Di tengah konflik yang juga belum usai dengan Republik Islam Iran, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat konfroversi. Nama Kuba disebut-sebut Trump sebagai kemungkinan langkah militer AS berikutnya setelah Iran. Tentu saja hal ini memicu kekhawatiran internasional.
Semarak.co – Pernyataan kontrovesial Trump tersebut muncul setelah meningkatnya ketegangan selama perang Paman Sam-Iran, ketika Presiden dari Partai Republik menyebut bahwa Washington “mungkin akan mampir ke Kuba” setelah operasi militer di Timur Tengah selesai.
Seperti dilansir Arrahmah.id dari media Anadolu Agency pada 2 Mei 2026, dalam pernyataannya kepada wartawan di Istana Presiden AS Gedung Putih, Donald Trump menyinggung kemungkinan tindakan terhadap Kuba dengan nada tegas.
“Kami mungkin akan mampir ke Kuba setelah kami selesai dengan ini,” ujar Donald Trump, merujuk pada konflik dengan Iran. Pernyataan tersebut diperkuat oleh laporan media internasional lain yang menyebut Trump bahkan mengisyaratkan kemungkinan pengambilalihan Kuba.
Pengambilan Kuba secara cepat setelah perang berakhir (dengan Iran), memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik baru di kawasan Karibia. Secara waktu dan konteks, pernyataan ini muncul setelah konflik AS-Iran yang berlangsung sejak Februari 2026 dan memicu ketegangan global.
Dari sisi pelaku, Donald Trump sebagai kepala negara AS menyampaikan pernyataan tersebut, sementara Kuba menjadi pihak (negara) yang berpotensi terdampak akan pernyataan kontroversial Presiden AS tersebut yang sewaktu-waktu bisa menjadi kenyataan.
Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, pun menanggapi pernyataan tersebut dengan menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi Paman Sam untuk melakukan serangan terhadap negaranya dan memeringatkan bahwa setiap agresi akan mendapat perlawanan keras.
Situasi ini juga berkaitan dengan kebijakan negara Land of Opportunity yang semakin keras terhadap Kuba yang dijuluki Pearl of the Antilles atau Mutiara Karibia, termasuk sanksi ekonomi tambahan dan tekanan diplomatik yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Sejumlah analis menilai pernyataan Trump sebagai bagian dari strategi tekanan geopolitik, namun tetap berisiko meningkatkan ketegangan internasional. Selain itu, komentar tersebut dinilai kontras dengan janji politiknya sebelumnya untuk mengakhiri konflik, bukan membuka front baru.
Hingga kini, belum ada langkah militer konkret yang diumumkan oleh Washington terkait Kuba. Namun, pernyataan tersebut telah memicu perhatian luas komunitas internasional karena berpotensi memerluas konflik dari Timur Tengah ke kawasan Amerika Latin. (net/aid/aa/sn/kim/smr)





