Fenomena El Nino yang menguat mengancam Asia dengan kekeringan, gelombang panas, kebakaran serta gangguan produksi pangan, sehingga harga komoditas global berpotensi meningkat dan memperbesar risiko kerawanan pangan masyarakat luas di Asia.
Semarak.co – Associated Press dan Reuters melaporkan pada Selasa, 22 September 2026, El Nino tahun ini berpotensi menjadi yang terkuat sejak pencatatan dimulai 1950, berdasarkan proyeksi NOAA terbaru yang dipublikasikan hari ini.
NOAA memerkirakan peluang 69% bahwa El Nino kali ini menjadi yang terkuat dalam catatan sejak 1950, sementara puncaknya diperkirakan berlangsung sekitar Desember 2026 mendatang di berbagai kawasan dunia secara bersamaan.
Asia Tenggara (Asean) akan menghadapi risiko besar karena kekeringan mulai menekan cadangan air, pertanian, perikanan dan lahan gambut, sementara kebakaran hutan juga meningkat di sejumlah wilayah Indonesia tahun ini.
Produksi beras menjadi perhatian utama karena India, Vietnam dan Tailan merupakan eksportir beras terbesar dunia yang termasuk negara paling rentan terdampak kekeringan akibat El Nino sepanjang tahun ini di Asia.
Indonesia dan Malaysia juga menghadapi tekanan terhadap produksi minyak sawit, yang bersama-sama menyumbang sekitar 85% pasokan minyak sawit dunia, menurut laporan Associated Press terbaru hari ini untuk kawasan Asia.
Goldman Sachs memerkirakan El Nino ekstrem dapat mendorong harga komoditas pangan global lebih dari 15%, meskipun dampak akhirnya bergantung pada kondisi produksi setiap negara dan kebijakan pemerintah selama tahun 2027 mendatang.
Di Indonesia, Reuters melaporkan musim hujan diperkirakan baru dimulai awal November dan berlangsung lebih singkat, sementara pola El Nino diperkirakan bertahan hingga kuartal pertama 2027 mendatang di seluruh wilayah Indonesia. (net/ap/rts/kim/smr)





