Ketika Kuasa Jadi Nafsu: Logika Kesintingan Trump

Kolase gambar penulis Ady Amar (insert kiri) dengan gambar grafis Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: kbanews

Oleh Ady Amar *)

Semarak.co – Ketika Donald Trump berkata, “Mungkin kita ambil Pulau Kharg, mungkin tidak. Kita punya banyak pilihan,” dan bahkan menyelipkan ancaman untuk “menghancurkan sepenuhnya Pulau Kharg”, dunia tidak sekadar mendengar sebuah pernyataan.

Bacaan Lainnya

Dunia sedang dihadapkan pada sesuatu yang lebih sunyi, namun lebih menggetarkan: cara berpikir yang mulai kehilangan batas. Tidak ada yang benar-benar meledak saat itu. Tidak ada dentuman. Tetapi justru di situlah bahaya bersemayam—ketika ancaman tidak lagi perlu berteriak untuk terasa nyata.

Untuk memahami mengapa Pulau Kharg disebut, kita perlu sejenak menyingkir dari hiruk retorika. Pulau kecil di Teluk Persia itu—yang berada di bawah kedaulatan Iran—bukan sekadar titik di peta. Ia adalah jalur napas bagi Iran, tempat di mana minyak, sebagai urat nadi ekonomi, mengalir keluar menuju dunia.

Trump menyebutnya dalam konteks penguasaan bukanlah kebetulan. Ia adalah pilihan yang sadar, dingin, dan penuh perhitungan. Dan di sanalah maknanya menjadi terang—bahwa yang dipertaruhkan bukan sekadar wilayah. Namun yang tengah disentuh adalah denyut hidup sebuah bangsa.

Menguasainya berarti menekan, bahkan melumpuhkan. Dalam logika seperti ini, kedaulatan tidak lagi dipandang sebagai prinsip, melainkan sebagai hambatan yang bisa dinegosiasikan—atau disingkirkan. Perlahan, tanpa banyak disadari, kita dibawa masuk ke dalam sebuah lanskap yang asing namun mengkhawatirkan.

Sebuah lanskap di mana batas antara strategi dan ancaman mulai kabur. Di mana kekuasaan tidak lagi merasa perlu menyamarkan dirinya. Dan di sanalah dunia seperti sedang diseret masuk ke dalam logika kesintingan Trump. Bukan kesintingan yang gaduh, tetapi yang justru tampak tenang.

Berbicara dengan nada terukur, dengan pilihan kata yang seolah rasional—namun menyimpan sesuatu yang retak di dalamnya. Inilah logika kesintingan kekuasaan: ketika ancaman terhadap kedaulatan bisa diucapkan tanpa beban, ketika penghancuran wilayah dijadikan kemungkinan yang sah, dan ketika hukum internasional perlahan dipinggirkan menjadi sekadar latar.

Sejarah mengajarkan bahwa pergeseran seperti ini jarang terasa di awal. Ia datang tidak sebagai badai, melainkan sebagai angin yang terus-menerus dibiarkan. Kata-kata yang awalnya mengejutkan, lama-lama menjadi biasa.

Dan ketika itu terjadi, dunia tidak lagi membutuhkan perang besar untuk runtuh—ia cukup kehilangan kepekaan terhadap apa yang seharusnya ditolak. Di tengah lanskap yang kian kabur itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa berdiri dalam posisi yang ganjil. Ia ada, tetapi seperti menjauh dari dirinya sendiri.

Ia lahir untuk menjaga perdamaian dunia, tetapi kehilangan taring. Janji-janji tetap terucap, tetapi gema ancaman terdengar lebih nyaring. Dan dunia, sekali lagi, dipaksa bertanya: apakah tatanan global masih benar-benar hidup, atau hanya tersisa sebagai upacara yang diulang tanpa keyakinan?

Lalu kita kembali pada kalimat Trump di awal itu—yang tampak sederhana, hampir ringan, tetapi sesungguhnya memuat sesuatu yang jauh lebih berat. Mungkin kita ambil, mungkin tidak. Seolah yang sedang dibicarakan hanyalah pilihan biasa.

Seolah yang dipertaruhkan bukanlah kedaulatan, bukan kehidupan, bukan masa depan sebuah bangsa. Di situlah letak gentingnya. Ketika sesuatu yang besar diperkecil dalam bahasa, dan sesuatu yang berbahaya diperlunak dalam nada, maka dunia sedang diajak untuk menerima tanpa benar-benar menyadari.

Dan jika itu terus dibiarkan, maka kita tidak sedang berjalan menuju perdamaian. Kita sedang bergerak, perlahan dan hampir tanpa suara, menuju sebuah keadaan di mana kewarasan tidak lagi menjadi pijakan—melainkan sekadar kenangan. **

*) Kolumnis

 

Sumber: kbanews.com, 1 April 2026 8:52 am di WAGroup Politik “AmarMàkrufNahiMungkar” dan Hiburan (Rabu1/4/2026/)

Pos terkait