Rangkaian puncak gelaran festival literasi nasional bertajuk Festival LITERAIA 2026 yang diselenggarakan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) di Museum Nasional kawasan Medan Merdeka Jakarta Pusat, diisi dua kegiatan utama yang diikuti para peserta dan pembicara, pada Rabu (14/10/2026).
Semarak.co – Pertama, Workshop Literaia dengan materi The Winning Deck-Teknik Pitching Profesional untuk Penulis Novel yang dipaparkan Sigit Pratama, seorang produser. Kedua, acara Bincang Literaia dengan tema Konservasi.
Festival Literaia 2026 berlangsung dari 11, 13, dan 14 Oktober 2026 diselenggarakan Direktorat Penerbitan dan Fotografi, Deputi Bidang Kreativitas Media, Kemenekraf dalam rangka memperingati Bulan Gemar Baca dan Hari Literasi Nasional.
Festival Literaia 2026 merupakan festival literasi nasional yang mengusung semangat penguatan budaya baca dan ekosistem literasi di Indonesia. Kegiatan ini mempertemukan pelaku industri buku, komunitas literasi, pelaku ekonomi kreatif, serta masyarakat melalui berbagai rangkaian program.
Seperti bincang literasi, workshop, pameran, hingga sesi diskusi mendalam terkait pelestarian dan konservasi karya. Kemenekraf melihat keberhasilan karya-karya seperti Novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala yang diadaptasi menjadi serial Netflix masuk daftar Top 10 serial TV nonbahasa Inggris Netflix pada November 2023.
Hal tersebut sebagai merupakan gambaran potensi sastra dalam pengembangan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP). Melalui penerjemahan, penerbitan internasional, adaptasi film dan serial, karya penulis berpeluang menghasilkan uang yang lebih besar sekaligus memperluas jangkauan cerita Indonesia.
Dalam festival ini mempertemukan penulis, penerbit, komunitas literasi, dan pelaku industri kreatif untuk membahas pengembangan karya serta peluang memasuki pasar yang lebih luas. Sejumlah agenda membahas hubungan sastra dengan film, pengembangan buku anak, agensi buku.
Lalu komik lokal di pasar digital internasional, hingga strategi membawa penulis Indonesia ke panggung dunia. Lokakarya juga mencakup penyusunan logline dan pitch deck untuk menawarkan karya kepada produser film.
Pembicara tunggal Sigit Pratama yang memberi judul paparan The Winning Deck-Teknik Pitching Profesional untuk Penulis Novel menyebut ada 8 Teknik Flow of Mind, yaitu Akronim, Numerical Order, Efek Psikologisk Problem & Solution, Cause & Effect, Kronologis (buat cerita yang linier yang gampang seperti cerita masa lalu masa depan).
Selanjutnya Theory & Practice, dan terakhir The Power of Three. Bagian The Power of Three atau tiga pesan dalam cerita ini, terang Sigit, sebenarnya turunan dari bagian teknik Numerical Order. Pesan yang ingin disampaikan dalam cerita sebagai penulis ada 3 hal.
Dengan 3 hal ini, nilai Sigit, maka sudah beres sebuah proses cerita menjadi karya. Pesan pertama ada di pembukaan cerita. Di pembuka cerita, jangan mendetailkan semua bagian untuk masuk dalam satu bagian sehingga terkesan mubazir.
“Misalnya yang punya inti dari cerita bapak itu, lalu kira-kira mau menjualnya bagaimana? Kenapa kita harus peduli sama cerita anak itu, kenapa cerita itu jadi penting buat kita? Atau kita tidak bisa bicara saya punya cerita anak, anaknya kenapa, kenapa kita harus peduli sama cerita anak itu, kenapa kita harus peduli sama cerita keluarga itu, kenapa cerita itu jadi penting buat kita,” ujarnya.
Semua itu letakan di bagian pembuka yang tetap ada konteksnya. Adalagi misalnya, saya punya cerita pasangan, tapi kita ragu-ragu. Cara menceritakan ke produser harus to the poin. “Jangan begini, pasangan ini berasal dari Indonesia berusia 25 tahun terpaut 10 tahun, mereka alami masalah hidup di Probolingga dari Jakarta. Aduh ini kelamaan. Whats the Contect? Ngomongin pasanganya kenapa?” ujarnya.
