Hamas: BoP Bentukan Trump Harus Hentikan Pembunuhan oleh Israel di Gaza

Situasi di Gaza masih mengenaskan meski telah terjadi gencatan senjata di Gaza. Gerakan Perlawanan Islam Hamas mendesak “Dewan Perdamaian” Presiden Donald Trump, Board of Peace (BoP) untuk memaksa Israel menghentikan “pelanggaran berkelanjutan”.

Semarak.co – Kelompok Pejuang Islam Hamas mendesak kepada negara-negara anggota BoP dipimpin Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mematuhi  kesepakatan Gaza yang ditengahi negara Paman Sam pada Oktober 2026 lalu.

Seruan itu diungkap saat pertemuan formal pertama badan kontroversial ini berlangsung pada hari Kamis di Washington. Adapun warga Palestina yang terkepung di wilayah yang dilanda perang menunggu fase kedua perjanjian perdamaian sepenuhnya berlaku.

“Perang genosida terhadap Jalur Gaza masih berlangsung – melalui pembunuhan, pengusiran, pengepungan dan kelaparan – yang belum berhenti hingga saat ini,” kata juru bicara Hamas, Hazem Qassem, dalam pernyataan video.

Lebih dari 600 warga Palestina telah mengalami kekacauan bahkan banyak yang tewas oleh pasukan Israel di Gaza sejak kesepakatan gencatan senjata Hamas-Israel dimulai pada 10 Oktober 2025, menurut Kementerian Kesehatan.

Setidaknya 1.600 lainnya terluka akibat penembakan, tembakan dan serangan udara Israel. Akhiri Pengepungan Qassem juga menyerukan kepada dewan Trump untuk memfasilitasi masuknya komite teknokrat yang dipilih untuk memerintah Jalur Gaza yang hancur.

Memulai upaya rekonstruksi besar-besaran “mengakhiri penderitaan penduduk”. “Kami menyerukan pencabutan pengepungan Gaza dan pembukaan penyeberangan dan tidak puas dengan pembukaan sebagian. Dan pelanggaran yang menyertainya oleh pendudukan terhadap pelancong,” katanya.

“Kami memeringatkan pendudukan (Israel) agar tidak menggunakan dewan ini sebagai kedok untuk melanjutkan perang di Gaza dan mencegah rekonstruksi.” Pada hari Selasa, sumber Al Jazeera melaporkan penembakan artileri Israel di lingkungan Tuffah di Kota Gaza di utara Jalur Gaza.

Tank-tank Israel juga melepaskan tembakan dengan peluru dan senapan mesin berat di kota Khan Younis di selatan. Namun, tidak ada laporan langsung tentang korban-korban jiwa dalam serangan brutal Zionis tersebut.

Hambatan yang berlanjut sebelumnya, seorang korban luka tiba di Rumah Sakit al-Awda di Nuseirat, Gaza Tengah, setelah satu drone Israel menargetkan sekelompok warga sipil di al-Maghraqa. Kapal perang angkatan laut Israel menembaki nelayan di lepas pantai Gaza dan menahan dua warga Palestina.

Tentara terus melakukan penghancuran daerah permukiman di utara dan selatan Jalur Gaza. Sementara itu, Israel juga terus memblokir secara ketat masuknya bantuan penyelamat jiwa dan keluarnya ribuan orang sakit dan terluka yang mencari perawatan medis di luar negeri.

Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengatakan  pada hari Senin bahwa kurang dari 60% pengiriman bantuan penting dari negara Mesir diizinkan masuk ke Jalur Gaza. Demikian dilansir Sindonews.com (18/2/2026).

“Pergerakan kemanusiaan yang membutuhkan koordinasi dengan otoritas Israel terus menghadapi hambatan. Tim kami di lapangan sedang berdialog dengan pihak berwenang untuk mengklarifikasi kendala dan mencari solusi agar operasi kami dapat berjalan maju,” kata Dujarric.

Sejak Trump meluncurkan “Dewan Perdamaian” di Forum Ekonomi Dunia di Davos pada Januari lalu, setidaknya 19 negara telah menandatangani piagam pendiriannya. Dewan, yang diketuai Trump, awalnya dirancang untuk mengawasi gencatan senjata Gaza dan rekonstruksi wilayah itu.

Namun, tujuannya kemudian berubah menjadi penyelesaian berbagai konflik internasional, yang memicu kekhawatiran bahwa presiden Amerika Serikat ingin menciptakan saingan bagi organisasi dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa. (net/snc/kim/smr)

Pos terkait