Republik Iran dilaporkan tengah menerapkan skema baru: tinggalkan mata uang dolar Amerika Serikat; tarif Selat Hormuz dan percepatan dedolarisasi global. Skema “tarif lintasan” di Selat Hormuz yang dimaksud, dengan pembayaran menggunakan Yuan atau mata uang Kripto, bukan dolar AS.
Semarak.co – Bagaimana sistem ini disebut dapat bekerja? Operator kapal harus berkoordinasi dengan perantara yang terhubung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Data kapal — termasuk kepemilikan, bendera, muatan, tujuan, kru dan sistem identifikasi (AIS) — dilaporkan untuk verifikasi.
Informasi diteruskan ke komando angkatan laut IRGC di Hormozgan untuk pemeriksaan latar belakang. Kapal yang tidak terkait dengan negara yang dianggap musuh akan mendapat izin melintas. Setelah membayar, kapal menerima rute serta kode khusus untuk mendapatkan pengawalan di selat.
Tarif disebut bervariasi berdasarkan tingkat hubungan politik suatu negara dengan Iran, dengan biaya mulai sekitar 1 dolar AS (±Rp16.000) per barel minyak.
Untuk kapal tanker besar berkapasitas sekitar 2 juta barel, biaya bisa mencapai sekitar 2 juta dolar AS (±Rp32 miliar).
Penggunaan mata uang Yuan ini akan berimplikasi terhadap sistem keuangan global. Penggunaan yuan dinilai menguntungkan karena China merupakan pembeli utama minyak Iran, sekaligus membantu Teheran menghindari sanksi AS. Demikian dilansir Sputnik Indonesia (3/4/2026).
Skema ini berpotensi memperkuat sistem keuangan alternatif di luar dominasi dolar AS. Rusia sebelumnya juga menempuh langkah serupa pasca-sanksi 2022, dengan meningkatkan transaksi energi dalam yuan, rubel dan mata uang nasional lainnya.
Sistem pembayaran lintas batas China, CIPS, disebut menjadi alternatif terhadap jaringan SWIFT. Tren ini menunjukkan bahwa dedolarisasi di pasar energi global tidak lagi sekadar wacana, melainkan mulai terjadi dalam praktik. (net/si/kim/smr)






