan terhadap potensi serangan. Pemerintah menegaskan operasi keamanan akan terus dilakukan demi menjaga keselamatan warga sipil dan personel keamanan.
Seluruh warga yang ditangkap dibawa ke pusat pemeriksaan untuk menjalani interogasi lebih lanjut. Aparat juga mengklaim menemukan sejumlah barang bukti yang akan digunakan dalam proses penyelidikan berikutnya.
Di sisi lain, otoritas Palestina mengecam operasi itu dan menilai penggerebekan serta penangkapan massal hanya akan memperburuk kondisi kemanusiaan sekaligus meningkatkan ketegangan di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Warga setempat menggambarkan suasana mencekam ketika pasukan Israel memasuki kawasan permukiman pada malam hingga dini hari. Sejumlah keluarga dilaporkan terbangun akibat suara kendaraan militer dan penggerebekan.
Dalam beberapa lokasi terjadi bentrokan antara pemuda Palestina dan pasukan Israel. Aparat, seperti dilansir Reuters dan Associated Press (AP), serta laporan sejumlah media internasional pada Kamis 6/8/2026, menggunakan gas air mata serta peluru untuk membubarkan massa yang melakukan perlawanan selama operasi berlangsung.
Beberapa pekan terakhir, Tepi Barat mengalami peningkatan kekerasan yang melibatkan pasukan Israel, kelompok bersenjata Palestina, serta aksi sejumlah pemukim Israel yang memicu ketegangan di berbagai wilayah pendudukan.
Operasi keamanan kini hampir berlangsung setiap hari di sejumlah kota seperti Jenin dan Nablus. Pos pemeriksaan tambahan diberlakukan sehingga aktivitas masyarakat dan mobilitas warga ikut mengalami gangguan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama berbagai organisasi internasional kembali menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menghindari tindakan yang dapat memerburuk konflik serta mengancam keselamatan warga sipil.
Komunitas internasional juga mendesak untuk dimulainya kembali upaya diplomatik guna mencegah eskalasi yang lebih luas. Situasi keamanan di Tepi Barat dinilai masih sangat rapuh dan membutuhkan solusi politik berkelanjutan. (net/rts/ap/kim/smr)





