Kementrans Dukung Peningkatan Produksi Padi di Kawasan Transmigrasi untuk Penguatan Ketahanan Pangan

Kementrans mendukung peningkatan produksi padi pada kawasan transmigrasi yang memiliki potensi pengembangan pertanian yaitu di Kawasan Transmigrasi Salor, Merauke.

Peningkatan produktivitas dan mutu padi di Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, menjadi fokus pertemuan antara Kementerian Transmigrasi, Pemda, China National Rice Research Institute (CNRRI), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Semarak.co – Mewakili Kementerian Transmigrasi, Dewi Nurini menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan tindak lanjut kerja sama riset Indonesia – Tiongkok di bidang pertanian.

Bacaan Lainnya

“Tujuan kami adalah mendukung peningkatan produksi padi dalam rangka penguatan ketahanan pangan di Indonesia, khususnya pada kawasan transmigrasi yang memiliki potensi pengembangan pertanian yaitu di Kawasan Transmigrasi Salor,” ujar Dewi Nurini di Merauke, dirilis humas melalui WAGroup ForWaTrans, Kamis (5/3/2026).

Sekda Merauke Jermias Paulus Ruben Ndiken menegaskan dukungan pemda dengan menekankan keseimbangan antara pengembangan padi dan pelestarian komoditas lokal. “Silakan dijadikan tempat untuk padi, tapi jangan lupa juga tanam sagu, kan itu ciri khas (orang Papua). Itu ciri khas adatnya mengarah ke tanam sagu,” ucapnya.

Pemprov Papua Selatan menyampaikan bahwa total pengembangan sawah di Merauke mencapai sekitar 81 ribu hektare melalui optimalisasi lahan dan program cetak sawah rakyat. Pada 2025, luas panen meningkat 68%, produksi gabah dan beras naik 66,4%, serta indeks pertanaman meningkat dari 155 menjadi 209.

Saat ini Merauke mengalami surplus beras, namun menghadapi tantangan pada sektor hilirisasi seperti keterbatasan dryer (pengering), rice milling unit (RMU), silo, dan gudang penyimpanan.

Perwakilan CNRRI Zhonghua Sheng menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas padi memerlukan pendekatan terpadu. “Saya lihat disitu memang manajemennya itu butuh ditingkatkan. Kita harus punya SOP (Standar Operasional Prosedur), standarisasi pengolahan, perawatan dari petani yang standar,” ujarnya.

Rapat bersama ini menghasilkan komitmen memperkuat riset dan pengembangan padi berkelanjutan, dengan menempatkan orang asli Papua sebagai pelaku utama dalam program cetak sawah rakyat, serta mendorong pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan.

Kolaborasi ini diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pembenahan manajemen dan penguatan hilirisasi agar beras Merauke memiliki kualitas yang konsisten, efisien dalam pengolahan, dan mampu menembus pasar yang lebih luas, termasuk ekspor. (HLV/SMR)

Pos terkait