Gencatan Senjata ditolak! Pemimpin Baru Iran Minta AS Bayar Ganti Rugi dan Akui Kekalahan

Memasuki pekan ketiga perang, Pemimpin Tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dilaporkan telah menolak mentah-mentah proposal de-eskalasi dan gencatan senjata yang diajukan melalui perantara dua negara.

Semarak.co – Dalam rapat kebijakan luar negeri pertamanya, Mojtaba menegaskan bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk damai sampai Amerika Serikat (AS) dan Israel dipaksa tunduk, mengakui kekalahan, serta membayar kompensasi atas kerusakan yang terjadi.

Seorang pejabat tinggi negara Persia Iran mengonfirmasi kepada media Arab, Al Jazeera, dilansir Arrahmah.id pada 18 Maret 2026, Teheran tidak akan menerima rencana gencatan senjata apa pun yang tidak memenuhi tuntutan dasar mereka.

Tuntutan-tuntutan tersebut mencakup kepada penghentian penargetan terhadap kelompok-kelompok perlawanan (proksi Iran), penarikan pasukan dari negara Syam Lebanon, serta pembayaran ganti rugi perang yang menyeluruh.

Iran menegaskan bahwa jalur pelayaran vital di Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali jika gencatan senjata penuh tercapai dan semua syarat Iran dipenuhi secara total. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mempertegas situasi di media sosial.

Dia menyatakan bahwa dengan kondisi yang terjadi di Selat Hormuz, tidak akan pernah kembali seperti sebelum perang. Selat Hormuz, yang mengangkut sebanyak 20% pasokan minyak dan gas dunia, tetap tertutup sejak 2 Maret 2026 lalu.

Iran mengancam akan menyerang kapal apa pun yang mencoba melintas tanpa koordinasi dengan mereka. Seruan Presiden AS Donald Trump kepada sekutu Washington untuk membantu membuka paksa selat tersebut sejauh ini menemui jalan buntu.

Karena keengganan banyak negara untuk terlibat secara militer dalam eskalasi yang semakin panas. Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, perang ini telah menewaskan sedikitnya 2.000 orang, termasuk mendiang Ali Khamenei dan sejumlah pejabat keamanan tinggi Iran di awal konflik.

Penolakan Mojtaba Khamenei terhadap jalur diplomasi menunjukkan pergeseran ke arah strategi yang lebih konfrontatif dibandingkan pendahulunya. Sementara itu, klaim kemenangan militer yang disampaikan Donald Trump di Washington.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan, di mana Iran masih mampu mengunci urat nadi ekonomi dunia dan terus meluncurkan serangan balasan yang merusak fasilitas sipil serta militer di berbagai negara Arab. (net/aid/alz/kim/smr)

Pos terkait