Iran semakin memperketat kendali terhadap pelayaran di Selat Hormuz di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal komersial. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran, perdagangan energi dan stabilitas ekonomi global.
Semarak.co – Menurut laporan kantor berita Britania Raya, Reuters pada 14 Oktober 2026, Iran menggunakan taktik baru untuk menargetkan kapal yang melintasi jalur strategis dunia, Selat Hormuz, di tengah konflik regional yang belum mereda.
Selat Hormuz merupakan jalur yang strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Sebelum perang, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia melewati perairan tersebut setiap harinya.
Iran berupaya memerkuat pengaruhnya terhadap jalur pelayaran tersebut sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari 2026. Pembatasan lalu lintas kapal menjadi tekanan terhadap pihak Washington.
Dua Kapal dilaporkan Tenggelam
Risiko pelayaran meningkat setelah dua kapal komersial tenggelam dalam insiden terpisah di sekitar Selat Hormuz. Kantor berita Reuters melaporkan kejadian tersebut pada 14 Oktober 2026, berdasarkan keterangan otoritas maritim.
Kapal kontainer berbendera Singapura, GFS Pride, tenggelam setelah mengalami kerusakan dan kebakaran. Otoritas Pelabuhan dan Maritim Singapura menyatakan seluruh 21 awak berhasil dievakuasi dengan selamat tanpa korban luka.
Kapal kargo curah Cape Dao juga dilaporkan tenggelam setelah sebelumnya terkena proyektil pada September 2026 lalu. Insiden tersebut menewaskan seorang awak, sementara anggota kru lainnya berhasil dievakuasi.
Dampak Terhadap Harga Minyak dan Perdagangan Dunia
Meningkatnya ancaman keamanan membuat perusahaan pelayaran menghadapi risiko operasional, biaya asuransi dan kemungkinan keterlambatan pengiriman. Kondisi ini menambah ketidakpastian bagi pasar energi serta perdagangan internasional.
Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi negara-negara pengimpor energi, termasuk negara Asia. Kenaikan biaya pengangkutan dan harga minyak dapat menambah tekanan terhadap biaya produksi serta transportasi.
Namun, seperti dilansir kantor berita Inggris tersebut, besarnya dampak ekonomi akan bergantung pada perkembangan konflik, volume kapal yang masih melintas, dan kemampuan negara-negara terkait menjaga kelancaran pasokan energi global.
Respons Internasional dan Risiko Keamanan
Reuters melaporkan bahwa lembaga pemantau keselamatan maritim menilai ancaman terhadap kapal dagang di jalur strategis Selat Hormuz masih berada pada tingkat tinggi yang serius. Serangan terhadap kapal komersial juga meningkat.
Situasi tersebut meningkatkan perhatian terhadap perlindungan awak kapal, kebebasan navigasi dan keamanan jalur perdagangan internasional. Upaya diplomatik untuk meredakan konflik menjadi penting guna mencegah gangguan yang lebih luas.
Hingga laporan yang dirujuk diterbitkan, ketegangan di kawasan belum menunjukkan penyelesaian yang pasti. Perkembangan berikutnya akan menentukan keamanan pelayaran dan dampaknya terhadap pasar energi dunia. (net/rts/kim/smr)





