Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengajak Mojtaba Khamenei untuk gencatan senjata, ditolak mentah-mentah. Upaya diplomatik terbaru untuk meredakan konflik di Timur Tengah kembali deadlock setelah Iran dilaporkan menolak proposal gencatan senjata selama 48 jam yang diajukan AS.
Semarak.co – Penolakan pemerintah Republik Islam Iran oleh ajakan Donald Trump tersebut muncul di tengah meningkatnya intensitas serangan militer dan memburuknya situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan kantor berita semi-resmi Fars News Agency seperti dilansir CnbcIndonesia.com dan Kantor Berita Inggris Reuters pada Jumat (3/4/2026), proposal tersebut disampaikan kepada Teheran melalui sebuah negara yang disebut sebagai “bersahabat” pada hari Kamis.
Media tersebut mengutip sumber yang mengetahui proses tersebut. Sumber itu menambahkan, Washington meningkatkan upaya diplomatik untuk mengamankan gencatan senjata, terutama setelah serangan Iran menargetkan “depot pasukan militer” AS di Pulau Bubiyan, Pulau Bubiyan yang berada di wilayah Kuwait.
Menurut laporan Fars, penilaian yang beredar menyebut proposal tersebut diajukan setelah krisis di kawasan meningkat dan muncul “masalah serius” bagi pasukan AS akibat “kesalahan perhitungan” Washington terhadap kemampuan (persenjataan) militer Iran.
Laporan itu juga menyebut, respons Iran terhadap tawaran itu tidak diberikan secara tertulis, melainkan melalui kelanjutan serangan di medan tempur. Perang yang meningkat ini bermula pada 28 Februari, ketika Israel-AS melancarkan serangan bersama ke Teheran dan sejumlah kota lain di Iran.
Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil. Sebagai balasan, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset AS di berbagai wilayah Timteng, memperluas konflik dan meningkatkan risiko eskalasi di kawasan. (net/cic/fna/rts/kim/smr)






