Menyusuri jalan menuju kawasan transmigrasi Mesuji, Lampung, seolah-olah berada di Bali, karena di kanan-kiri jalan banyak terlihat bangunan sanggah, ada juga pura keluarga seperti yang biasa terlihat di sejumlah rumah Bali.
Semarak.co – Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menyatakan, Mesuji, Lampung, merupakan salah satu produk kabupaten dari program transmigrasi. Transmigran yang datang di kabupaten yang berbatasan dengan Sumatera Selatan itu berasal dari Jawa dan Bali.
“Transmigrasi sejak zaman Presiden Soekarno hingga saat ini telah melahirkan desa definitif sebanyak 1.567 desa, 466 kecamatan, 116 kabupaten, dan 3 provinsi, yakni Provinsi Kalimantan Utara, Papua Selatan, dan Sulawesi Barat,” ujarnya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup ForWaTrans, Minggu malam (25/1/2026).
Program transmigrasi tidak hanya melahirkan wilayah administrasi, namun juga menciptakan daerah pertumbuhan ekonomi sosial baru. Sebagai kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Tulang Bawang pada 2008, Mesuji tumbuh sebagai wilayah baru yang memiliki banyak potensi.
Sebagai buktinya, Viva Yoga berkunjung ke Desa Tanjung Menang Raya, Kecamatan Mesuji Timur, untuk panen melon. Panen melon berlangsung meriah dengan dihadiri Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf, Bupati Mesuji Elfianah dan juga Wakil Bupati Yugi Wicaksono.
Viva Yoga mengapresiasi semangat transmigran dan warga di sana dalam membudidayakan melon. “Selain melon di sini juga melimpah padi, pisang, singkong, dan tanaman industri lainya,” tuturnya.
Mantan Anggota Komisi IV DPR dua periode itu mengatakan Kementerian Transmigrasi mempunyai tugas dan kewajiban membantu dan mengoptimalkan potensi yang ada agar memberi manfaat bagi transmigran, baik di satuan permukiman maupun masyarakat asal,
“Kementerian Transmigrasi mengembangkan potensi yang ada sesuai dengan karakter dan keunggulan produk wilayah. Kalau di Polewali Mandar Sulawesi Barat kita kembangkan kakao, di Bungo Jambi kita kembangkan sawit, di Banyuasin Sumatera Selatan padi, dan di Kampar Riau nanas,” tambahnya.
Semua potensi unggulan akan dikelola dengan sistem dan usaha yang modern. Kementerian Transmigrasi mendorong adanya hilirisasi melalui industri yang melibatkan masyarakat sehingga akan tercipta ekosistem ekonomi yang terintegrasi di kawasan transmigrasi.
Dalam membangun dan mengembangkan produk unggulan, kementerian ini tidak sendirian namun melakukan kerja sama atau sinergi dengan berbagai kementerian, pemerintah daerah, BUMN, dan pihak swasta.
Ia ingin produk UMKM dari Mesuji bisa dipasarkan di Bali. Dirinya mendorong ada kerja sama antara pelaku usaha UMKM dengan Toko Oleh-Oleh Krisna Bali. “Agar produk pertanian transmigran dan warga bisa dijual di berbagai Toko Oleh-Oleh Krisna Bali yang tersebar tidak hanya di Bali namun juga kota lainnya,” harapnya.
Toko Krisna Bali tercatat ada 34 outlet yang tersebar di berbagai tempat di Bali, dan ada juga di luar Bali, di antaranya di Yogyakarta. Satu Outlet dalam sehari bisa diserbu hingga 5.000 wisatawan.
Pengembangan ekonomi di kawasan transmigrasi penting adanya kerjasama dengan investor untuk menanamkan investasinya sehingga memberikan ‘trickle down effect’ buat pengembangan ekonomi masyarakat yang selanjutnya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Viva Yoga senang Ajik Krisna bisa datang ke Mesuji. Kehadirannya diharap menjadi motivasi agar produk UMKM dari kawasan ini tidak kalah dengan produk UMKM tempat lainnya. “Mesuji harus ada produk unggulan sehingga memiliki daya tawar yang tinggi”, tegasnya.
Dorongansinergi sebagai bentuk komitmen Kementrans agar kerja keras para transmigran dan warga yang membudidyakan potensi unggulan, kemudian mengolah, dan selanjutnya mengemas memiliki pasar yang besar. “Bila rantai produksi ini berjalan akan meningkakan pendapatan masyarakat”, ucap Viva Yoga. (ARW/SMR)





