Wamendikdasmen Atip: Revitalisasi Satuan Pendidikan Bukan Hanya Bangun Fisik, tapi Juga Tingkatkan Pembelajaran

Wamendikdasmen Fajar menghadiri Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta, Sabtu (31/1).

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat meresmikan hasil revitalisasi 28 satuan pendidikan SMA se-DIY, di SMA Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, pada Sabtu (31/1).

Semarak.co – Wamen Atip menegaskan bahwa Program Revitalisasi Satuan Pendidikan merupakan salah satu program unggulan Presiden Republik Indonesia dalam memastikan tersedianya sarana pendidikan yang layak dan berdampak langsung pada peningkatan mutu pembelajaran.

Bacaan Lainnya

“Kenapa namanya revitalisasi, bukan hanya membangun fisiknya, akan tetapi pelaksanaan pembelajarannya harus meningkat. Kita ingin sekolah itu betul-betul hidup kembali,” ujarnya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Minggu (1/2/2026).

Atip menjelaskan, revitalisasi satuan pendidikan tidak dimaknai semata sebagai rehabilitasi fisik, melainkan sebagai upaya membangun ekosistem pembelajaran lebih baik. Melalui perbaikan sarana dan prasarana, sekolah diharapkan menjadi ruang belajar yang aman dan nyaman.

Ia juga menyoroti penerapan skema swakelola dalam pelaksanaan revitalisasi satuan pendidikan yang dinilai lebih efisien karena menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab dari pihak sekolah terhadap hasil pembangunan, sekaligus memastikan kualitas pekerjaan sesuai kebutuhan satuan pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta Suhirman menyampaikan bahwa sebanyak 28 satuan pendidikan SMA se-DIY menerima bantuan revitalisasi dengan total anggaran sebesar Rp19,97 miliar.

Seluruh program revitalisasi tersebut telah diselesaikan sesuai jadwal. “Revitalisasi di Yogyakarta dapat diselesaikan 100 persen sesuai dengan jadwal, baik laporan fisik maupun laporan administrasinya,” ujar Suhirman.

Ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai menjadi faktor penting mendukung peningkatan mutu pendidikan di daerah. “Mudah-mudahan dengan sarana dan prasarana yang memadai ini, mutu pendidikan khususnya di Yogyakarta dapat lebih meningkat lagi,” tambahnya.

Kepala Sekolah SMA Ali Maksum Krapyak Khoirul Fuad menyampaikan, Program Revitalisasi Satuan Pendidikan berdampak nyata bagi sekolahnya yang menerima bantuan revitalisasi berupa pembangunan empat ruang kelas lengkap dengan perabot kelas dengan total anggaran sebesar Rp1.3 miliar.

“Merupakan keberkahan atas kehadiran program revitalisasi satuan pendidikan yang sangat luar biasa. Semoga revitalisasi ini mendorong dinamika percepatan dan kemajuan pendidikan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang menjadi cita-cita Bapak Presiden Prabowo,” ujar Khoirul.

Ia juga menegaskan bahwa penambahan ruang kelas tersebut berdampak langsung pada kualitas pembelajaran di sekolah. “Dengan adanya tambahan ruang kelas, anak-anak yang sebelumnya belajar di ruang terbuka kini dapat belajar di ruang yang lebih layak. Proses belajar mengajar menjadi lebih nyaman dan kondusif, sehingga anak-anak dapat belajar dengan lebih fokus,” ujarnya.

Pesan Wamen Fajar untuk Lulusan PPG di Era Kecerdasan Artifisial

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan, perkembangan kecerdasan artifisial (AI) tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang memperkuat kualitas pembelajaran dan peran pendidik.

Fajar  mencontohkan keberadaan Papan Interaktif Digital (PID) sebagai wujud pemanfaatan teknologi yang memberikan pengalaman belajar murid secara bermakna dan menggembirakan. AI  dapat membantu personalisasi belajar, analitik pembelajaran, serta efisiensi kerja guru.

“Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses pemanusiaan manusia. Di sinilah peran guru menjadi penentu arah dan makna pemanfaatan teknologi,” tutur Wamen Fajar, pada acara Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta, Sabtu (31/1).

Menurut Fajar, pemanfaatan KA membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, antara lain melalui pembelajaran yang lebih inklusif, personalisasi materi sesuai kebutuhan murid, serta inovasi pembelajaran kontekstual yang relevan dengan tantangan nyata.

Menyoroti tantangan etis penggunaan AI dalam pendidikan, seperti risiko ketergantungan berlebihan pada teknologi, menurunnya daya kritis peserta didik, serta penggunaan AI tanpa tanggung jawab; Wamen Fajar menyampaikan bahwa peningkatan kompetensi guru kunci memastikan pemanfaatan AI yang bijak.

Orientasi pengajaran saat ini, adalah mengapa hal tersebut diajarkan dan bagaimana. Pendekatan di ruang kelas bergeser untuk mengembangkan diri anak menjadi lebih kritis agar mereka lebih berdaya untuk menjelajah dan berimajinasi.

“Biarlah anak dilatih untuk mengajukan pertanyaan. Kualitas pertanyaan menunjukkan sistem berpikir anak. Kita latih kemampuan mereka dalam mengembangkan pertanyaan bukan menjawab pertanyaan,” jelasnya sembari mengaitkan bahwa konsep ini sejalan dengan desain filosofi Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Wamen Fajar juga mengingatkan agar para guru bersikap profesional apabila ditempatkan untuk mengajar di pelosok negeri. “Harus berbesar hati jika ditempatkan di manapun bertugas. Anak-anak kita yang ada di Flores, di Talaut sana berhak mendapatkan guru dan pendidikan terbaik,” tegasnya.

 

 

 

Pos terkait