Houthi Klaim Serang Fasilitas Saudi, Pasar Minyak Dunia Kembali Waspada

Ketegangan Saudi Arabia dan kelompok Houthi Yaman kembali meningkat setelah Houthi mengklaim menyerang sejumlah fasilitas strategis Saudi, memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan pasokan minyak global  internasional kawasan.

Semarak.co – Kelompok Houthi pada Senin mengklaim melancarkan serangan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah dan drone terhadap beberapa lokasi Saudi, termasuk Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Senin malam waktu setempat.

Bacaan Lainnya

Menurut klaim kelompok Houthi, sasaran lainnya mencakup kilang Aramco di Rabigh, Bandara Abha, pangkalan militer Khamis Mushait serta sejumlah lokasi sensitif di Najran dan Jazan, Arab Saudi bagian selatan negara tersebut.

Kantor berita Reuters pada Selasa (6/10/2026) melaporkan, belum ada konfirmasi langsung dari pemerintah Saudi maupun Aramco mengenai klaim tersebut. Karena itu, rincian kerusakan dan dampak serangan tersebut masih belum dapat diverifikasi secara independen sampai kini.

Di tengah ketegangan antara kelompok Houthi dan Arab Saudi tersebut, harga minyak dunia bergerak relatif stabil. Pada Selasa, Brent turun empat sen menjadi 100,28 dolar AS per barel, menurut laporan Reuters terbaru pada pagi hari ini.

Penurunan terbatas terjadi setelah ekspor minyak Timur Tengah meningkat dan negara G7 menyepakati pelepasan 100 juta barel minyak mentah serta diesel dari cadangan darurat strategis untuk pasar dunia internasional bersama.

Namun, risiko gangguan pasokan tetap menjadi perhatian pasar karena Saudi Arabia merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia, sementara konflik juga mengancam jalur perdagangan strategis kawasan Timur Tengah secara langsung.

Pertempuran semakin kompleks setelah pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi melancarkan operasi merebut wilayah sekitar Selat Bab el-Mandeb dari Houthi, jalur penting perdagangan energi internasional dan global yang strategis tersebut.

Perkembangan tersebut membuat pasar energi menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni meningkatnya ancaman terhadap fasilitas minyak Saudi dan ketidakpastian keamanan pelayaran melalui jalur strategis kawasan Timur Tengah saat ini secara keseluruhan.

Reuters mencatat ekspor minyak mentah Timur Tengah sempat melampaui tingkat sebelum perang selama empat hari pada pekan terakhir September 2026 menunjukkan arus pasokan masih relatif bertahan hingga kini secara keseluruhan di kawasan.

Meski demikian, analis menilai harga minyak berpotensi tetap mendapat dukungan apabila serangan berlanjut, terutama jika fasilitas produksi, pelabuhan, kapal tanker, atau jalur ekspor mengalami gangguan serius berkepanjangan dalam waktu mendatang.

Situasi Saudi-Houthi juga berkaitan dengan ketegangan lebih luas di kawasan, termasuk konflik Amerika Serikat dan Iran serta gangguan pelayaran di sekitar Selat Hormuz yang sangat strategis bagi dunia internasional. (net/rts/kim/smr)

Pos terkait