Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bersama Shafiec Research Center Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan Pascasarjana UIN Jakarta berkolaborasi dalam penelitian dan tahqiq “Jejak Ulama: Merawat Ilmu dalam Manuskrip”.
Semarak.co – Riset ini bertujuan untuk mendalami penelitian berbasis data dan tahqiq Kitab Fikih Zakat karya Dr. Nawawi Yahya Abdul Razak Majene, yang menjadi warisan keilmuan penting dalam studi filantropi Islam Nusantara.
Ketua BAZNAS Noor Achmad atau Kiai Noor mengatakan, rekonstruksi kitab zakat Syekh Nawawi Majene sangat penting untuk menggali landasan fikih karena Indonesia merupakan negera muslim terbesar di dunia serta enam kali menjadi negara terdermawan di dunia versi World Giving Index.
“Karya Syekh Nawawi Majene adalah tonggak penting dalam fikih zakat yang bukan hanya berbicara hukum, tetapi keadilan sosial dan pembangunan. Tugas kita adalah menghidupkannya kembali,” ucap Kiai Noor, dirilis humas Baznas usai acara melalui WAGroup Baznas Media Center (BMC), Sabtu (22/11/2025).
Syekh Nawawi Majene, ulama Indonesia lulusan Al-Azhar menulis Fiqh al-Zakat dalam 10 jilid sekitar tahun 1980. Karya setebal kurang lebih 6.000 halaman itu menjadi salah satu telaah paling komprehensif tentang zakat yang pernah lahir dari Asia Tenggara.
Menurut dia, Dr. Nawawi Yahya Abdul Razak Majene, adalah seorang penulis terkait dengan zakat lebih dari dua ribu judul. Maka itu BAZNAS sangat tertarik membahasnya. “Berdasarkan pendapat Syekh Nawawi, kalau orang Islam bayar zakat semua, maka berdasarkan hitungan kami ada 327 triliun rupiah potensi zakat.
Hal ini pula yang membuat BAZNAS ingin membahas sekaligus menyosialiasikan, sehingga ada pengaruh dan berkahnya untuk umat. “Sehingga perlu dikaji, ditulis ulang, diterjemahkan, tahqiq, diterbitkan dan disosialisasikan ke masyarakat. Ini bagian penting dari tugas BAZNAS,” jelasnya.
Pimpinan BAZNAS bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Saidah Sakwan menyambut baik kolaborasi yang tercipta. Menurut dia, kolaborasi ini bermula saat para mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga diberi tugas oleh dosen mencari literatur Nusantara terkait filantropi.
Salah satu dari mereka kemudian mencari referensi tentang zakat fitrah, dan menemukan tulisan Syekh Nawawi yang membahas zakat fitrah hampir 270 halaman. BAZNAS pun lantas tertarik untuk mengkajinya sebagai landasan referensi dalam tata kelola zakat.
“Bagi BAZNAS, kenapa ini penting perlu dikontekstualisasi dan direkonstruksi, karena bagi BAZNAS dan seluruh pengelola zakat di Indonesia, butuh landasan epistemologis dan ontologis, sebagai fondasi untuk berpijak bagi tata kelola zakat di Indonesia,” ujar Saidah.
BAZNAS Jawab Tantangan Kontemporer Pengelolaan Zakat
Pimpinan BAZNAS RI bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Saidah Sakwan menilai kitab fikih zakat karya Dr. Nawawi Yahya Abdul Razak Majene sangat relevan bagi pengelolaan zakat di era modern.
Saidah menyebut kandungan fikih dalam manuskrip berpotensi memperkaya kebijakan zakat nasional, menjawab tantangan kontemporer pengelolaan zakat, serta dapat menjadi sumber otoritatif alternatif dalam diskursus fikih zakat.
“Bagi BAZNAS, nilai historis menjadi sangat penting buat kita. Yang pertama, kami ingin menghidupkan tradisi keilmuan ulama Nusantara. Ini betul-betul harus kita kaji, harus kita tulis ulang, harus kita tahqiq, harus kita terbitkan dan sosialisasikan. Nanti akan diterjemahkan, supaya akses publik dapat terfasilitasi,” jelasnya.
Kemudian yang kedua, Pihaknya ingin memberikan kontribusi terhadap historiografi intelektual zakat dan menjadi sumber otoritatif alternatif dalam diskursus fikih zakat. Saidah melanjutkan, kajian ini dapat bermanfaat bagi pengelolaan zakat BAZNAS, dan dapat mendorong potensi zakat yang mencapai Rp327 triliun.
“Ini menjadi bagian penting bagi kita, karena kita melihat harus ada kepentingan dengan tata kelola zakat. Konteks ini jadi bagian penting mengapa BAZNAS mengambil inisiatif ini, karena BAZNAS mempunyai moral obligation,” ucap dia.
Pelaksana Harian (Plh) Rektor UNU Yogyakarta Suhadi Cholil mengatakan, kolaborasi yang terjadi sangat luar biasa antara BAZNAS RI, UNU Yogya, UIN Sunan Kalijaga dan UIN Jakarta. Aspek sosial ekonomi, juga adanya masukan diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia juga Inggris, menjadikan penelitian ini dirasakan juga sangat penting. (hms/smr)





