Iran Janji akan Respons dengan Ganas, Meski AS Melancarkan Serangan Terbatas

Iran mengatakan bahwa serangan Amerika Serikat dalam skala apa pun akan mendorong republik Islam itu untuk merespons “dengan ganas.” Ancaman itu setelah Presiden Donald Trump mengatakan dia sedang mempertimbangkan serangan terbatas terhadap negara tersebut.

Semarak.co – AS telah membangun kekuatan di Timur Tengah untuk menekan Iran agar mencapai kesepakatan dalam negosiasi yang akan dimulai kembali pada hari Kamis, dengan Trump mempertimbangkan serangan terbatas jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.

Pada hari Senin, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan kembali bahwa serangan apa pun, bahkan yang terbatas, akan “dianggap sebagai tindakan agresi. Titik.” “Dan negara mana pun akan bereaksi terhadap tindakan agresi,” kata juru bicara kementerian Esmaeil Baqaei, dilansir Al Arabiya.

“Tindakan agresi tersebut sebagai bagian dari hak inherennya untuk membela diri dengan ganas, jadi itulah yang akan kami lakukan,” kata Esmaeil Baqaei, dilansir Sindonews.com dari Fox News dan Al Arabiya pada 24 Februari 2026.

Kedua negara tersebut menyelesaikan putaran kedua pembicaraan tidak langsung di Swiss pada hari Selasa di bawah mediasi Oman. Pembicaraan lebih lanjut, yang dikonfirmasi oleh Iran dan Oman tetapi tidak oleh AS, dijadwalkan diadakan pada hari Kamis.

Uni Eropa, yang telah dikesampingkan dalam mediasi mengenai Iran, menyerukan solusi diplomatik menjelang pembicaraan. “Kita tidak membutuhkan perang lain di kawasan ini. Kita sudah memiliki banyak perang,” kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas jelang pertemuan para menlu Uni Eropa.

“Memang benar bahwa Iran berada pada titik terlemahnya. Kita harus benar-benar menggunakan waktu ini untuk menemukan solusi diplomatik.” Otoritas ulama Iran baru-baru ini menghadapi tantangan berat, termasuk gelombang protes massal yang memuncak pada Januari lalu,” ucap Kallas.

Perang 12 hari dengan Zionis Israel pada tahun lalu, dan melemahnya proksi regional negara Iran. Namun, Iran bersikeras bahwa hanya diskusi tentang program nuklir negara itu yang menjadi agenda dalam pembicaraan mediasi.

Barat percaya program tersebut bertujuan untuk membuat bom, yang dibantah Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memimpin negosiasi untuk Iran, sementara AS  diwakili oleh utusan Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner.

Donald Trump bertanya-tanya mengapa Iran belum “menyerah” dalam menghadapi pengerahan militer Washington, kata Witkoff dalam sebuah wawancara dengan jurnalis media Fox News yang disiarkan pada akhir pekan lalu.

Baqaei menanggapi pada Senin dan mengatakan, Iran tak pernah menyerah pada titik mana pun dalam sejarah. Trump awalnya mengancam akan melakukan tindakan militer atas penindakan keras terhadap protes yang menurut kelompok HAM telah menewaskan ribuan orang oleh pasukan keamanan.

Tetapi perhatiannya segera beralih ke program nuklir Iran. Protes para demontran anti-pemerintah yang secara masif tersebar terus berlanjut di negara tersebut, meskipun ada ancaman penindasan dan penangkapan.

Dalam demostrasi besar itu para mahasiswa berkumpul untuk memeringati mereka yang tewas dalam demonstrasi pro dan anti-pemerintah yang saling bertentangan saat semester universitas dimulai kembali pada akhir pekan lalu.

Kekhawatiran warga Iran akan berlangsungnya konflik baru telah sangat meningkat dan kekhawatiran tersebut juga mendorong beberapa negara asing untuk mendesak warga negara mereka untuk meninggalkan Iran.

India pada hari Senin bergabung dengan Swedia, Serbia, Polandia dan Australia dalam menyerukan warga negaranya –yang diperkirakan berjumlah 10.000 orang di negara itu menurut kementerian luar negeri — untuk meninggalkan Iran. (net/snc/fn/aa/kim/smr)

Pos terkait