Iran Makin Terancam, AS Kirim Kapal Perang Delbert D Black Gabung Kapal Induk Abraham Lincoln

Amerika Serikat diberitakan sejumlah media Eropa dan Timur Tengah, sedang mengirim kapal perang Delbert D Black untuk bergabung dengan Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln sebagai persiapan untuk menyerang Iran.

Semarak.co – Kapal perang USS Delbert D. Black (DDG-119) Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) telah dikirim dalam rangka bergabung dengan kekuatan Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln di Timur Tengah.

Penambahan kekuatan tempur armada militer Washington ini membuat negara Persia tersebut semakin terancam. Seorang pejabat Angkatan Laut mengonfirmasi, kapal perusak tersebut sudah memasuki Laut Merah minggu ini.

Fleet Tracker USNI News dilansir Sindonews.com dari Tasnim News dan Reuters (30/1/2026), mencatat Delbert D. Black berada di Laut Mediterania pada hari Senin, setelah berangkat pada 9 Januari dari Pangkalan Angkatan Laut Norfolk, Virginia.

Dengan kedatangan Delbert D. Black, AS kini memiliki setidaknya 10 kapal di Komando Pusat (CENTCOM) AS. Pada hari Selasa, Presiden Donald Trump mem-posting di Truth Social bahwa sebuah “armada besar” sedang menuju Iran.

Dia mengklaim, armada tersebut lebih besar daripada armada yang dikirim AS ke Venezuela. “Sebuah armada besar sedang menuju Iran. Armada ini bergerak cepat, dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan yang besar,” bunyi postingan Donald Trump.

“Ini adalah armada yang lebih besar, dipimpin oleh Kapal Induk Abraham Lincoln yang hebat, daripada yang dikirim ke Venezuela. Seperti halnya dengan Venezuela, armada ini siap, bersedia, dan mampu untuk segera memenuhi misinya dengan kecepatan dan kekerasan, jika perlu.”

Kapal perang Angkatan Laut yang beroperasi di Timur Tengah termasuk Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln, yang saat ini berada di Laut Arab. Gugus tempur tersebut terdiri dari kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) dan tiga kapal perusak; USS Frank E. Petersen Jr. (DDG-121).

Lalu, USS Michael Murphy (DDG-112) dan USS Spruance (DDG-111). USS Abraham Lincoln diam-diam dikerahkan dari San Diego (November 2025), kurang dari setahun setelah kembali dari penugasan terakhirnya, yang juga membuat kapal induk menghabiskan waktu di Timur Tengah.

Gugus tempur kapal induk itu awalnya berangkat ke Pasifik Barat sebelum diperintahkan pada Januari ke Timur Tengah. Terdapat tiga Kapal Tempur Pesisir (Littoral Combat Ship) — USS Canberra (LCS-30), USS Tulsa (LCS-16), dan USS Santa Barbara (LCS-32) — di Teluk Persia.

Mereka bergabung dengan kapal perusak dengan tipe mutakhir,USS Mitscher (DDG-57) dan USS McFaul (DDG-74). Di luar Timur Tengah, AS juga memiliki satu kapal perusak –USS Roosevelt (DDG-80) — di Laut Mediterania.

Peningkatan jumlah kapal Angkatan Laut AS di Timur Tengah terjadi ketika Iran sedang di ambang perang dengan Amerika. Kepala Pentagon Pete Hegseth mengatakan militer AS sudah siap untuk melaksanakan apa pun yang diputuskan Presiden Donald Trump, termasuk menyerang Iran.

Opsi menyerang Iran itu untuk memastikan bahwa Teheran tidak memiliki kemampuan untuk membuat senjata nuklir. Kesiapan militer AS itu disampaikan Hegseth dalam laporannya kepada Presiden Trump dalam rapat kabinet.

“Mereka seharusnya tidak mengejar kemampuan nuklir. Kami akan siap untuk memenuhi apa pun yang diharapkan presiden dari Departemen Perang,” kata Hegseth, merujuk pada perubahan nama tidak resmi Departemen Pertahanan oleh pemerintahan Trump, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (30/1/2026).

Para pejabat AS mengatakan Trump sedang meninjau opsi-opsinya tetapi belum memutuskan apakah akan menyerang Iran. Ketegangan AS-Iran meningkat tajam setelah penindakan keras terhadap protes di seluruh Iran oleh otoritas setempat dalam beberapa pekan terakhir.

Trump telah berulang kali mengancam akan campur tangan jika Iran terus membunuh para demonstran, tetapi demonstrasi di seluruh negeri atas kesulitan ekonomi dan penindasan politik tersebut telah mereda.

Dia mengatakan Amerika Serikat akan bertindak jika Teheran melanjutkan program nuklirnya setelah serangan udara pada bulan Juni 2025 oleh pasukan Israel dan Paman Sam terhadap instalasi nuklir utama negara Persia itu.

Sementara itu, di Iran, sebanyak 1.000 UAV atau drone baru telah diterima oleh berbagai cabang Angkatan Darat. “Sesuai dengan ancaman yang ada, Angkatan Darat mempertahankan dan meningkatkan keunggulan strategisnya,” kata Panglima Angkatan Darat Brigadir Jenderal Amir Hatami

“Untuk pertempuran cepat memberikan respons yang menghancurkan terhadap setiap agresor,” ujar Panglima sebagaimana dikutip dari Tasnim News. Laporan Tasnim News menyatakan bahwa penambahan drone baru ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan operasional keempat cabang Angkatan Darat Iran.

Disebutkan pula bahwa drone-drone tersebut dikembangkan oleh spesialis Angkatan Darat bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan. “Berdasarkan ancaman yang muncul dan pelajaran yang dipetik dari perang 12 hari yang diberlakukan pada Juni 2025,” lanjut laporan tersebut.

“UAV telah dirancang dalam kategori destruktif, ofensif, pengintaian, dan peperangan elektronik, dengan kemampuan untuk menargetkan sasaran tetap dan bergerak tertentu di seluruh wilayah darat, laut, dan udara,” imbuh laporan Tasnim News.

Juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, memeringatkan bahwa respons Teheran terhadap tindakan AS apa pun tidak akan terbatas — seperti pada Juni tahun lalu ketika pesawat dan rudal Amerika sempat bergabung dalam perang udara singkat Israel melawan Iran.

Tetapi akan menjadi respons yang tegas “yang diberikan secara instan.” “Kapal induk AS memiliki kerentanan serius dan bahwa banyak pangkalan Amerika di wilayah Teluk berada dalam jangkauan rudal jarak menengah kami,” ujarnya, yang disiarkan televisi pemerintah.

“Jika kesalahan perhitungan seperti itu dilakukan oleh Amerika, itu tentu tidak akan terjadi seperti yang dibayangkan Trump—melakukan operasi cepat dan kemudian, dua jam kemudian, mencuit bahwa operasi telah selesai,” katanya. (net/sdc/tn/rts/kim/smr)

Pos terkait