Berikutnya Sigit meminta sebagai penulis harus membuat karya kontennya jujur ditambah punya relevansi. “Konten yang baik adalah kombinasi pengalaman jujur dan topik yang penting bagi audiensi. Kalau konteks bicaranya sudah sama, apa yang disampaikan akan masuk dengan baik,” terang dia.
Jujur di sini, terang Sigit, maksudnya kenapa kamu – dan hanya kamu – yang bisa menulis cerita ini. Sedangkan Relevan adalah untuk mengetahui kenapa penonton har ini butuh cerita ini. “Di dalam diri kita ada pengalaman jujur sedangkan pada audiensi itu ada topic penting dan relevan yang bersatu menjadi pesan masuk. Karena relevan itu yang paling dekat dengan audien,” tuturnya.
Saat melakukan pitching atas karya penulis saat berhadapan dengan produser, pesan Sigit, juga harus jujur. “Ketika pitching cerita horor pun pakai konteks karena didasari eksperience si audiensi yang butuh kedekatan emosionalnya. Bukan hanya saya punya cerita horor pak. Langsung to the point, cerita horor yang penulis punya mau disampaikan itu apa?,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, Novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala membuktikan bahwa cerita yang berakar pada sejarah dan budaya lokal dapat menjangkau audiens global. Diadaptasi menjadi serial Netflix, kisah tentang cinta, perjuangan perempuan, dan industri kretek Indonesia itu masuk daftar Top 10 serial TV nonbahasa Inggris Netflix pada November 2023.
Berdasarkan data Netflix untuk periode 6–12 November 2023, Gadis Kretek menempati peringkat ke-10 global dengan 1,6 juta penayangan dalam sepekan. Serial tersebut juga masuk daftar Top 10 di enam negara, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Pencapaian itu berawal dari novel yang terbit pada 2012. Ratih menghabiskan hampir empat tahun untuk menulisnya, termasuk melakukan riset ke sejumlah kota di Jawa Tengah, seperti Kudus, Magelang, dan Semarang.
Cerita keluarga besarnya yang memiliki latar usaha kretek turut menginspirasi dunia yang dibangun dalam novel tersebut. Ratih saat itu sudah membayangkan ceritanya suatu hari bisa hadir di layar lebar. Namun, serial televisi saat itu masih didominasi sinetron.
Sementara genre fiksi sejarah yang diusung novelnya menghadapi tantangan sensor. Adaptasi serial pun belum menjadi pilihan yang realistis. Ratih tidak pernah memaksakan novelnya harus diadaptasi. Ia membiarkan cerita itu menemukan waktunya sendiri.
Hingga sebelas tahun kemudian Gadis Kretek akhirnya menjelma menjadi serial Netflix yang menjangkau penonton global. Tokoh Dasiyah atau Jeng Yah, perempuan yang berambisi meracik saus kretek di tengah industri yang didominasi laki-laki, menjadi salah satu karakter sentral cerita.
Ketika novel itu diadaptasi menjadi serial yang tayang pada 2 November 2023, Ratih turut terlibat dalam penulisan naskah bersama tim adaptasi. Serial tersebut disutradarai Kamila Andini dan Ifa Isfansyah, dengan Dian Sastrowardoyo sebagai pemeran Dasiyah.
Perjalanan Gadis Kretek memperlihatkan bahwa karya sastra dapat berkembang melampaui buku, membuka peluang adaptasi audiovisual, dan menjangkau penonton di berbagai negara. “Karya ini diterima oleh penonton global, dan mereka bisa memahami cerita maupun konteksnya, buat saya, itu yang terpenting,”kata Ratih.
“Untuk bisa menjangkau penonton internasional, sekaligus meninggalkan kesan, diperlukan ciri khas lokal yang membuatnya menonjol. Ini semua, bisa didesain, tidak cuma kebetulan,” demikian Ratih yang sudah melahirkan enam buku fiksi.
Potensi serupa sebelumnya terlihat melalui Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Novel yang terbit pada 2005 itu berkembang menjadi fenomena literasi nasional dan diadaptasi menjadi film pada 2008. Selain itu, karya-karya Eka Kurniawan telah menjangkau pembaca internasional dan diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. (hms/krf/smr)





