Oleh Muhammad Hafil dan Fuji E Permana
semarak.co-Bagi pemimpin yang mati dalam keadaan menipu rakyat maka haram surga baginya.
Agama Islam mengajarkan agar umat manusia dan para pemimpin menjadi pemimpin yang baik, adil, jujur, amanah dan bijaksana. Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya menyampaikan bahwa pemimpin yang mati dalam keadaan menipu rakyatnya, maka surga haram untuknya.
Ubaidullah bin Ziyad mengunjungi Ma’qil bin Yasar al-Muzani yang sedang sakit dan menyebabkan kematiannya. Ma’qil berkata, “Sungguh, aku ingin menceritakan kepadamu sebuah hadis yang aku pernah mendengarnya dari Rasulullah SAW.
Sekiranya aku mengetahui bahwa aku (masih) memiliki kehidupan, niscaya aku tidak akan menceritakannya.”
Ma’qil mengatakan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan surga atasnya.” (HR Muslim).
Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa pemimpin yang mati dalam keadaan menipu rakyatnya akan mendapat hukuman. Hukumannya adalah diharamkannya surga untuknya.
Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW menjelaskan tentang pemimpin yang baik adalah yang mencintai rakyatnya dan rakyatnya mencintai pemimpinnya. Sementara, pemimpin yang buruk akan membenci rakyatnya dan rakyatnya membenci pemimpinnya.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.”
Nabi SAW ditanya sahabatnya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka (pemimpin yang buruk)?” Nabi SAW bersabda, “Tidak, selagi mereka mendirikan sholat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka.” (HR Muslim).
Sekali lagi aku termangu, membaca hadis yang sebenarnya sudah berulang kali kubaca. Aku terdiam merenungi sabda Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
“Seseorang yang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu mati ketika sedang menipu rakyatnya, maka Allah mengharamkan baginya surga.” (HR. Muslim).
Ini adalah kabar dan sekaligus peringatan dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Sulit membayangkan ada pemimpin menipu rakyatnya sendiri.
Tetapi hadis itu ada, sementara tidaklah Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam berbicara kecuali dengan bimbingan Allah ‘Azza wa Jalla. Maka suatu saat pasti akan pernah terjadi seorang pemimpin menipu rakyatnya, memperdayai mereka, secara diam-diam atau terang-terangan. Mereka culas.
Jika ini terjadi, sungguh musibah besar. Terlebih jika berkumpul dalam diri pemimpin itu beserta orang-orang di sekelilingnya sifat ringan berdusta, melempar tanggung-jawab dan tidak punya malu mengkhianati perkataan sendiri. Inilah pemimpin yang tidak menyayangi rakyatnya.
Semoga ini tidak terjadi pada kita. Sekiranya pemimpin yang menipu itu ada atau berpotensi ada di masa kini, semoga Allah subhanahu wa ta’ala hindarkan kita dari keburukan yang lebih besar. Kepada-Nya kita memohon. Angkat tanganmu dan jangan pernah abaikan untuk terus berdo’a:
اللَّهُمَّ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
“Ya Allah, janganlah Engkau serahkan kepemimpinan wilayah kami kepada orang yang tidak mengasihi kami.” (HR. Tirmidzi).
Diam-diam aku merasa khawatir, pemimpin yang menipu itu telah dekat atau sesungguhnya telah ada di masa kita. Pemimpin yang amat besar fitnahnya. Sesiapa mendekat, akan ikut rusaklah dia.
sumber: WA Group Anies For Presiden 2024/swamedium.com di google.co.id





