Dari Diyarbakir, Turki, para ulama Turki dan sejumlah negara mayoritas Muslim menyerukan penguatan solidaritas bagi rakyat Palestina di Gaza, perlindungan Masjid Al-Aqsa serta pemanfaatan teknologi untuk memerluas pendidikan Islam di tengah tantangan kemanusiaan dan politik kawasan.
Semarak.co – Pertemuan ulama ke-11 yang diselenggarakan İTTİHADUL ULEMA atau Persatuan Ulama berlangsung di Diyarbakir, Turki tenggara, pada tanggal 10-11 Oktober 2026, membahas Palestina dan pendidikan Islam.
Menurut laporan Islam Global News yang merujuk pemberitaan İLKHA, dilansir kantor berita Antara (15/10/2026), forum itu memertemukan ulama dan perwakilan sejumlah negara untuk membicarakan tanggung jawab keagamaan, kemanusiaan serta tantangan masyarakat Muslim.
Salah satu perhatian utama peserta adalah kondisi warga Gaza yang menghadapi penderitaan akibat konflik berkepanjangan. Para ulama mendorong masyarakat Muslim memperkuat kepedulian melalui bantuan kemanusiaan, penyebaran informasi, dan dukungan nyata.
Ulama Mesir Soroti Tanggung Jawab Umat Islam
Ulama dari negeri piramida Mesir, Syekh Mohammed al-Saghir, mengajak umat Islam mengevaluasi tanggung jawab mereka terhadap rakyat Palestina. Ia menyoroti keadaan Gaza, Palestina, serta perkembangan yang memengaruhi Masjid Al-Aqsa kini.
Al-Saghir memertanyakan apakah masyarakat Muslim secara luas telah memberikan dukungan memadai kepada warga Palestina. Ia menekankan bahwa setiap individu dan komunitas dapat berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.
Bentuk dukungan tersebut dapat berupa bantuan kemanusiaan, peningkatan kesadaran masyarakat serta berbagai upaya untuk menjaga tempat suci umat Islam. Seruan tersebut menegaskan pentingnya solidaritas berkelanjutan.
Perlindungan Masjid Al-Aqsa Menjadi Perhatian Utama
Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur merupakan tempat suci penting bagi umat Islam sekaligus simbol yang memiliki arti keagamaan dan politik. Perkembangan di kompleks masjid tersebut terus menjadi perhatian internasional.
Para peserta pertemuan menekankan pentingnya melindungi kesucian masjid dan memertahankan kedudukannya. Mereka juga menyoroti tanggung jawab komunitas Muslim dan masyarakat internasional dalam menyikapi berbagai perkembangan yang memengaruhi kawasan.
Organisasi Kerja Sama Islam atau OKI sebelumnya juga mengecam penyerbuan kompleks Al-Aqsa dan memeringatkan risiko meningkatnya ketegangan keagamaan. Organisasi tersebut menyerukan langkah internasional untuk melindungi tempat-tempat suci.
Teknologi Dinilai Penting untuk Pendidikan Islam
Selain membahas Palestina, pertemuan tersebut menyoroti pemanfaatan teknologi modern dalam pendidikan dan dakwah Islam. Para peserta menilai perkembangan platform digital membuka peluang menjangkau masyarakat, khususnya generasi muda.
Faisal Jalali, perwakilan Kedutaan Besar Imarah Islam Afghanistan, membahas peluang sekaligus tantangan yang muncul akibat perubahan kebiasaan komunikasi masyarakat. Ia mendorong penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
Menurut pembahasan dalam forum tersebut, dakwah tidak cukup dilakukan melalui pidato atau pertemuan formal. Perilaku terpuji, integritas, keadilan dan akhlak sehari-hari juga menjadi bagian penting penyampaian dalam nilai-nilai Islam.
Seruan Solidaritas Menunggu Tindak Lanjut
Pertemuan di Diyarbakir memerlihatkan bagaimana forum keagamaan menggabungkan persoalan kemanusiaan dengan pendidikan dan tanggung jawab sosial. Para ulama mengharapkan seruan solidaritas diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Bagi masyarakat Palestina, perhatian internasional, bantuan kemanusiaan, dan upaya diplomatik tetap menjadi unsur penting dalam menghadapi krisis. Namun, dampak seruan tersebut bergantung pada tindakan masyarakat, lembaga dan pemerintah.
Forum ini juga mengingatkan komunitas Muslim agar memerkuat pendidikan, komunikasi digital, serta kegiatan sosial. Pelaksanaan berbagai gagasan tersebut memerlukan kerja sama berkelanjutan dan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat yang terdampak konflik. (net/ign/ai/ant/kim/smr)





