Pasar di London, Inggris, mengindikasikan bahwa harga minyak mentah Brent menembus 100 dolar Amerika Serikat per barel pada hari Rabu, 9 September 2026, pertama kali sejak 24 Juli 2026, ketika konflik Timur Tengah kembali meningkat tajam di pasar global.
Semarak.co – Kenaikan tersebut terjadi setelah Brent sempat mencapai 100,19 dolar AS per barel, sebelum berada sekitar 99,93 dolar AS per barel pada perdagangan pagi, menurut laporan Reuters berdasarkan data pasar terbaru pada Rabu (9/9/2026) dalam sesi perdagangan.
Minyak West Texas Intermediate atau WTI Amerika Serikat (AS) juga menguat hingga 94,52 dolar AS per barel, menunjukkan tekanan pasar semakin besar akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global pada perdagangan hari ini.
Pemicu utama kenaikan harga adalah serangkaian serangan yang melibatkan Republik Iran dan kelompok Houthi, termasuk serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi yang menimbulkan kekhawatiran baru mengenai pasokan di pasar energi global.
Reuters melaporkan, serangan itu mengancam jalur pengiriman minyak melalui Laut Merah, sementara arus perdagangan di Selat Hormuz tetap sangat terbatas akibat konflik regional yang berkepanjangan, penting bagi perdagangan energi global.
Selat Hormuz merupakan jalur energi sangat penting karena sebelumnya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global, sehingga gangguan berkepanjangan berpotensi mengguncang perdagangan energi dunia secara luas.
Kekhawatiran semakin besar karena perusahaan dan pedagang minyak harus memerhitungkan risiko keamanan kapal, biaya pengiriman lebih tinggi serta kemungkinan gangguan pasokan jika konflik terus meluas di kawasan terdampak.
Kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan terhadap inflasi global karena bahan bakar menjadi lebih mahal, kemudian meningkatkan biaya transportasi, produksi industri, logistik, penerbangan dan kebutuhan konsumen sehari-hari di kawasan terdampak.
Sejumlah bank besar telah menaikkan proyeksi harga minyak karena menilai konflik berpotensi berlangsung lebih lama, sementara gangguan pasokan dapat menciptakan premi risiko keamanan energi global, baru-baru ini di pasar dunia.
Perkembangan ini menjadi perhatian pemerintah dan bank sentral karena harga energi tinggi dapat memerburuk inflasi sekaligus menyulitkan kebijakan suku bunga ketika perekonomian tingkat dunia menghadapi ketidakpastian dalam beberapa pekan terakhir.
Pasar kini menunggu perkembangan konflik berikutnya, terutama keamanan Selat Hormuz dan Laut Merah, karena setiap gangguan baru terhadap kapal atau fasilitas minyak berpotensi mendorong harga lebih tinggi dalam hari-hari mendatang.
Jika ketegangan terus meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan negara penghasil minyak, tetapi juga konsumen dunia melalui kenaikan harga bensin, solar, tiket pesawat dan berbagai kebutuhan sehari-hari langsung di berbagai negara. (net/rts/kim/smr)





