Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Republik Iran diperkirakan kembali berlangsung pekan ini, meski sehari sebelumnya Washington menolak proposal gencatan senjata terbaru Teheran yang diajukan secara resmi.
Semarak.co – Trump menyampaikan pernyataan itu dalam wawancara dengan Axios pada Minggu, 27 September 2026, setelah Iran mengajukan proposal melalui mediator Qatar untuk membuka kembali’ Selat Hormuz dalam waktu dekat secara bertahap.
Proposal Iran berkaitan dengan pembukaan Selat Hormuz dan dimulainya kembali perundingan nuklir dalam waktu satu minggu, dengan sejumlah syarat termasuk pencabutan blokade laut AS dan penghentian konflik secara menyeluruh.
Trump mengatakan Iran ingin membuat kesepakatan, tetapi bukan kesepakatan yang diinginkannya. Menurut Trump, proposal tersebut menyerupai persyaratan yang mungkin disetujui AS satu tahun lalu, pada masa sebelumnya ketika situasi berbeda.
Meski proposal ditolak, mediator Qatar tetap menjalankan diplomasi untuk mempersempit perbedaan. Pertemuan tidak langsung sebelumnya menghadirkan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dengan Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Isu nuklir menjadi salah satu titik utama perselisihan. Dilansir Reuters, Axios, CNA dan AFP (28/9/2026), pemerintahan Trump menginginkan konsesi terkait program nuklir Iran, sementara Teheran menempatkan Selat Hormuz dan blokade AS sebagai perhatian utama dalam perundingan lanjutan.
Araghchi mengatakan Iran tetap berkomitmen mencari penyelesaian diplomatik dan menunggu penyampaian resmi posisi AS melalui mediator. Teheran menyatakan keputusan berikutnya akan didasarkan kepentingan nasionalnya, bukan tekanan eksternal dari pihak manapun.
Perkembangan diplomasi itu berlangsung ketika ketegangan kawasan masih tinggi. Selat Hormuz menjadi perhatian pasar energi karena jalur strategis tersebut penting bagi perdagangan minyak internasional dan pelayaran global regional setiap hari.
Kantor Berita Britania Raya, Reuters melaporkan harga minyak menguat pada Senin (28/9) setelah proposal Iran ditolak. Brent naik lebih dari satu persen, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik dan pasokan energi dunia secara global.
Jika perundingan kembali berlangsung, perhatian internasional akan tertuju pada kemungkinan kompromi mengenai program nuklir, Selat Hormuz, sanksi, blokade laut serta penghentian konflik yang sedang berlangsung di kawasan tersebut saat ini. (net/rts/axs/cna/afp/kim/smr)





