Tiga alumni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia (IC) Serpong, Zhafir, Rayhan, dan Galih mengembangkan Inovasi yang diberi nama Srikandi, alat pintar pemilah sampah yang didesain sebagai sistem pengelolaan sampah pintar berbasis AI, IoT, dan robotika.
Semarak.co – Inovasi ini dikembangkan oleh startup @nusabin.id. Tujuannya memilah sampah secara otomatis dan membangun kebiasaan positif di lingkungan madrasah, sekaligus menunjukkan semangat kewirausahaan teknologi dan kepedulian lingkungan dari alumni MAN IC Serpong.
Menurut Zhafir, inovasi Srikandi ini menggunakan AI, Internet of Things (IoT), dan robotika untuk memilah sampah secara otomatis dari hulu. Model ini dikembangkan agar pemilahan sampah lebih mudah, efisien, sekaligus membangun kebiasaan baik bagi civitas akademika madrasah.
“Srikandi kami mulai di MAN Insan Cendekia Serpong sebagai titik awal, sejalan dengan tagline Nusabin: “#ItMustBeSimple!”,” ujarnya, dirilis humas melalui link resmi kemenag.go.id dilansir WAGroup Jurnalis Kemenag, Jumat (9/1/2026).
Rayhan menambahkan, inovasi ini lahir dari semangat alumni untuk memberikan dampak besar, dimulai dari lingkungan tempat mereka dibesarkan. Karya ini menunjukkan bagaimana alumni mengaplikasikan nilai-nilai “Belajar adalah Ibadah, Prestasi adalah Dakwah” dalam dunia nyata.
Galih menambahkan, Nusabin didirikan pada Juli 2025, oleh sahabat lama semasa studi di IC Serpong yang bertemu kembali setelah lulus kuliah dan bekerja. Mereka adalah Ariz, Rayhan, dan Galih. “Keinginan untuk membuat inovasi tersebut sudah ada sejak berstudi di IC Serpong namun belum menemukan pola dan mekanismenya,” sebut Galih.
Kepala MAN IC Serpong Hilal Najmi menjelaskan inovasi ini merupakan rangkaian pilot project dari Nusabin Srikandi. MAN IC Serpong berkesempatan untuk merasakan pemilahan otomatis ini sejak 8 – 22 Desember 2025.
“Srikandi merupakan tempat sampah pintar yang dapat memilah, merekam, dan melaporkan data sampah secara otomatis. Tinggal buang sampah seperti biasa, maka seseorang dengan tanpa sadar sudah melakukan tiga hal tersebut,” papar Hilal Najmi.
Hilal menambahkan, inovasi ini muncul karena kepedulian untuk ikut mencari solusi atas masalah sampah yang sudah menjadi persoalan publik dan bahkan sampai tingkat nasional. Tantangan terbesarnya ada di edukasi dan regulasi. (hms/smr)





