Nahdlatul Ulama, Qua Vadis?

Oleh Gus Asror *

semarak.co-Nahdhatul Ulama (NU) telah memproduk banyak Penyerang Islam seperti SAS, Yaqut, Masdar F Mas’udi, Marsudi, Abu Janda, Guntur Romli, Ulil Abshar, Sumanto Qurtubi, Nadirsyah Husein, Muqsit Ghozali, Zuhair Misrawi, Luthfi Syaukani, dll, terlalu banyak kalau harus disebutkan semua.

Dan Mereka bukan oknum, karena jumlahnya banyak dan resmi secara struktural direstui serta dibesarkan NU bahkan di antara mereka justru Pucuk Pimpinan NU dan underbow-nya sehingga sepak terjang mereka sah mewakili NU. NU saat ini sudah jadi sumber kesesatan dengan program ANUS (Aliran Nusantara) nya dan hingga kini terus mempropagandakan kesesatannya.

Saking sesatnya NU, hingga sudah layak NU disebut sebagai AGAMA BARU yang ingin Ambil Islam dan Buang Arab serta ganti dengan Adat Jawa (Kejawen) sehingga apa saja yang dikaitkan denggan Islam tapi dianggap berbau Arab harus dibuang dan diganti dengan Tradisi Kejawen.

Akhirnya, mereka pun kampanye: Cadar ganti dg Konde, Jilbab ganti denggan Kebaya, Sorban ganti dengan Blangkon, Jubah ganti dengan Batik, hingga Tilawatil Quran ubah dengan Lantunan Lagu Jawa, dan sebagainya, masih banyak lagi.

Sejarah Islam pun mereka ubah: Wali Songo yang notabene keturunan Arab bahkan Habaib disebut dari China. Islam datang ke Indonesia dari Arab, mereka sebut datang dari China. Dan tanpa punya rasa malu mereka pun menyatakan bhw tanpa China, maka tidak ada Islam di Indonesia bahkan tdk ada Indonesia.

Ironisnya, di Indonesia yang dulu kerja sama dengan penjajah adalah China dan yang kini jadi Antek Asing pun China serta yang korupsi triliunan rupiah juga China, tapi yang dipuja-puji China, sedang dimusuhi NU justru ARAB.

Lihat saja di Grup-grup WA NU dan Medsos Resmi NU lainnya, tiap saat memuja-muji Ahok dan 9 Naga sambil terus mereka serang HRS dan hujat Anies Baswedan dengan mengarab-arabkannya dan menyebutnya sebagai onta serta istilah hinaan lainnya.

Sungguh ajaib, justru Arab yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, mereka sebut penjajah, sedang China yang nyata-nyata khianati kemerdekaan Indonesia, tapi mereka sebut sebagai pahlawan.

Dan kini, Habaib & Ulama Istiqomah mereka musuhi, lalu para pecinta Habaib dan Ulama Istiqomah mereka sebut kadrun (Kadal Gurun), yaitu istilah yang pernah digunakan PKI untuk menyebut kaum kyai dan Santri di 60-an, karena PKI sangat rasis dan Fasis serta amat anti Arab.

Saat ini peran PKI tersebut secara sadar diambil alih oleh NU karena memang di awal tahun 60-an NU dan PKI pernah punya hubungan sangat intim dan mesra sehingga secara bersama ketika itu memusuhi Partai Islam, terbesar yaitu MASYUMI.

Bahkan NU dan PKI kala itu berkolaborasi mendorong Presiden Soekarno untuk membubarkan MASYUMI dan menangkapi para tokohnya. Anehnya, masih saja ada oknum Habaib dan Kiai yang tidak merasa malu dengan perilaku NU tersebut bahkan merasa aman dan nyaman jadi pengurus NU, atau senang dan bangga mengaku sebagai NU dengan dalih untuk jaga dan perbaiki NU.

Namun faktanya NU semakin hari semakin rusak dan bertambah parah. Mestinya, jika sebuah kendaraan supirnya sudah MABUK, apalagi sudah GILA, maka hanya ada dua pilihan: Ganti Supir atau Ganti Kendaraan. Jika tidak mau Ganti Supir dan tidak mau juga Ganti Kendaraan, siap-siap saja masuk jurang bersama supir dan penumpang lainnya.

Semoga Habaib dan Ulama Istiqomah bersama Umat Islam selalu dilindungi dan diselamatkan Allah SWT dari Kebejatan & Kesesatan NU. Allahumma Innaa Na’uudzu Bika Min Syarri NU.

Mengutip ummatpos.com, Jadilah seperti Muhammadiyah, sebuah refleksi tokoh muda NU. Seorang tokoh muda NU Mustofa Djufri menuliskan makalah dengan judul begini: Belajarlah dari Muhammadiyah

Jadilah seperti Muhammadiyah, mandiri dalam segala bidang. Karenanya, sikap-sikap politik dan kenegaraan mereka pun mandiri. Tidak banyak mudahanah, cari-cari muka, apalagi menjilat penguasa, tidak pernah mengaku paling NKRI.

Tidak mengaku paling Pancasilais, pengakuan mereka tidak diperlukan sebab tindakan mereka lebih dari cukup untuk menjadi bukti. Muhammadiyah selalu bisa diharapkan bahkan saat Revolusi Jilbab di era orde baru, saat siswa-siswa berjilbab begitu didiskriminasikan, sekolah-sekolah Muhammadiyah lah yang menampung mereka.

Kasus Suyono Klaten yang dizholimi densus 88. Muhammadiyah pula yang advokasi. Kasus penistaan agama oleh Ahok, Muhammadiyah pula yang menempuh jalur hukum beserta elemen lainnya. Muhammadiyah pun banyak mengajukan judicial review atas undang-undang yang merugikan rakyat.

Ketika liberalisme agama menyerang pemuda-pemuda dan umat Islam, pemuda-pemuda Muhammadiyah lah yang terang-terangan menolaknya. Berbeda dengan ormas yang dari NU, malahan ikut larut menyatu dengan kemunkaran dengan alasan toleransi dan kebhinekaan yang kebablasan.

Warga Muhammadiyah tak begitu tertarik menjual agama demi uang, sebab perut mereka sudah cukup, mereka mandiri, mereka pun banyak memberi. Bukan seperti ormas dari NU yang menerima hibah tanah hektaran dan bantuan Rp1,5 triliun setelah mampu jadi stempel menyetujui Perppu No.2 Tahun 2017 (Perppu panik) yang menzholimi umat Islam lainnya.

Saya dengar salah satu kisah dari sesepuh kami, gerakan Misionaris di salah satu kampung kewalahan bersaing dengan Muhammadiyah. Bukan seperti ormas sebelahnya malah membiarkan dan membantu kristenisasi dgn alasan toleransi dan kebersamaan.

Mereka memberi beras, Muhammadiyah juga memberi beras, mereka buat TK, Muhammadiyah juga buat TK, mereka bagikan permen, Muhammadiyah pun bagikan permen. Akhirnya, umat lapar itu lebih memilih ngaji ke TK Muhammadiyah, sama2 Islam, sama2 dapat beras.

Saya yakin, semua keberkahan ini berawal dari kata-kata KH. Ahmad Dahlan (pendiri muhammadiyah): “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup dari Muhammadiyah. Salam hormat untuk saudaraku keluarga besar Muhammadiyah. Mari kita belajar dari Muhammadiyah.

*) penulis dari Pesantren Sidogiri Pesantren NU Tertua di Jawa Timur

 

sumber: WAGroup PA Al-Wasliyah P.Brayan (post Senin 4/10/2021/rafiiahmari)