Hubungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menghadapi ujian serius setelah muncul perbedaan mengenai pelaksanaan rencana perdamaian Gaza yang didukung Washington.
Semarak.co – Perbedaan utama berkaitan dengan urutan pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel dari Gaza. PM Netanyahu menginginkan Hamas dilucuti terlebih dahulu sebelum Israel melakukan penarikan signifikan dari wilayah tersebut.
Rencana Trump mengusulkan proses bertahap yang menghubungkan pelucutan senjata Hamas dengan penarikan pasukan Israel. Dilansir Reuters dan Associated Press (11/8/2026), mekanisme tersebut dirancang agar setiap pihak memenuhi komitmen secara bertahap dan terverifikasi.
Netanyahu tetap memertahankan posisi keamanan Zionis Israel dengan menegaskan bahwa penarikan pasukan sebelum pelucutan Hamas sepenuhnya dapat menciptakan ancaman baru. Sikap itu mendapat dukungan kelompok sayap kanan.
Perbedaan itu menjadi tantangan besar bagi Washington karena Trump menginginkan kemajuan diplomatik di Gaza. Pemerintah Amerika berupaya memertahankan komunikasi dengan Israel agar rencana perdamaian tidak mengalami kegagalan.
Menurut laporan Kantor Berita Inggris, Reuters, Hamas disebut menerima kerangka rencana tersebut secara prinsip, tetapi Israel keberatan terhadap mekanisme penarikan pasukan sebelum pelucutan Hamas selesai sepenuhnya dan terverifikasi.
Rencana perdamaian itu juga mencakup pembentukan pemerintahan teknokratis Palestina untuk mengelola Gaza. Pemerintahan baru diharapkan bekerja dengan dukungan internasional selama proses transisi politik dan pembangunan berlangsung.
Selain itu, rencana tersebut mengusulkan pembentukan International Stabilization Force untuk membantu keamanan Gaza. Pasukan internasional diharapkan mendukung kepolisian Palestina serta menciptakan kondisi bagi pemulihan.
Ketegangan diplomatik semakin terlihat setelah Jared Kushner, menantu Donald Trump, dilaporkan terlibat dalam pembahasan mengenai peta jalan Gaza. Perselisihan itu menunjukkan perbedaan Washington dan Netanyahu semakin terbuka.
Netanyahu menghadapi tekanan politik domestik karena kelompok sayap kanan Israel menuntut pemerintah memertahankan pendekatan keamanan keras. Mereka menolak penarikan pasukan sebelum kelompok pembebasan Islam Hamas kehilangan kemampuan militer sepenuhnya.
Sementara itu, pemerintahan Trump menghadapi tekanan untuk menghasilkan kemajuan nyata dalam persoalan Gaza. Keberhasilan diplomasi Amerika sangat bergantung pada kemampuan Washington menjembatani tuntutan keamanan Israel.
Sementara Jerman menyatakan rencana Amerika masih dapat membuka jalan menuju pelucutan senjata pejuang Hamas, kendati pun banyak persoalan teknis dan politik belum terselesaikan antara berbagai pihak terkait masalah tersebut.
Persoalan terbesar terletak pada urutan tindakan. Zionis Israel menginginkan pelucutan Hamas terlebih dahulu, sedangkan Hamas menginginkan Israel memenuhi komitmen penarikan sebelum proses pelucutan dilakukan secara menyeluruh.
Perbedaan tersebut sangat menentukan karena menyangkut tingkat kepercayaan antara kedua pihak. Tanpa mekanisme yang disepakati, setiap langkah penarikan atau pelucutan berpotensi dianggap membahayakan keamanan masing-masing pihak.
Di tengah tarik-menarik diplomasi tersebut, warga Gaza tetap menghadapi dampak perang yang panjang. Rekonstruksi membutuhkan keamanan, pemerintahan stabil, bantuan internasional serta kesepakatan politik yang berkelanjutan.
Rencana Trump juga mengharapkan negara-negara Arab dan komunitas internasional berperan dalam pembangunan kembali wilayah Gaza. Namun, bantuan tersebut sulit berjalan optimal apabila persoalan keamanan belum terselesaikan sepenuhnya dengan baik.
Nasib rencana perdamaian kini sangat bergantung pada kemampuan Presiden AS Donald Trump dan PM Netanyahu menemukan kompromi. Hamas, Palestina, negara-negara Arab serta komunitas internasional juga memiliki peran menentukan dalam proses tersebut.
Meskipun PM Benjamin Netanyahu menolak beberapa bagian penting proposal Washington, rencana tersebut belum dinyatakan gagal. Pembahasan masih berlangsung dan para pejabat terkait berusaha mencari jalan keluar diplomatik.
Jika pihak Washington berhasil menjembatani perbedaan mengenai pelucutan Hamas dan penarikan Zionis Israel, proposal tersebut berpeluang menjadi dasar gencatan senjata serta membuka jalan rekonstruksi Gaza secara bertahap.
Sebaliknya, apabila kebuntuan terus berlangsung, proses perdamaian berpotensi kembali terhenti. Kondisi tersebut dapat memperpanjang ketidakpastian politik, memperburuk situasi kemanusiaan, dan menghambat pembangunan kembali Gaza.
Perkembangan hubungan Donald Trump dan Netanyahu menjadi perhatian internasional karena keputusan keduanya dapat memengaruhi arah konflik Gaza, stabilitas Timur Tengah serta peluang terciptanya perdamaian berkelanjutan. (net/rts/ap/kim/smr)





