Chaoz 13 Oktober 2020

by Zeng Wei Jian

semarak.co– Delapan orang pembesar KAMI ditangkap. Cuma tiga yang diperhatikan. Status FB minta mereka dibebaskan ditulis. Kasian ya si Kingkin PKS & Khairi Amri kena pasal ITE & Hoax.

Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, “Jangan Kasihani Kader KAMI yang Ditangkap, Makin Ditekan Makin Bangkit”.

Mantap…!!

Dia pun bawa-bawa istilah “Kebenaran Ilahi” dan “Politik Langit”. Whatever the f@ck That Means.

Halte Busway baru selesai direnovasi. Chaoz pula. Modusnya serupa Riot 21-22 Mei 2019. Mengadopsi Mao Zedong’s irrelugar guerrilla tactics. “Pasukan siluman” nyusup di masyarakat. Ngacir ke perkampungan. Mancing Brimob salah gebuk. Lalu sebar hoax masjid diserang.

Grand-strategy Napoleonic’s “offense at all costs”. Ngga peduli nyawa martir bocil yang dikorbankan. Kerusakan fasilitas umum. Yang penting raih sukses.

Perusuh mengimplementasikan Genghis Khan strategic assault yaitu flexible manoeuvre dan psychological terror. Glodok mau dibumi-hanguskan & minoritas Tionghoa disasar. Pantes polisi kaget membaca diskusi WA Group yang sarat hatespeech dan rasis.

Perusuh tidak punya kapasitas fully adopts Genghis Khan’s strategy. Mereka ngga perna baca buku. The Great Khan melengkapi pasukan dengan mobile shelters, hareeem, butchers, dan tukang masak.

Perusuh mengorbankan pion indik-indik dan second layers. Cuma dikasi penghargaan istilah “pejuang”. Preeettt…!! Yang ada, publik melihat mereka sebagai “Bajingan Politik”.

Kunci sukses Mongol strategy menghancurkan Persia, Arab dan Eastern European adalah “continuous assault”.

Jadi Pemerintah sebaiknya tidak terlena dengan decisive victory di prelude battle. Perusuh sangat mungkin menunggu momentum pasukan dipulangkan ke home-based.

Schwerpunkt perusuh adalah melemahkan morale dan mental state dari populasi. Hoax, patriotisme palsu, dan klaim diri sebagai penyelamat. Minoritas dibuat takut dengan harapan mendukung pihak oposisi.

Kombinasi operational strategy Carl von Clausewitz dan Antoine-Henri Jomini bisa diadopsi pemerintah. “Generalship” terhadap perusuh dan “statesmanship” untuk general public.

Sukses aparatus negara tergantung pada concentration of force, maneuver, the element of surprise, dan simplicity. Infiltrasi spionase di internal perusuh tak terditeksi. Semua nama ada di kantong Jenderal Muldoko.

Chaoz diredam dengan cepat. Canggih. Perusuh tak berkutik. John Boyd’s OODA loop nyata efektif. The cycle of observe–orient–decide–act.

Fase berikut mestinya eksekusi the strategy of Annihilation. Opsi taktisnya bisa bervariasi. Attrition dan Exhaustion. Pretelin satu per satu kaki-kaki si dalang. Jangan ada pause. Jangan biarkan enemy stabilize situation.

Attack smaller unit one by one. Tactics “Defeat in detail” menciptakan asymmetric support structure yaitu situasi A sanggup support B tapi B cannot support A.

Simplicity menegakkan hukum tanpa kompromi akan membantu menumbuhkan kesadaran yang benar. Unfaedah bergabung kelompok perusuh. Cuma dapet kata-kata maniz. Masuk penjara mah teteup…!!

THE END

LEAVE A REPLY