Amerika Kalah Secara Strategis dalam Perang Iran: Kata Pakar Militer

Amerika Serikat (AS) secara strategis, telah kalah perang. Ini dikemukakan pakar militer Trita Parsi dari Quincy Institute for Responsible Statecraft. Biaya ekonomi dari blokade pelabuhan Iran, katanya, telah melebihi perkiraan Gedung Putih dan kerusakan strategis yang lebih luas bagi AS mungkin lebih signifikan.

Semarak.co “Iran telah berada di bawah berbagai tekanan ekonomi dan sanksi selama 47 tahun,” kata Parsi kepada Al Jazeera, seperti dilansir Sindonews.com pada hari Ahad 3/5/2026.  “Tidak satu pun dari tekanan tersebut berhasil menghancurkan Iran atau memaksa mereka untuk menyerah.”

Bacaan Lainnya

Kedua belah pihak mungkin dapat bertahan selama beberapa minggu lagi, katanya, tetapi situasinya “hanya akan semakin memburuk”. Biaya manusia dan ekonomi bagi negara ketiga sudah sangat besar. Kuwait, misalnya, “belum mengekspor minyak selama sebulan penuh.

Kuwait belum mengekspor minyak selama sebulan penuh — sesuatu yang belum pernah terjadi dalam 30 atau 40 tahun. Parsi menambahkan, tekanan dari kekuatan seperti China dapat mendorong kedua belah pihak menuju solusi diplomatik.

Analis itu juga membahas dampak dari penarikan 5.000 pasukan AS dari Jerman. “Amerika Serikat pada dasarnya telah kalah secara strategis dan ini menunjukkan bahwa Iran mampu melakukan hal yang sama terhadap Amerika Serikat seperti yang dilakukan Ukraina terhadap Rusia,” ucapnya.

“Hal ini akan menimbulkan pertanyaan serius tentang kegunaan, keandalan dan efektivitas payung keamanan Amerika,” bebernya. Trita Parsi juga mengatakan blokade angkatan laut AS terhadap Iran telah menjadi bumerang bagi Presiden Trump dan memerburuk situasi.

“Negosiasi sedang berlangsung dan dapat dilanjutkan terlepas dari blokade tersebut,” kata Parsi kepada Al Jazeera. “Blokade tersebut tidak ada hubungannya dengan kehadiran Iran di meja perundingan. Jika ada, blokade tersebut lebih menghambat kemajuan diplomatik daripada hal lainnya.”

Ia berpendapat, Trump sebenarnya telah mengamankan keuntungan terbesarnya melalui diplomasi sebelum blokade diberlakukan. “Begitu ia berhasil mendapatkan gencatan senjata, tekanan utama padanya, yaitu perang itu sendiri dan dampaknya terhadap kenaikan harga gas, telah hilang,” cetusnya.

“Seandainya ia tetap berada dalam skenario itu dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, ia akan berada dalam posisi yang jauh lebih kuat terhadap Iran, karena Iran belum berhasil mendapatkan hal utama yang mereka inginkan: pencabutan sanksi,” ujar Parsi.

Sebaliknya, dengan memberlakukan blokade, Trump justru mengurangi pasokan minyak di pasar. “Harga minyak sekarang lebih tinggi selama gencatan senjata daripada selama perang itu sendiri. Semua indikator ekonomi ini menunjukkan, blokade memerburuk situasi bagi Trump,” pungkas Parsi. (net/snc/alz/kim/smr)

Pos terkait