Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan, Washington DC telah mengerahkan “armada besar” Angkatan Laut Amerika Serikat menuju kawasan Teluk, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Teheran.
Semarak.co – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa pengerahan armada tersebut dilakukan sebagai langkah antisipatif, seraya menyatakan harapannya agar kekuatan militer tersebut tidak perlu digunakan.
“Kami memiliki banyak kapal yang bergerak ke arah itu untuk berjaga-jaga. Saya lebih suka tidak terjadi apa pun, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat cermat,” kata Trump kepada wartawan dilansir Republika.co.id dari Asharq al Awsath pada 23 Januari 2026 di atas Air Force One.
Donald Trump mengatakan itu dalam perjalanan menuju pulang ke Paman Sam dari Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada hari Kamis (waktu setempat), kemarin, sebagaimana diberitakan Asharq al Awsath.
Sebagaimana diberitakan sejumlah media asing, kapal induk AS, USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perusak berpeluru kendali tersebut dijadwalkan akan tiba di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan.
Kapal Induk Amerika Serikat bernama USS Abraham Lincoln (CVN-72) merupakan kapal induk kelima dari kelas Nimitz milik Angkatan Laut Amerika Serikat yang ditengarai oleh dua reaktor nuklir Westinghouse A4W.
Kapal berukuran raksasa ini memiliki panjang sekitar 332,8 meter dengan bobot benam mencapai lebih dari 100.000 ton saat muatan penuh, menjadikannya salah satu pangkalan udara terapung paling mematikan di dunia.
Memasuki awal tahun 2026, kapal yang bermarkas di San Diego ini tetap menjadi pilar utama proyeksi kekuatan militer AS, seperti yang terlihat saat melaksanakan patroli di perairan Laut China Selatan dan transit di Selat Malaka pada Januari 2026.
Di dalamnya, USS Abraham Lincoln memiliki kapasitas untuk mengangkut hingga 90 unit pesawat terbang dan helikopter. Komposisi sayap udaranya (Carrier Air Wing 9) didominasi oleh jet tempur canggih seperti F/A-18E/F Super Hornet dan jet tempur siluman generasi kelima F-35C Lightning II.
Selain jet tempur, kapal ini juga membawa pesawat peringatan dini E-2C/D Hawkeye, pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler, serta berbagai varian helikopter Seahawk untuk misi pencarian, penyelamatan, dan anti-kapal selam.
Kekhasan utama USS Abraham Lincoln terletak pada sejarah operasionalnya dan kemampuan tempurnya yang mutakhir. Kapal ini dikenal sebagai kapal induk berbasis Pasifik pertama yang mengintegrasikan awak perempuan dalam penugasannya pada tahun 1995.
Sehingga kapal induk raksasa itu mendapat julukan “Babe Lincoln”. Secara teknis, kapal ini memiliki dek penerbangan seluas 4,5 hektar yang dilengkapi dengan empat katapel uap untuk meluncurkan pesawat setiap menit.
Selain itu, pasokan energi nuklirnya memungkinkan kapal ini beroperasi hingga 20 tahun tanpa perlu mengisi bahan bakar, memberikannya jangkauan operasional yang hampir tak terbatas di seluruh samudera.
Selain itu, negeri Paman Sam Amerika Serikat juga tengah mempertimbangkan untuk penempatan sistem dalam pertahanan udara Amerika Serikat tambahan guna melindungi pangkalan-pangkalan AS dari potensi serangan Iran.
Pengerahan ini memperluas opsi militer yang tersedia bagi Trump, baik untuk memperkuat pertahanan pasukan AS di kawasan maupun sebagai tekanan lanjutan terhadap Teheran, setelah serangan Amerika Serikat terhadap sejumlah situs nuklir Iran pada Juni lalu.
Iran saat ini dituntut melaporkan kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) terkait kondisi fasilitas yang diserang dan keberadaan material nuklirnya. Menurut tolok ukur IAEA, Iran memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60 persen.
Jumlah itu, yang, jika diperkaya lebih lanjut, cukup untuk sekitar 10 bom nuklir. Namun, badan pengawas Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tersebut belum memverifikasi stok uranium Iran selama sedikitnya tujuh bulan terakhir.
Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat seiring gelombang protes massal di Iran sejak akhir Desember. Aksi yang awalnya dipicu kesulitan ekonomi itu dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah, mengguncang kepemimpinan ulama di bawah Ayatollah Ali Khamenei.
Kelompok hak asasi manusia menyebut, penindakan aparat keamanan berlangsung brutal. Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS mengklaim telah memverifikasi sedikitnya 4.519 kematian.
Dan sebagian besar demonstran, dan masih meninjau ribuan laporan lainnya. Pejabat Iran, sebaliknya, menyatakan jumlah korban tewas yang dikonfirmasi mencapai lebih dari 5.000 orang, termasuk sekitar 500 anggota pasukan keamanan.
Donald Trump mengklaim bahwa tekanan Washington DC turut berperan dalam menahan eskalasi kekerasan yang terjadi. Ia mengatakan Iran membatalkan hampir 840 eksekusi gantung setelah ancaman Amerika Serikat.
“Satu jam sebelum hal mengerikan itu terjadi, mereka membatalkannya. Itu pertanda baik,” kata Presiden dari Partai Republik itu, meskipun klaimnya tersebut belum dapat diverifikasi secara langsung dan secara independen.
Di Teheran, respons keras dan tegas datang dari Garda Revolusi Iran. Jenderal Mohammad Pakpour, Komandan Garda Revolusi Iran, memeringatkan AS dan Israel agar tidak melakukan kesalahan perhitungan.
“Korps Garda Revolusi dan Iran tercinta siap siaga, lebih siap dari sebelumnya, untuk melaksanakan perintah pemimpin tertinggi,” tegas Jenderal Mohammad Pakpour dalam pernyataan yang dikutip oleh televisi pemerintah negara Persia itu.
Peringatan serupa disampaikan pejabat militer senior Iran lainnya, Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, yang menyebut seluruh kepentingan, pangkalan, dan pusat pengaruh Amerika Serikat akan menjadi “target yang sah” jika Washington melancarkan serangan.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian pun menuding bahwa Amerika Serikat dan Israel berada di balik gelombang protes sebagai bentuk “balas dendam pengecut” atas kekalahan mereka dalam perang 12 hari pada Juni 2025 tahun lalu.
Meski demikian, dia tetap maklum lalu menyebut bahwa demonstrasi atau unjuk rasa sebagai hak setiap warga negara, seraya menegaskan pemerintah akan bertindak terhadap pihak-pihak yang dianggap melakukan kekerasan.
Sementara itu, kelompok hak asasi manusia Iran menilai angka korban resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Islam Iran sama sekali tidak kredibel dan kemungkinan jauh lebih rendah dari kenyataan yang terjadi. (net/rci/aa/kim/smr)





